Ngapak yang awalnya dikira marah
Banyak perantau kaget ketika kali pertama ngobrol dengan orang asli Kebumen ngobrol. Bukan karena kasar, tapi karena nadanya terdengar “tegas” bagi telinga mereka. Padahal kami lagi ngobrol santai.
“Piwe, wis mangan durung?”, “Ngapa kaya kuwe?”, “Lha ya kepriwe maning?”
Buat yang belum terbiasa, logat ngapak sering terdengar seperti orang sedang debat. Apalagi kalau yang ngomong emak-emak pasar atau bapak-bapak tongkrongan. Volume suara tinggi sedikit saja sudah terasa seperti mau ngajak ribut. Padahal ya memang cara bicaranya begitu.
Lucunya, banyak perantau yang awalnya takut atau bingung mendengar logat ngapak, tapi beberapa bulan kemudian malah ketularan. Awalnya cuma bilang “enyong” buat bercanda, lama-lama keceplosan ngomong “ora” dan “kowe” saat telepon dengan teman dari kota asal.
Selepas pukul 9 malam, Kebumen kayak toko mau tutup
Ini mungkin salah satu shock terbesar bagi anak rantau dari kota besar kalau Kebumen malam hari itu sunyi. Kalau terbiasa hidup di kota yang pukul 11 malam masih ramai, pindah ke Kebumen bisa terasa seperti sedang menjalani program detoks sosial.
Pukul 9 malam, banyak jalan mulai sepi. Masuk pukul 10 malam, beberapa warung sudah tutup. Lewat tengah malam? Selamat menikmati suara jangkrik.
Awalnya banyak teman saya mengeluh. Tapi, semakin lama tinggal di sini, mereka mulai sadar bahwa hidup yang tidak terlalu bising ternyata menenangkan juga. Kebumen seperti kota yang diam-diam mengajarkan orang untuk melambat tanpa ceramah motivasi.
Orang Kebumen nggak suka tergesa-gesa
Pendatang sering heran melihat ritme hidup orang Kebumen yang santai. Semuanya terasa lebih lambat dibanding kota besar. Buat teman saya dari Jakarta atau Surabaya, Kebumen kadang terasa seperti error system.
Pernah ada teman rantau yang kesal karena tkukang fotokopi malah ngobrol dulu sebelum mengerjakan pesanannya. Tapi, beberapa bulan kemudian, dia sendiri berubah jadi lebih sabar dan tidak gampang panik. Karena di Kebumen, orang memang tidak terlalu terobsesi terlihat sibuk.
Aneh memang. Di kota besar, sibuk sering dianggap prestasi. Sementara di sini, hidup tenang justru terasa lebih manusiawi.
Makanan di Kebumen memang murah, tapi porsinya nggak masuk akal
Banyak perantau datang dengan ekspektasi standar harga makanan. Lalu mereka kaget sendiri ketika sadar uang Rp10 ribu masih bisa bikin kenyang. Dan bukan kenyang tipis-tipis, tapi kenyang yang bikin ngantuk.
Soto, pecel, mie ayam, sampai nasi rames di Kebumen sering punya porsi yang absurd untuk ukuran harga sekarang. Belum lagi gorengan yang kadang masih seribuan dan es teh yang ukurannya seperti buat satu keluarga.
Anak rantau biasanya mengalami fase denial. Tapi jangan salah. Justru karena murah, banyak perantau akhirnya jadi lebih boros. Awalnya hemat, ujung-ujungnya tiap sore beli mendoan, malam nongkrong angkringan, besoknya repeat lagi.
Kebumen bukan tipe kota yang langsung membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia lebih seperti teman pendiam yang baru terasa berarti setelah lama bersama. Dan banyak perantau awalnya bingung, sebelum akhirnya betah.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 6 Mitos di Kebumen yang Bisa Membuat Bulu Kuduk Merinding Setelah Mendengarnya Secara Langsung
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













