Arsenal Memang ‘Harus’ Melepas Ainsley Maitland-Niles, Fans Jangan Sepotong Menilai – Terminal Mojok

Arsenal Memang ‘Harus’ Melepas Ainsley Maitland-Niles, Fans Jangan Sepotong Menilai

Artikel

Avatar

Melihat pemain akademi pergi, apalagi yang punya potensi tinggi, memang sangat tidak menyenangkan. Namun terkadang, peristiwa seperti itu tidak bisa dicegah. Sepak bola memang dunia yang kompleks. Sayangnya, fans Arsenal lebih senang menutup logika dan melihat sesuatu setengah-setengah saja. Ainsley Maitland-Niles sedang didekati Wolves secara intensif. Wolves sendiri memang membutuhkan bek kanan, sebagai pelapis Matt Doherty. Pilihannya kepada Ainsley Maitland-Niles bisa dibilang sangat masuk akal. Mengingat ia bisa bermain di banyak posisi, salah satunya bek kanan.

Harga Ainsley Maitland-Niles, konon, ada di sekitar 20 juta paun. Jika fans Arsenal ingin kesal, harga jual inilah yang perlu disesali, bukan kepindahannya. Harga 20 juta paun, menurut saya, terlalu rendah untuk pemain berpaspor Inggris, masih muda, masih bisa berkembang, bisa bermain di banyak posisi, dan cukup konsisten.

Potensi kepindahan Ainsley Maitland-Niles dari Arsenal memang bikin sedih. Namun, kita, terutama fans The Gunners tidak boleh melihatnya setengah-setengah saja. Mari melihat masalah ini secara utuh, supaya fans The Gunners tidak menjadi manusia racun yang cuma bisa menghakimi.

Arsenal “harus” melepas Ainsley Maitland-Niles

Kata “harus” di atas saya beri tanda kutip supaya menjadi perhatian kamu semua. Kita tahu, saat ini Arsenal sedang membangun ulang sebuah skuat yang lebih seimbang. Dana memang tersedia untuk membeli pemain baru. Namun, pembelian harus diimbangi dengan penjualan. Hal ini harus dilakukan untuk menyeimbangkan neraca gaji, selain menambah dana segar. Dana dari penjualannya bisa dialokasikan untuk sektor tersebut. Nah, perkara duit sudah jelas, ya.

Dana sekitar 20 juta paun memang terlihat sedikit. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yag lebih luas, nilai tersebut terbilang lumayan untuk menambah dana pembelian pemain. Setelah Gabriel Magalhaes, klub masih mengincar Thomas Parter, Houssem Aouar, Thiago Alcantara, dan kemungkinan satu striker lagi.

Apakah Arsenal kini masih sebuah selling club saja?

Semua klub, adalah selling club, apalagi ketika tengah berusaha membangun skuat baru. Akan selalu ada yang dikorbankan. Tentu ada kriteria yang dipakai untuk menilai apakah pemain yang masuk daftar jual memang layak dijual.

Baca Juga:  Memimpikan Kejayaan Newcastle United Jika Jadi Dibeli Pangeran Muhammad bin Salman

Misalnya, pertama, Ainsley Maitland-Niles sudah sejak lama ingin bermain secara reguler. Sebuah kondisi yang tentunya tidak bisa dijamin oleh Mikel Arteta. Sebagai pelatih, Arteta harus objektif menilai. Baik ketika Ainsley Maitland-Niles akan dimainkan di pos bek atau gelandang tengah.

Keinginan pemain harus menjadi pertimbangan. Klub yang baik tidak boleh menjadi penghambat perkembangan karier seseorang. Ketika si pemain sudah meminta dijual, tidak banyak yang bisa dilakukan klub. Toh tidak hanya Ainsley Maitland-Niles yang akan dijual oleh Arsenal.

Setidaknya ada 9 pemain yang diproyeksikan akan dilepas. Mereka adalah Ainsley Maitland-Niles, Calum Chambers, Rob Holding, Papa Sokratis, Shkodran Mustafi, Lucas Torreira, Matteo Guendouzi, Hector Bellerin, dan Sead Kolasinac. Ingat, Arsenal sedang “cuci gudang”. Jadi wajar kalau menjadi selling club.

Apakah Arsenal “tidak ramah” dengan pemain akademi?

Tidak. Menurut saya, opini tersebut sangat salah. Kalau hanya melihatnya dari sudut pandang egomu saja, ya akan selalu benar begitu.

Namun, sekali lagi, sepak bola adalah susunan yang kompleks. Pemain akademi, secinta apa pun mereka kepada klub, pasti memikirkan soal karier juga. Ainsley Maitland-Niles, misalnya, yang merasa akan lebih bisa berkembang jika bermain lebih rutin. Hal yang sama terjadi kepada Folarin Balogun, wonderkid di akademi yang kemungkinan tidak mau memperpanjang kontraknya.

Balogun merasa dirinya layak mendapatkan kesempatan di tim utama. Namun, nampaknya Arteta belum bisa menggaransi keinginan itu. Masih ada Lacazette, N’Ketiah, Martinelli, Pepe, Willian, dan Aubameyang. Pemain muda, sejago apa pun mereka, harus sadar posisi. Kalau akhirnya memilih pergi demi first team football, apalah klub selalu salah? Ya tentu tidak.

Toh Arsenal selalu berusaha adil kepada pemain akademi. NKetiah, Joe Willock, dan Bukayo Saka, misalnya. Kesabaran mereka berbuah. Kerja keras ketiganya juga dinilai secara objektif.

Ainsley Maitland-Niles cuma ingin dimainkan di tengah?

Lagi-lagi, ini opini usang. Dulu, sebelum Arteta masuk, Ainsley Maitland-Niles memang pernah menegaskan bahwa dirinya itu gelandang sentral. Bahkan saking inginnya bermain di tengah, pemain berusia 22 tahun ini ngambek. Sifatnya dikritik.

Namun, setelah Arteta masuk, ia bisa mengubah sifatnya. Dia bisa menurunkan ego. Terbukti, ketika bermain sebagai bek sayap kiri, Ainsley Maitland-Niles bisa menerimanya dengan senang hati. Rendah hati dan bisa menurunkan ego, ia pun banjir pujian. Dianggap bisa menjadi lebih dewasa, sekaligus tamparan untuk Guendouzi.

Baca Juga:  5 Aturan Tak Resmi dalam Menentukan Posisi Bermain di Sepak Bola Anak-anak

Kini, setelah memberi bukti bahwa dirinya bisa konsisten, Ainsley Maitland-Niles ingin menit bermain yang lebih banyak. Nah, di titik ini, coba posisikan dirimu di “sepatu Arteta”. Ketika lini tengah sudah penuh sesak dan akan ketambahan pemain baru, posisi mana yang cocok untuk Ainsley Maitland-Niles?

Untuk pos bek kanan dan diri pun sudah terisi pemain preferensi Arteta. Ainsley Maitland-Niles hanya perlu bersabar saja. Toh saya yakin Cedric dan Bellerin akan menemui periode buruk. Demikian juga dengan Tierney dan Kolasinac di sisi kiri. Ainsley pasti mendapatkan kesempatan.

Sampai di sini, kita tidak boleh egois dengan menuduh klub tidak sayang pemain akademi. “Berbakat dikit langsung dijual!” Tidak bisa begitu. Ingat, klub yang baik adalah klub yang tidak menghalangi perkembangan karier pemainnya. Kalau Ainsley Maitland-Niles tidak mau bersabar, klub tidak mungkin membayar gaji untuk pemain yang tidak bermain.

Menjual bukan sebuah dosa. Dan terkadang, Arsenal harus tega melakukannya. Sudah beli banyak pemain tapi tidak menjual? Tekor di gaji, Bos! Lagian ada kuota jumlah pemain di dalam skuat.

Dear fans Arsenal. Kebiasaan menghakimi dan tidak melihat sebuah kejadian dari sudut pandang yang lebih luas itu sebuah racun. Jika Ainsley Maitland-Niles ingin hengkang, kita hanya bisa mengirim doa terbaik. Mau bagaimana pun, Ainsley adalah “orang kita sendiri”. Bukankah cinta yang jernih itu tidak menghakimi dan mengikat?

Sumber gambar: YouTube Arsenal.

BACA JUGA Gabriel Magalhaes, Drama dan Ekspektasi yang Bergeser Selalu Mengiringi dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.