Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Politik yang Sudah Terlanjur Dipercaya

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
13 November 2025
A A
4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Politik yang Sudah Terlanjur Dipercaya Mojok.co

4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Politik yang Sudah Terlanjur Dipercaya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saat ada pengumuman kelulusan dan saya diterima di Jurusan Ilmu Politik di salah satu PTN di Semarang, beberapa pertanyaan langsung berdatangan menodong telinga saya. “Nanti mau jadi anggota DPR, ya?” atau “Wah, jalan pintas jadi PNS, nih?” 

Awalnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang terdengar wajar. Bahkan, sering dianggap lelucon ringan. Tapi, lama-lama, saya sadar bahwa anggapan itu muncul justru karena masih banyak orang belum benar-benar paham apa yang sebenarnya dipelajari di Jurusan Ilmu Politik.

ADVERTISEMENT

Memang benar, jurusan ini punya kaitan erat dengan pemerintahan dan aktivitas politik praktis. Namun, Ilmu Politik tidak hanya soal jabatan, parlemen, atau urusan kekuasaan semata. Oleh sebab itu, rasanya penting bagi saya untuk meluruskan beberapa pandangan yang sudah kadung dipercaya oleh publik. Tujuannya sederhana saja (tapi penting), agar adik-adik mahasiswa Ilmu Politik tidak terus-menerus dibayangi stereotip yang kurang tepat dan bahkan bisa menyakiti perasaan.

Jurusan Ilmu Politik bukan sekadar belajar menjadi politisi

Pandangan bahwa mahasiswa Ilmu Politik pasti akan menjadi politisi masih sering terdengar hingga hari ini. Bahkan, tak sedikit yang menganggap jurusan ini sebagai “gerbang awal” menuju kursi kekuasaan, seolah-olah kuliah di sini berarti sedang magang untuk menjadi anggota dewan di masa depan. Padahal, Ilmu Politik bukanlah sekolah kader partai. Di dalam kelas, mahasiswa lebih banyak membahas teori kekuasaan, dinamika sosial, dan bagaimana keputusan publik terbentuk melalui proses yang panjang dan sering kali ruwet.

Ilmu Politik justru mengajarkan bagaimana melihat politik secara ilmiah, bukan sekadar dari permukaannya. Mahasiswa dilatih untuk memahami perilaku politik masyarakat, menelaah kebijakan publik, hingga mengkritisi sistem kekuasaan yang sedang berjalan. Jadi, ketika seseorang memilih jurusan ini, tujuannya tidak selalu untuk terjun langsung ke politik praktis, melainkan bisa juga untuk memahami politik sebagai ilmu pengetahuan dan fenomena sosial yang membentuk hubungan antara negara dan rakyat.

Debat bukan satu-satunya senjata utama bagi mahasiswa ilmu politik

Masih banyak orang yang beranggapan, mahasiswa Ilmu Politik pasti pandai berdebat atau setidaknya gemar memperdebatkan berbagai hal. Stereotip ini muncul karena publik sering disuguhkan perdebatan politik di televisi. Entah dalam forum parlemen, acara bincang politik, atau panggung debat calon kepala daerah dan presiden. 

Akibatnya, kemampuan berdebat sering dianggap sebagai ciri khas utama mahasiswa politik, seolah kuliah di jurusan ini berarti latihan rutin untuk jadi juru bicara partai. Padahal, dinamika di ruang kuliah Ilmu Politik jauh lebih kompleks dari sekadar adu argumen.

Debat memang menjadi bagian dari proses belajar, tetapi bukan satu-satunya senjata utama. Mahasiswa Ilmu Politik dituntut tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu berpikir dan menulis secara analitis. Setiap argumen yang dilontarkan harus berakar pada teori, data empiris, dan pemahaman konteks sosial yang kuat. 

Baca Juga:

Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

Dalam banyak kasus, kemampuan membaca situasi, memahami struktur kekuasaan, serta mengaitkan peristiwa dengan teori politik justru jauh lebih penting. Dengan kata lain, debat di jurusan ini bukan sekadar latihan retorika. Tapi, lebih pada cara untuk menguji sejauh mana seorang mahasiswa mampu berpikir kritis dan rasional terhadap realitas politik yang sedang dia pelajari.

Sering dianggap memiliki pengetahuan lebih soal hal teknis di pemerintahan

Pernah suatu kali, di acara keluarga, saya ditodong pertanyaan mendadak: “Kamu kan kuliah Ilmu Politik, tahu dong kenapa harga beras naik terus?” Saya cuma bisa tersenyum kaku sambil meneguk air mineral satu kendi.

ADVERTISEMENT

Situasi seperti ini bukan hal baru sebenarnya bagi saya selaku mahasiswa Ilmu Politik. Di tongkrongan, ruang keluarga, atau media sosial, ekspektasi serupa selalu muncul: mahasiswa politik dianggap paham semua hal teknis tentang pemerintahan, jika bisa harus bisa memaparkan hal teknis mengenai efisiensi anggaran sampai pertimbangan mencampur pertalite dengan etanol.

Padahal, Ilmu Politik tidak bekerja di level teknis semacam itu. Kami tidak belajar menyusun APBN atau merancang kebijakan perdagangan secara rinci. Fokus kajiannya justru pada teori legitimasi, partisipasi, dan distribusi kekuasaan, bukan semata-mata menghafal tupoksi birokrasi. 

Jadi, kalau seorang mahasiswa Ilmu Politik tidak tahu hal-hal njlimet yang bersifat teknis, itu wajar. Bukan karena kurang baca berita, tapi karena politik itu dinamis. “isuk tempe, sore dele” begitu kata orang Jawa. Jika hanya butuh jawaban analisis masih bisa, tapi kalau disuruh menjelaskan secara detail ya wajar kalau mahasiswa Ilmu Politik angkat tangan.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik dianggap terlalu oportunis dan haus jabatan

Terakhir, ada anggapan bahwa mahasiswa Ilmu Politik itu pasti oportunis dan haus jabatan. Jika sesuatu tidak menguntungkan atau berdampak bagi dirinya, biasanya langsung diacuhkan. Bahkan, tak jarang muncul persepsi bahwa mereka rela mengesampingkan prinsip atau etika demi kepentingan pribadi.

Akan tetapi, mari kita jujur sedikit, siapa sih yang benar-benar tidak memikirkan keuntungan pribadi? Bukan keuntungan yang merugikan orang lain tentu saja, tapi sekadar memanfaatkan peluang belajar, riset, atau memperdalam pengalaman agar bisa terus berkembang.

Jadi, jika terkadang terlihat pragmatis, itu wajar, manusia memang diciptakan untuk bertahan hidup sehingga akan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari pilihan hidup yang akan diambil. Lagi pula, kalau masih ragu, coba lihat para politisi di parlemen. Tidak semuanya oportunis kan? Tentu saja, sebagian besar tetap menunggu peluang. Eh, maksud saya, tetap bisa profesional kok.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Dear Maba Jurusan Ilmu Politik, Tak Usah Risau Prospek Kerja Setelah Lulus, toh Memang Tidak Ada yang Bisa Diharapkan.

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2025 oleh

Tags: ilmu politikjurusan ilmu politikjurusan politikKuliahMahasiswamahasiswa ilmu politikPolitik
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Pilih Kuliah D3 karena Realistis Ingin Cepat Kerja Malah Disangka Malas Nggak Punya Cita-cita

Pilih Kuliah D3 karena Realistis Ingin Cepat Kerja, Malah Disangka Malas Nggak Punya Cita-cita

3 Mei 2025
Kuliah di Sekolah Kedinasan Nggak Cocok buat Orang Gengsian karena Nggak Bisa Dibanggakan

Kuliah di Sekolah Kedinasan Nggak Cocok buat Orang Gengsian karena Nggak Bisa Dibanggakan

21 Februari 2024
3 Cara Jitu Menghemat Uang Bulanan Selama Menjadi Mahasiswa UIN Jogja yang Terbukti Ampuh

3 Cara Jitu Menghemat Uang Bulanan Selama Menjadi Mahasiswa UIN Jogja yang Terbukti Ampuh

14 Mei 2025
ASN Dipaksa Diam dan Dilarang Menunjukkan Pilihan Politik, tapi Menteri Terang-terangan Menunjukkan Dukungan, kok Pilih Kasih?

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

31 Agustus 2024
Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat terminal mojok.co

Menikah Bukan Solusi Capek Kuliah

19 Maret 2020
chelsea islan

Meski Nama Mirip Perempuan, Saya Tetap Chelsea Tapi Bukan Chelsea Islan

7 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang Mojok.co

Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang

24 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.