Kebumen adalah sebuah kecamatan sekaligus ibu kota kabupaten yang susah dipahami. Khususnya oleh para perantau yang baru kali pertama datang dan sedang beradaptasi.
Sebagai warga asli Kebumen, saya sering mendengar pengakuan dari teman-teman yang sedang kuliah, kerja, atau sekadar tinggal sementara. Awalnya mereka mengira kecamatan ini cuma kota kecil yang tenang dan “biasa aja”.
Namun, setelah beberapa minggu, mereka mulai sadar. Hidup di Kebumen bisa berisi kebingungan. Mulai dari cara orang ngobrol, ritme hidup, sampai kebiasaan sehari-hari yang buat warga lokal terasa normal, tapi buat orang luar malah terasa seperti masuk semesta alternatif.
BACA JUGA: Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri
Orang kebumen bisa sangat ramah, tapi malah bikin pendatang canggung
Hal pertama yang biasanya bikin orang luar kaget adalah keramahan orang Kebumen. Tapi ini bukan ramah ala kota besar yang penuh basa-basi profesional. Kami ramah dengan cara yang kadang terlalu polos untuk ukuran pendatang.
Baru beberapa kali ketemu, tiba-tiba sudah ditanya:
“Rumahnya mana?”, “Orang tuanya kerja apa?”, “Belum nikah?”, “Betah nggak di Kebumen?”
Buat warga lokal, itu bentuk perhatian. Tapi buat pendatang, bisa saja itu terlalu jauh ingin tahu.
Yang lebih mengejutkan lagi, orang Kebumen gampang banget ngajak ngobrol orang asing. Naik angkot bisa diajak ngobrol. Beli gorengan, bisa ditanyai asal daerah. Bahkan tukang parkir pun kadang bisa tahu kita anak rantau hanya dari logat bicara.
Baca halaman selanjutnya: Memang membingungkan, apalagi buat pendatang luar Jawa.













