Kalau kamu pernah naik kereta dari Jakarta ke Jogja, ada momen di mana kondektur mengabarkan kereta sudah sampai Kebumen. Namun, hampir tidak ada penumpang yang bergerak.
Seakan-akan, penumpang melewatkan Kebumen seperti koma dalam kalimat panjang. Padahal, kalau mau jujur, Kebumen adalah salah satu kabupaten paling “lengkap” di Jawa Tengah.
Namun memang, di mata saya, kelengkapan itu justru menjadi masalah tersendiri. Mau gimana, terlalu banyak hal bagus untuk saya rangkum. Nah, izinkan saya berusaha merangkum supaya pembaca tahu bahwa kabupaten ini cantiknya keterlaluan.
BACA JUGA: 7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal
#1 Kebumen punya segalanya, tapi tidak punya satu hal yang cukup “receh” untuk dibicarakan
Coba pikir. Kalau saya menyebut Purwokerto, lawan bicara saya langsung akan membayangkan mendoan atau sroto. Kalau Magelang, teman saya ingat Borobudur. Tapi kalau Kebumen? Kawan saya manggut-manggut sambil berpikir keras.
“Oh iya, yang pantainya bagus itu ya?” Benar, tapi tidak cukup.
Kebumen punya Geopark Karangsambung-Karangbolong yang luasnya sekitar 543 kilometer persegi dan mencakup 117 desa di 12 kecamatan. Kawasan ini juga sudah mendapat pengakuan sebagai Geopark Nasional, bahkan pada 2024 meraih predikat Geopark Nasional Terbaik dalam ajang ABBWI.
Ini bukan sekadar kumpulan batuan cantik untuk latar foto. Karangsambung adalah salah satu tempat paling penting di Jawa untuk membaca sejarah geologi, karena di sini tersingkap batuan tua yang merekam proses panjang pembentukan Pulau Jawa.
Kalau kamu mau belajar sejarah bumi secara langsung, nah tempat ini bakal cocok. Sayangnya, belum banyak orang yang benar-benar tahu. Kurang promosi banget.
#2 Pantainya banyak, dan semuanya belum diobrak-abrik komersialisasi
Di selatan Kebumen, ada deretan pantai yang membentang dari timur ke barat. Misalnya seperti Pantai Rowo, Pantai Petanahan, Pantai Suwuk, Pantai Karangbolong, Pantai Menganti, sampai Pantai Logending di kawasan Ayah.
Setiap pantai punya karakternya sendiri. Karangbolong, punya tebing karang dengan lubang di tengahnya, seperti sebuah pintu bagi ombak Samudra Hindia. Kalau Pantai Menganti, punya bukit hijau yang menjorok ke laut, dengan pemandangan yang kalau ada di Eropa mungkin sudah sering masuk majalah perjalanan.
Tapi, Kebumen tidak ada di sampul “National Geographic”. Kebumen ada di papan petunjuk jalan yang kadang orang lewati tanpa sempat menoleh.
Bukan berarti tidak ada wisatawan yang datang. Pada 2025, kunjungan wisata ke tetap tinggi. Bahkan, pada periode Januari sampai Agustus 2025, wisatawan lokal yang melewati Kebumen mencapai 2,77 juta perjalanan.
Tapi, mari kita membandingkannya dengan gegap gempita promosi daerah lain. Kebumen tetap terasa tenang dalam menjalani hidupnya. Tenang, sampai kadang terkesan tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri.
#3 Kabupaten kreatif yang banyak yang tidak tahu
Pada 2022, pemerintah menetapkan Kebumen sebagai Kabupaten Kreatif Indonesia di bidang film, animasi, dan video. Ini bukan gelar kosong. Komunitas kreatif anak muda dan gerakan lokal memang tumbuh secara serius.
Tapi, coba tanya pada teman-temanmu. Apakah ada yang tahu? Hampir pasti tidak.
Sementara itu, daerah lain yang punya satu event tahunan sudah cukup untuk masuk berita nasional. Kebumen mendapat gelar kreatif resmi dari pemerintah, dan itu terasa seperti pohon yang jatuh di hutan tanpa ada yang mendengarnya.
Ini bukan salah Kebumen sepenuhnya, tapi masalah narasi. Kabupaten ini tidak punya satu cerita tunggal yang mudah dijual. Tidak ada satu ikon yang langsung “klik” di kepala orang.
Yang ada justru terlalu banyak geopark, pantai, goa, curug atau air terjun, batik, sarang burung walet, lanting sebagai camilan khas, gula kelapa, dan jenitri yang diekspor sampai ke India. Kebumen itu seperti orang yang terlalu berwawasan untuk dijelaskan dalam satu kalimat perkenalan.
BACA JUGA: Kebumen Layak Jadi Ibu Kota Provinsi, asalkan Memperbaiki Beberapa Hal yang Bikin Tercoreng Citranya
#4 Masalahnya bukan Kebumen kurang menarik
Daerah yang berhasil dikenal luas biasanya punya promosi yang cukup berani, lebih dramatis, dan sering muncul di ruang publik. Kebumen tidak selalu memilih cara itu.
Warganya ramah, tanahnya subur, pantainya indah, dan geologinya istimewa. Namun, menurut saya, promosinya masih sangat kurang dan terlalu datar.
Tidak ada yang salah dengan strategi itu. Namum, hasilnya, Kebumen gagal masuk ke dalam percakapan nasional.
Ada yang melihatnya sebagai kabupaten yang kalah populer, hanya karena tidak punya mall besar atau gedung pencakar langit. Seolah ukuran kemajuan daerah cuma soal seberapa padat betonnya.
Kebumen lebih sering tertinggal dalam hal yang kemampuan untuk menjual dirinya sendiri. Mungkin sudah waktunya kita bicara lebih keras, sebelum pantai-pantainya yang masih tenang itu semakin ramai, dan kita menyesal datang terlambat untuk menikmatinya dalam suasana yang pelan, cantik, dan tanpa ribut.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















