Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

4 Hal yang Perlu Kalian Ketahui Sebelum Bercita-cita Menjadi Dosen (dan Menyesal)

Indah Sari Rahmaini oleh Indah Sari Rahmaini
17 Desember 2025
A A
Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah

Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi dosen merupakan cita-cita saya sejak masa ospek. Entah mengapa, melihat para dosen berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa saat memperkenalkan diri membuat saya terkesan. Saat itu, saya masih mengenakan atribut cupu ala mahasiswa baru, tapi sejak detik itu pula saya bertekad: suatu hari nanti, saya ingin menjadi dosen.

Waktu berlalu. Studi S1 saya selesaikan singkat, lalu dilanjutkan S2 dengan gerak cepat berbekal beasiswa. Semua itu saya lakukan demi satu tujuan: segera menjadi Mbak Dosen. Saat itu usia saya baru 24 tahun—masih cukup imut untuk mengajar bocil-bocil Gen Z. Namun, pada tahun pertama resmi menyandang status dosen, saya langsung dihadapkan pada berbagai realitas yang jarang sekali dibicarakan orang tentang dunia perdosenan.

Terjebak di kampus kecil dengan gaji yang sangat imut

Jika kamu menjadi dosen di kampus kecil, terlebih lagi di luar Pulau Jawa, bersiaplah untuk hidup sepenuhnya mengabdi pada kampus. Kondisi akan terasa lebih sadis jika kampus tersebut merupakan kampus swasta kecil. Tidak jarang ijazah ditahan atas nama kepentingan akreditasi, homebase sudah permanen, dan kesempatan untuk keluar mencari peruntungan lain nyaris tertutup.

Lowongan dosen yang terbatas membuat banyak orang bertahan bukan karena nyaman, melainkan karena tidak ada pilihan lain. Jika kesempatan sudah di depan mata dan tidak diambil, entah kapan lagi kesempatan serupa datang. Apalagi bagi lulusan S2, pilihan karier di luar dosen sering kali tidak ramah dengan ijazah yang dimiliki.

Saya menemui banyak rekan yang akhirnya terjebak di kampus swasta kecil akibat kontrak-kontrak yang tidak masuk akal dan jelas mengganggu well-being. Bahkan, ada yang harus membayar penalti besar jika nekat mengundurkan diri. Jangankan menabung, yang ada malah boncos.

Obrolan dengan dosen senior pun membuka mata kami lebih lebar. Jika dikorelasikan dengan harga emas per gram, gaji dosen hari ini bahkan tidak cukup untuk membeli satu gram emas, jika dibandingkan dengan gaji dosen sepuluh tahun lalu. Inflasi berjalan, tetapi kenaikan gaji tidak pernah benar-benar menyusul. Bayangan hidup mapan sebagai dosen pun runtuh yang ternyata hanyalah utopia. Kini, standar hidup kami sederhana saja: yang penting tidak punya utang!

Dosen hanya mengajar adalah mitos

Ketahuilah, wahai calon dosen. Mengajar hanyalah sekitar satu persen dari keseluruhan tugas dosen. Sembilan puluh sembilan persen sisanya adalah pekerjaan-pekerjaan tak terduga yang datang silih berganti.

Dulu, saya juga sempat menganggap meme dosen seperti Doctor Strange yang punya banyak tangan untuk mengerjakan pekerjaan dosen hanyalah hiperbola. Nyatanya, saya mengalaminya sendiri. Akreditasi, Audit Mutu Internal, panitia dies natalis, lustrum, purnabakti, hibah universitas, hingga menjadi asisten riset profesor; semuanya datang bersamaan. Itu belum termasuk kewajiban penelitian dan pengabdian masyarakat yang entah kapan sempat dikerjakan.

Baca Juga:

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Sebelum menjadi dosen, menulis artikel ilmiah populer adalah ritual mingguan saya. Kini, tulisan pergibahan duniawi ini terasa seperti artikel pertama sekaligus terakhir setelah satu tahun hiatus, akibat ‘terpaksa’ ditunjuk sebagai Sekretaris Departemen.

Banyak duit? Tidak. Tipes? Iya.

Dosen muda sering disangka mahasiswa

Memasuki tahun keempat menjadi dosen, diusir dari parkiran karyawan sudah menjadi rutinitas. Menjelaskan bahwa saya bukan mahasiswa dan bukan pula dosen yang ‘muda-muda amat’ setidaknya terjadi dua kali seminggu.

Pengalaman lain yang tak kalah absurd adalah digodain mahasiswa tingkat akhir, padahal saya sedang membawa map merah berisi presensi. Mengunggah foto selepas kelas pun tak luput dari komentar teman media sosial: “Dosennya yang mana, ya?” Sebuah lelucon yang awalnya lucu, tapi lama-lama bikin muak.

Meski begitu, semua ini masih bisa dinikmati. Anggap saja hiburan bagi kakak-kakak milenial yang pinggangnya sudah sering encok karena usia mulai merangkak ke arah senja.

Menulis artikel jurnal ternyata harus bayar

Sebagai dosen PNS golongan 3B dengan jabatan Asisten Ahli, saya cukup terkejut saat menyadari bahwa menulis artikel di jurnal tidak selalu gratis. Sisa gaji di akhir bulan sering kali tidak cukup untuk membayar APC jurnal bereputasi.

Jika beruntung, kita bisa lolos hibah penelitian dan biaya publikasi pun tertutupi. Jika tidak, bersiaplah merogoh kocek hingga 80% dari gaji pokok demi satu artikel. Opsi publikasi gratis kini umumnya hanya tersedia di jurnal non-akreditasi yang tentu saja tidak diakui untuk kredit BKD.

Terlepas dari semua realita pahit tersebut, saya tetap menikmati menjadi dosen. Ada kepuasan tersendiri dalam berbagi ilmu, menulis, membaca, dan terus belajar tanpa henti meski gaji yang diterima jauh dari sepadan dengan effort yang dikeluarkan.

Pekerjaan ini mungkin cocok bagi saya sebagai seorang istri bekerja, di mana kebutuhan rumah tangga sepenuhnya dipenuhi suami. Gaji dosen—yang mungil ini—bisa disimpan sebagai dana darurat atau self-reward. Sulit membayangkan jika dosen muda dengan jabatan rendah dan tanpa pekerjaan sampingan harus menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama.

Kini, semakin banyak serikat dosen yang mulai mengangkat isu kesejahteraan hingga ke pusat. Semoga kebijakan ke depan menjadi lebih berpihak dan benar-benar memperhatikan nasib penyandang profesi ini.

Semangat, doseners!

Penulis: Indah Sari Rahmaini
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Berambisi Jadi Dosen biar Terpandang dan Gaji Sejahtera, Pas Keturutan Malah Hidup Nelangsa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: cara menjadi dosenDosengaji dosenlingkup kerja dosen
Indah Sari Rahmaini

Indah Sari Rahmaini

Uni-uni dosen yang lagi S3. Menaruh perhatian akan isu anak muda dan masyarakat digital.

ArtikelTerkait

Universitas Trunojoyo Madura Banyak Mahasiswa Abadi Gara-Gara Dosen Sering Ngilang Mojok.co

Universitas Trunojoyo Madura Banyak Mahasiswa Abadi Gara-Gara Dosen Sering Ngilang

12 Oktober 2024
Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

18 Juni 2025
Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

23 Februari 2025
Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Akademik dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Ilmiah dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

17 November 2025
Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

20 November 2025
Alih-alih Mengharuskan PPG, Bukankah Lebih Baik Meningkatkan Kualitas Mahasiswa yang Jadi Calon Guru Sejak Mereka Kuliah S1?

Derita Mahasiswa PPG: Tugas Kebanyakan, Wajib Publikasi Jurnal, Dosen Cuma Nitip Nama

18 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang mencapai jutaan rupiah Mojok.co

Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang bisa mencapai jutaan rupiah

30 Juli 2026
Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

30 Juli 2026
Tempe mendol yang endul gusur bakso Malang dari hati saya (Wikimedia Commons)

Bakso Malang minggir dulu, status makanan khas Malang mending kasihin ke tempe mendol yang endul itu

26 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.