Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

Kamsu Aji Wiguna oleh Kamsu Aji Wiguna
27 Februari 2026
A A
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Share on FacebookShare on Twitter

Dewasa ini, syarat menjadi guru cukup tinggi. Selain harus lulus kuliah S1 dan mendapatkan gelar S.Pd, juga harus lulus kuliah profesi dan mendapat gelar Gr. Dengan dua gelar tersebut, diharapkan mereka sudah mengetahui seluk beluk dunia keguruan, profesi yang akan digeluti besok hari. Namun, tidak.

Nyatanya, dalam kuliah yang paling tidak digeluti selama lima tahun tersebut, masih ada beberapa hal yang tidak pernah diajarkan atau minimal dibahas dalam diskusi di kelas. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Sebagai disclaimer, tulisan ini dibuat oleh penulis atas pengalaman mendapat gelar sarjana pendidikan ekonomi, mengikuti kuliah PPG, dan pernah mengajar mapel IPS dan Ekonomi di sekolah yang berbeda.

Upah kerja guru yang menyedihkan

Calon guru selayaknya mengetahui bahwa upah pendidik, apalagi yang honorer, apalagi di sekolah negeri, itu sedikit. Di Indonesia, membahas gaji memang masih dianggap tabu. Tidak bersyukur, lah, ini lah, itu lah. Saking sedikitnya, bahkan ketika penulis pertama kali wawancara ketika mendaftar, Ibu Kepala Sekolah sempat berkata “tapi ya ekspektasi bayarannya jangan terlalu tinggi mas. Kan sudah tahu sendiri, kalau mereka itu kerja sebulan tapi gajinya seperti seminggu”. Di situ, baru saya sadari bahwa konsep ini tidak pernah diajarkan di kampus.

Pada mata kuliah ekonomi pendidikan, membahas topik pendanaan pendidikan, tidak pernah para mahasiswa dikenalkan konsep bekerja sebulan, gaji seminggu. Tapi, ini adalah konsep jahat yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Entah siapa pencetus ide jahat ini.

Jadi begini, misalkan guru dibayar Rp20.000,00 untuk satu jam pelajaran (JP). Mapel IPS, katakanlah. Dalam satu kelas, biasanya mendapat mapel IPS 3 JP dalam seminggu. Katakan guru tersebut mengajar 8 kelas, maka dalam seminggu guru tersebut mengajar 24 JP. Bayarannya (seharusnya) adalah 24 JP X Rp20.000,00, menjadi Rp480.000,00 seminggu atau Rp1.920.000,00 dalam sebulan.

Angka yang cukup banyak untuk honorer, kan? Tapi nyatanya tidak. Karena konsep yang sudah membudaya di sekolah-sekolah, guru tersebut bekerja selama sebulan tapi gajinya tetap seminggu, alias hanya mendapat Rp480.000,00 saja.

Terlepas dari isu moral dan keadilan sosial serta kesejahteraan pekerja, konsep seperti ini seharusnya sudah diajarkan atau minimal menjadi bahan diskusi ketika kuliah. Sehingga, para mahasiswa tersebut bisa terpikirkan untuk mengambil profesi lain dan tidak terjebak dalam dunia keguruan yang tidak manusiawi ini. Beruntung bagi rekan-rekan yang sudah mendapat gaji layak di pekerjaan pertama mereka.

Baca Juga:

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

BACA JUGA:Kualitas Tenaga Pendidik Rendah: Jangan Salahkan Guru, tapi Benahi Sistemnya

Harga seragam guru yang mahal

Menjadi guru berarti harus memiliki seragam. Di daerah kami, guru paling tidak harus memiliki seragam khaki untuk dipakai di hari Senin dan Selasa, juga seragam putih untuk dipakai di hari Rabu. Beberapa sekolah mewajibkan mengenakan sepatu pantofel, atau minimal hitam. Menjadi item tambahan yang harus dibeli ketika mengawali karier jika guru tersebut tidak memilikinya.

Yang menjadi masalah adalah, harga seragam ini sering kali lebih tinggi daripada gaji sebulan itu sendiri. Beruntung bagi guru yang mendapat gaji di awal bulan. Untuk yang digaji di akhir bulan, atau bahkan ada yang dirapel beberapa bulan sekali, maka membeli seragam-seragam ini tentu akan sangat memberatkan. Belum lagi ketika harus membeli seragam pramuka, batik PGRI, baju adat untuk hari tertentu, sangat banyak biaya yang dikeluarkan bahkan sebelum mendapatkan upah pertama mengajar.

Belum lagi membahas keperluan harian, seperti media pembelajaran yang terkadang tidak disediakan pihak sekolah. Guru yang kreatif pada akhirnya harus merogoh kocek pribadi agar pembelajaran menjadi berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, seperti tuntutan kurikulum saat ini.

Pihak kampus seharusnya mengenalkan baju-baju ini dan modal awal untuk menjadi guru pada pertemuan-pertemuan tertentu ketika kuliah, mengingat tidak semua lulusan mereka memiliki modal yang cukup bahkan untuk membeli seragam kerja.

Mengajar mata pelajaran yang tidak pernah dibayangkan

Rekrutmen oleh sekolah, atau bahkan oleh pemda, tentu didasarkan pada kebutuhan di sekolah tersebut. Ketika kekurangan guru IPA, yang direkrut adalah guru IPA, dan seterusnya. Namun, dalam kehidupan di sekolah, guru sering kali mengajar mata pelajaran yang bahkan tidak pernah ia sukai.

Di sekolah saya bekerja, guru Bahasa Inggris mengajar mapel IPS. Mengapa? Karena sekolah tidak memiliki cukup guru IPS. Di sisi lain, ada pula guru agama dan BK yang mengajar mata pelajaran PKn, dengan alasan yang sama. Guru PJOK juga ada yang kejatah mengajar prakarya karena guru prakarya yang lama harus hengkang dari sekolah. Yang masih lumayan, ada guru geografi yang harus mengajar sosiologi. “Masih satu rumpun IPS”, katanya.

Jadi guru memang harus serbabisa, termasuk bisa mengajar mata pelajaran yang bahkan mungkin tidak disukai dan tidak berhubungan dengan materi yang dipelajari ketika kuliah. Dan ternyata, hal ini lumrah terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia. Ketika kuliah, seharusnya kita sudah dikenalkan dengan konsep seperti ini. Bahkan mungkin perlu ditambahkan mata kuliah khusus yang menghubungkan pelajaran utama dengan mata pelajaran lain, agar jika sewaktu-waktu ditugaskan mengajar mata pelajaran lain, paling tidak guru sudah memiliki pengalaman yang relevan.

BACA JUGA: Hari Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dan Omong Kosong yang Menyertainya

Mencabang di sekolah lain

Kewajiban seorang guru, terutama yang sudah berhak mendapatkan tunjangan serfitikasi, adalah mengajar sebanyak minimal 24 JP dalam seminggu. Masalahnya, guru tersebut kadang tidak memiliki cukup JP di suatu sekolah sehingga harus melakukan pemenuhan di sekolah lain.

Hal in dapat terjadi karena beberapa hal. Seperti guru dengan mapel yang sama sudah terlalu banyak, atau bahkan karena masalah klasik seperti jumlah kelas dan murid yang terlalu sedikit.

Konsep ini baru saya jumpai ketika menjadi tendik di sekolah pertama saya bekerja. Ada guru tertentu yang khusus pada hari Rabu tidak masuk ke sekolah karena harus melakukan pemenuhan JP di sekolah lain. Hal ini diperkuat ketika saya bekerja di sekolah lain yang lebih besar, hal yang sama juga terjadi.

Mencabang juga dilakukan oleh guru non-ASN. Para honorer, mereka kerap mencabang agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Mencabang ini bisa mengajar, mengisi ekstrakurikuler, maupun kegiatan lain di sekolah lain.

Pihak kampus seharusnya bisa mengenalkan kepada mahasiswanya bahwa fenomena ini sering dan wajar terjadi di dunia pendidikan di Indonesia. Mengingat tempat bekerja merupakan salah satu tempat paling sering dikunjungi dalam hidup, bekerja haruslah berada di tempat yang nyaman dan tentu membutuhkan persiapan yang memadai jika suatu saat harus bekerja di dua instansi yang berbeda.

Sebenarnya, masih ada beberapa poin lain yang sama pentingnya. Tapi, mungkin akan dibahas di artikel terpisah. Segini aja mungkin dah bikin kalian kena mental. 

Penulis: Kamsu Aji Wiguna
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

Tags: gaji guruguruprofesi guruseragam guruupah guru
Kamsu Aji Wiguna

Kamsu Aji Wiguna

Belajar jadi guru.

ArtikelTerkait

Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

23 Mei 2026
Derita Lulusan S2 Jogja, Dikasihani dan Ditolak Puluhan Sekolah (Unsplash)

Lulusan S2 Kesulitan Cari Kerja di Jogja: Ditolak Puluhan Sekolah karena NU dan Tidak Punya KTA Muhammadiyah Sampai Nggak Tega Ngasih Gaji Kecil

3 Agustus 2025
Guru Asing di SMA Garuda, Lelucon Dunia Pendidikan di Awal Tahun yang Berpotensi Jadi Masalah Besar di Kemudian Hari lembaga pendidikan swasta guru honorer, sekolah swasta

Saatnya Pemilik Lembaga Pendidikan Swasta Meminta Maaf pada Guru karena Menggaji Mereka Tidak Layak!

16 September 2025
4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

21 Juni 2023
Tugas Guru Ternyata Banyak, Mengajar Murid Cuma Sampingan Mojok.co

Mengenal Macam-macam Tugas Guru, Mengajar Ternyata Cuma Sampingan

26 Oktober 2023
UU Perlindungan Guru, Hal Darurat yang Harus Segera Digarap agar Masa Depan Negara Ini Tak Semakin Gawat

UU Perlindungan Guru, Hal Darurat yang Harus Segera Digarap agar Masa Depan Negara Ini Tak Semakin Gawat

30 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Pustakawan Membela iPusnas yang Layanannya Dikeluhkan Banyak Orang Mojok.co

Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

8 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.