Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
26 Juli 2026
A A
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ditanya pusat Kota Yogyakarta, hampir semua orang akan menjawab Malioboro atau Titik Nol Kilometer. Kalau ditanya pusat Gunungkidul, Bantul, atau Kulon Progo, jawabannya juga relatif mudah. Namun, coba tanyakan di mana pusat Sleman. Jawabannya hampir pasti berbeda-beda.

Ada yang akan menunjuk Jalan Kaliurang karena dipenuhi kampus dan kafe. Ada yang merasa pusatnya ada di Condongcatur karena aktivitas ekonomi tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagian lain memilih Gamping yang menjadi pintu masuk dari arah barat. Ada juga yang menyebut Denggung karena di sana berdiri kantor pemerintahan Kabupaten Sleman. Tidak ada jawaban yang benar-benar salah.

ADVERTISEMENT

Itulah keunikan Sleman. Kabupaten ini tumbuh tanpa bergantung pada satu pusat kota. Kalau diperhatikan, kehidupan di Sleman tidak pernah terkonsentrasi di satu titik. Kawasan pendidikan berkembang di Pogung, Karangmalang, Babarsari, Seturan, hingga Jalan Kaliurang.

Pusat kuliner menyebar ke Gejayan, Seturan, Godean, dan Gamping. Kawasan perdagangan hidup di Condongcatur, Maguwoharjo, hingga Jalan Magelang. Sementara pusat pemerintahan berada di Denggung. Semuanya berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung.

Akibatnya, orang yang tinggal di Gamping belum tentu punya alasan pergi ke Denggung dalam satu bulan. Mahasiswa yang ngekos di Seturan bisa saja lulus kuliah tanpa pernah benar-benar mengenal kawasan Tempel. Warga Ngaglik pun bisa memenuhi hampir semua kebutuhan sehari-harinya tanpa harus mendekati kantor bupati.

Sleman memang beda

Fenomena seperti ini jarang ditemukan di kabupaten lain di DIY. Di Bantul, banyak aktivitas masih mengarah ke pusat kabupaten. Di Kulon Progo maupun Gunungkidul, pusat kota tetap menjadi titik berkumpul masyarakat. Sementara Sleman justru berkembang seperti kumpulan kota-kota kecil yang hidup berdampingan.

Model pertumbuhan seperti ini membuat kemacetan, investasi, hingga pembangunan ikut menyebar. Ketika Seturan penuh, orang membuka usaha di Gamping. Ketika Gejayan mulai padat, kafe bermunculan di Jalan Kaliurang. Dan ketika harga tanah Condongcatur melambung, pengembang bergeser ke Mlati atau Ngaglik. Sleman terus tumbuh tanpa harus memindahkan semua aktivitas ke satu kawasan.

Hal itu juga dipengaruhi keberadaan kampus. Kehadiran UGM, UNY, UPN Veteran Yogyakarta, UII, UAJY Kampus Babarsari, dan berbagai perguruan tinggi lain menciptakan kantong-kantong ekonomi baru. Mahasiswa tidak hanya datang ke satu lokasi. Mereka menyebar, lalu menciptakan permintaan akan kos, warung makan, laundry, fotokopi, hingga kafe di berbagai penjuru Sleman.

Baca Juga:

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Belum lagi keberadaan Ring Road, Jalan Magelang, Jalan Kaliurang, Jalan Solo, dan berbagai jalan provinsi yang membentuk jaringan pergerakan. Orang tidak perlu masuk ke satu pusat kota untuk memenuhi kebutuhannya. Hampir setiap kawasan sudah memiliki pusat aktivitas sendiri.

Menguntungkan secara ekonomi

Dari sisi ekonomi, kondisi ini menguntungkan. Pertumbuhan tidak hanya dinikmati satu wilayah. Banyak kecamatan ikut berkembang karena memiliki perannya masing-masing. Depok menjadi kawasan pendidikan dan bisnis. Gamping berkembang sebagai kawasan permukiman sekaligus jasa. Ngaglik dipenuhi perumahan baru. Mlati menjadi penyangga aktivitas kota. Kalasan tumbuh bersama kawasan industri dan bandara.

Namun, pertumbuhan yang menyebar juga membawa konsekuensi. Kemacetan tidak lagi terjadi di satu titik, melainkan di banyak kawasan sekaligus. Ruang terbuka hijau terus terdesak karena pembangunan muncul di berbagai tempat. Sawah perlahan berubah menjadi ruko, kos-kosan, atau perumahan. Pemerintah juga menghadapi tantangan yang lebih rumit karena harus mengelola banyak pusat aktivitas dalam waktu bersamaan.

Meski begitu, justru di situlah identitas Sleman terbentuk. Kabupaten ini tidak pernah menjadi kota dengan satu jantung yang memompa seluruh aktivitas. Sleman bekerja seperti tubuh yang memiliki banyak organ vital. Jika satu kawasan sedang padat, kawasan lain tetap hidup. Jika satu wilayah melambat, wilayah lain masih bergerak.

ADVERTISEMENT

Mungkin karena itulah banyak pendatang merasa Sleman begitu luas sekaligus membingungkan. Mereka terus mencari “pusat kota” yang sebenarnya memang tidak pernah ada. Sebab kekuatan terbesar Sleman bukan terletak pada satu kawasan yang paling ramai. Kekuatannya justru lahir dari banyak pusat kehidupan yang tumbuh bersamaan, saling menopang, lalu membuat kabupaten ini terus bergerak tanpa harus bergantung pada satu titik.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Membayangkan Betapa Menderitanya Jogja Jika Sleman Menghilang Pergi, Inilah 5 Hal yang akan Terjadi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2026 oleh

Tags: DI YogyakartaKabupaten Slemanpusat kota slemanSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

17 November 2023
Jalan Turi Sleman, Jalur Alternatif Menuju Kaliurang yang Kurang Dilirik padahal Masih Asri

Jalan Turi Sleman, Jalur Alternatif Menuju Kaliurang yang Kurang Dilirik padahal Masih Asri

25 Agustus 2024
Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

9 April 2023
Jalan Tambak-Bendo Jogja, Jalan Kecil Penghubung Jogja, Bantul, Sleman yang Bikin Kapok Mojok.co

Jalan Tambak-Bendo Jogja, Jalan Kecil Penghubung Jogja, Bantul, Sleman yang Bikin Kapok

3 Februari 2024
9 Tempat Takjil di Sleman biar Ngabuburitmu Lebih Berwarna

9 Tempat Takjil di Sleman biar Ngabuburitmu Lebih Berwarna

19 April 2022
5 Swalayan di Sleman yang Nyaman untuk Tempat Belanja terminal mojok.co

5 Swalayan di Sleman yang Nyaman untuk Tempat Belanja

13 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Nasib Sidoarjo: Ketika Ibu Kotanya Kalah Tenar Dibanding Kecamatan Krian, Pusat Pemerintahan Kalah Telak Sama Pasar Tradisional

Nasib Sidoarjo: ketika ibu kotanya kalah tenar dibanding Kecamatan Krian, pusat pemerintahan kalah telak sama pasar tradisional

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.