Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
4 September 2025
A A
Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jujur saja, guru itu profesi paling unik bagi saya. Sebab, semua pihak berusaha membuat banyak argumen untuk mencegah mereka sejahtera dan membuat mereka tetap miskin hingga mati.

Misalnya, guru itu profesi mulia, ladang amal, maka jangan pernah tujuannya mencari uang.

Sekilas, sekilas, ucapan itu amat keren, indah, megah. Tapi bagi saya itu bunyinya selalu “terima saja nasibmu, digaji ratusan ribu saja harusnya sudah bersyukur”. Alias, sebuah usaha untuk menjadikan guru tetap miskin dan tak akan mengupayakan kesejahteraan mereka.

Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena yang bilang seperti itu, rata-rata, adalah orang yang harusnya berwenang menyejahterakan para pendidik, dan orang yang sudah kelewat kaya.

Guru vs everybody

Kalau sudah ngomongin kesejahteraan guru, selalu ada saja kontra argumen dan usaha-usaha untuk tidak meloloskannya. Biasanya, argumen tentang kapabilitas guru jadi bahan gorengan paling utama. Banyak yang bilang, kualitas guru sekarang tak layak untuk diberi gaji tinggi.

Bagi saya, itu argumen terkonyol yang pernah dibuat di muka Bumi ini. Terlebih jika itu diucapkan orang Indonesia, yang negaranya dipenuhi pejabat bergaji kelewat tinggi tapi kompetensi kelewat rendah, mengarah ke tolol.

Padahal jika mau duduk barang sejam dengan guru-guru muda yang ada di sekolah, kalian tahu betul bahwa kompetensi guru terlihat buruk karena sistemnya buruk. Pepatah berkata, ikan busuk dari kepala, dan itu adalah gambaran terbaik kenapa pendidikan kita terjun bebas seiring berjalannya waktu.

Alih-alih memperbaiki kualitas guru, yang ada hanyalah gebrakan dan kurikulum baru yang jelas-jelas tidak menyasar perbaikan kualitas. Dengan seabrek so-called inovasi, tapi hal paling esensial seperti kesejahteraan tenaga pendidik saja tak pernah beres. Mau dilihat dari segi mana pun, ini nggak masuk logika.

Katakanlah kita beneran fokus ke kualitas guru, sebenarnya, guru-guru generasi baru itu jago-jago. Saya akan menolak argumen lulusan pendidikan UNY dan kampus sejenis itu tidak kompeten. Sebab, kurikulum yang diberikan pada mahasiswa, materinya, dan hal-hal lain amat bagus. Nggak mungkin juga UNY dapat predikat kampus pendidikan tanpa sebab. Tapi kenapa mereka nggak meneruskan profesi mereka? Nguteko sitik, digaji 300 ribu siapa yang mau.

Itu baru satu argumen. Dan masih banyak argumen lain, seakan-akan perbaikan nasib guru dari segi ekonomi itu adalah tabu. Seakan-akan kalau gaji guru naik, Dajjal keluar dari persembunyiannya.

Guru vs everybody part 2

Yang menyedihkan dari perkara kesejahteraan guru itu satu sebenarnya: secara terbuka, orang-orang yang ada di pemerintahan terkesan tidak menunjukkan dukungan mereka terhadap perbaikan kesejahteraan guru.

Sri Mulyani, mengutarakan bahwa kecilnya gaji guru dan dosen itu merupakan tantangan keuangan negara, dan (entah kenapa, anehnya) berkata apakah semuanya harus ditanggung negara atau masyarakat juga berpartisipasi. Lalu, ditambah belum lama ini, Menteri Agama berkata bahwa guru itu profesi mulia, tak perlu mengejar uang.

Dua pernyataan itu hanya segelintir dari banyaknya pernyataan buruk yang dilontarkan oleh pejabat negara yang harusnya ada di pihak rakyat. Melihat itu, saya beneran heran, apa salah guru hingga orang-orang pemerintah seakan-akan anti betul dengan isu kesejahteraan mereka.

I mean, lihat anggota DPR. Saya tahu contoh ini kelewat sering kalian dengar, tapi tetap saja penting dan relevan. Coba lihat tunjangan-tunjangan mereka, tak pernah sekali pun saya dengar ada pejabat mengeluh gaji mereka kegedean. Yang ada, malah merasa kekecilan.

Iklan

Tentu saja, Sri Mulyani dan Menteri Agama tak pernah komen sejelas itu terhadap tunjangan para pejabat, tidak seperti saat mereka mengomentari gaji guru dan dosen.

Baca halaman selanjutnya

Gimana kalau menteri digaji rendah?

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 September 2025 oleh

Tags: gaji gurugaji guru honorerMenteri Agamasri mulyanitunjangan guru
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Aktual

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Coffee shop menjamur di Klaten MOJOK.CO

Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong

5 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.