Benahi Dulu Liga, Baru Kita Berharap pada Timnas – Terminal Mojok

Benahi Dulu Liga, Baru Kita Berharap pada Timnas

Artikel

Pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong, sempat mengeluhkan asupan nutrisi bagi pemain yang belum berimbang dan sesuai dengan anjuran agar dapat memberikan performa terbaik di atas lapangan hijau. Menurutnya asupan pemain selama ini dinilai hanya memerhitungkan jumlah kalori tanpa menimbang kebutuhan nutrisi lainnya. Sehingga asupan nutrisi yang tidak seimbang ini berpengaruh terhadap performa pemain di atas lapangan.

Jika membaca paragraf di atas tadi sudah membuat Anda merasa kecewa dengan sepak bola nasional kita, kekecewaan Anda akan bertambah dalam ketika mengetahui masalah nutrisi bukanlah masalah terbesar dalam sepak bola kita ini. Masalah terkait pemberian gaji pemain hingga yang sederhana seperti pengaturan jadwal tanding yang rapi dan jelas secara konsisten masih mengganggu jalannya liga di Indonesia.

Jika bicara tentang liga saja sudah sulit, akan lebih sulit lagi kita bicara tentang timnas. Apa yang dikatakan Shin Tae-yong seharusnya menjadi tamparan bagi pengelola liga dan manajemen klub. Bagaimana tidak, masalah nutrisi pemain sebetulnya merupakan hal yang sangat mendasar untuk dipahami pemain, dan klub di mana sehari-hari pemain berada sudah seharusnya memberi edukasi pada pemain terkait masalah ini.

Saya yakin Shin Tae-yong pasti merasa kecewa karena harus mengajarkan lagi hal-hal yang sifatnya mendasar kepada pemain-pemain yang levelnya sudah sebagai pemain tim nasional dan mungkin pemain bintang di klubnya masing-masing. Semestinya pemain sudah memiliki kemampuan dan pengetahuan terkait hal-hal dasar seperti ini karena memang menjadi seorang pesepakbola profesional bukan hanya perkara menggocek lawan semata.

Berada di level timnas bukan lagi saatnya pemain diajarkan perihal nutrisi, pemulihan cedera, ataupun regulasi-regulasi terbaru yang dikeluarkan federasi sepakbola. Tugas seorang pelatih di timnas seharusnya hanya berfokus pada penyatuan kerjasama tim selain tentunya merancang strategi dan taktik  permainan. Jika pelatih timnas harus mengajarkan kembali hal-hal dasar seperti itu, wajar saja pemain kita sulit berkembang karena memang latihan di timnas hanya dilakukan pada momen tertentu saja dan tidak setiap hari.

Lantas siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Klub dan liga merupakan pihak paling bertanggung jawab dalam hal ini. Klub sebagai tempat di mana sehari-hari pemain berlatih harus memberikan pemahaman dan melatih pemain dengan kualitas pelatihan yang baik. Agar klub terpacu dalam mengejar hal ini maka pengelola liga harus mendorong klub agar dapat meningkatkan kualitas pelatihan.

Setelah pemain betul-betul matang di level klub, tinggal bagaimana pengelola liga menciptakan atmosfer liga yang sehat dan kompetitif. Kalau kompetisi sudah berjalan dengan baik dan sehat maka persaingan pun akan meningkat dan klub akan meningkatkan performa masing-masing baik dari performa pemain hingga manajemennya. Hal ini harus secara konsisten dilakukan, kemudian baru kita boleh berharap timnas Indonesia bisa bicara banyak di kompetisi-kompetisi internasional.

Selama ini pelatihan pemain saya rasa memang terbalik. Di mana yang seharusnya pemain matang terlebih dahulu di level klub baru kemudian dipanggil ke timnas, ini justru pemain matang dengan pelatihan di timnas dan kemudian dikembalikan ke klub. Dan ketika berada di klub kualitas pelatihannya tidak sebagus di timnas, performa pemain akan turun lagi. Dan ketika pemain dipanggil ke timnas maka pelatihan akan diulang, begitu seterusnya berputar-putar saja.

Kedengarannya sederhana memang tentang bagaimana pembenahan di sana-sini. Tetapi, realitasnya jauh lebih sulit karena jika memang itu mudah bukankah kita seharusnya sudah dapat mewujudkannya. Terlebih lagi jika pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan sepak bola nasional sudah merasa cukup dengan kualitas yang ada dan tidak merasa banyak hal yang harus diperbaiki maka pembenahan akan semakin sulit dilakukan.

Sehingga apabila Anda berharap timnas Indonesia dapat menjadi tim tangguh di level internasional dalam waktu dekat, tahan dulu harapan Anda. Jika diibaratkan sungai, tim nasional adalah hilir dan liga adalah hulu, bagaimana kualitas air di hilir akan tergantung bagaimana hulunya. Pembenahan dari hulu ke hilir ini bukan perkara semusim dua musim, bisa sampai puluhan musim. Tapi, yang menjadi pertanyaan terbesar saya adalah apa yang mau dibenahi jika saat ini saja liganya tidak berjalan?

BACA JUGA Talenta Muda dan Buaian Manis Benua Eropa dan tulisan Muhammad Fajar Ismail Nasution lainnya.

Baca Juga:  Melihat Sepak Bola Amerika Serikat Bikin Saya Sedih sama Negeri Sendiri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
1


Komentar

Comments are closed.