Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
11 Juli 2026
A A
8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen Mojok.co

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Para guru agama memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Tugasnya bukan sekadar mengajar materi pelajaran. Nilai karakter, etika, toleransi, dan penguatan moral juga menjadi bagian dari tanggung jawab sehari-hari. 

Sayangnya, profesi ini seolah dianaktirikan sehingga muncul banyak persoalan. Berbagai kebijakan pendidikan  lebih banyak berfokus pada mata pelajaran umum dibandingkan kebutuhan guru agama.

Kondisi tersebut bukan sekadar muncul dari perasaan semata. Banyak tantangan yang memang dirasakan di lapangan. Mulai dari urusan administrasi, pengembangan karier, sampai akses terhadap berbagai program pemerintah. 

Situasi seperti ini akhirnya memunculkan keresahan yang terus dibicarakan di lingkungan sekolah. Berikut 8 keresahan yang paling sering muncul di kalangan guru agama.

#1 Kebijakan yang lebih memperhatikan guru mata pelajaran umum daripada guru agama

Banyak kebijakan pendidikan lebih dahulu menyasar mata pelajaran umum. Guru agama sering harus menunggu penyesuaian berikutnya. Informasi teknis juga kadang datang lebih lambat. Akibatnya, proses persiapan menjadi kurang maksimal. Kondisi seperti ini cukup sering dikeluhkan.

Posisi guru agama terasa belum benar-benar sejajar. Perubahan kurikulum juga sering lebih dulu membahas mata pelajaran lain. Ruang diskusi khusus guru agama masih terbatas. Aspirasi dari lapangan belum selalu menjadi prioritas. Perasaan dianaktirikan akhirnya semakin kuat.

#2 Kesempatan guru agama mengikuti program pengembangan belum merata

Pelatihan menjadi kebutuhan penting bagi semua guru. Kompetensi harus terus mengikuti perkembangan zaman. Namun, kesempatan mengikuti pelatihan belum merata. Guru agama masih sering menemukan kuota yang terbatas. Akses peningkatan kapasitas akhirnya terasa kurang adil.

Banyak pelatihan nasional menyasar guru mata pelajaran tertentu. Guru agama terkadang baru mendapat kesempatan pada tahap berikutnya. Materi pelatihan khusus pun jumlahnya belum banyak. Pilihan pengembangan profesional menjadi lebih sempit. Padahal, tuntutan pembelajaran terus berkembang setiap tahun.

Baca Juga:

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

#3 Beban administrasi tinggi, tapi dukungan belum maksimal

Administrasi masih menjadi pekerjaan yang cukup menyita waktu. Berbagai laporan harus diselesaikan secara rutin. Pengisian data juga memerlukan ketelitian tinggi. Waktu untuk menyiapkan pembelajaran sering ikut berkurang. Situasi ini cukup melelahkan.

Di sisi lain, dukungan teknis belum selalu memadai. Pendampingan administrasi masih berbeda di setiap daerah. Sistem yang terus berubah juga membutuhkan penyesuaian baru. Guru agama akhirnya harus belajar secara mandiri. Energi banyak habis untuk urusan di luar kelas.

#4 Jalur pengembangan karier guru agama sering terasa lebih lambat

Pengembangan karier menjadi harapan setiap guru. Kesempatan berkembang tentu ingin dirasakan secara adil. Namun, masih muncul anggapan bahwa guru agama memiliki ruang yang lebih terbatas. Proses penyesuaian berbagai kebijakan juga sering membutuhkan waktu lebih lama. Kondisi seperti ini menimbulkan rasa kecewa.

Harapan memperoleh kesempatan yang sama sebenarnya sangat sederhana. Semua guru ingin memperoleh akses yang setara. Pengakuan terhadap peran guru agama juga perlu diperkuat. Kesempatan berkontribusi harus dibuka lebih luas. Pendidikan akan lebih maju jika semua profesi mendapat perhatian yang sama.

#5 Jam pelajaran relatif terbatas, tapi target pembelajaran tetap besar

Jam pelajaran agama di banyak sekolah masih tergolong terbatas. Materi yang harus disampaikan tetap cukup banyak. Pendidikan karakter juga membutuhkan proses yang panjang. Pembiasaan sikap tidak bisa selesai dalam satu pertemuan. Kondisi ini sering menjadi tantangan tersendiri.

Harapan sekolah terhadap pendidikan karakter pun terus meningkat. Tanggung jawab guru agama juga semakin luas. Waktu pembelajaran justru tidak selalu bertambah. Proses pendalaman materi akhirnya harus dibuat sangat padat. Efektivitas pembelajaran pun menjadi tantangan setiap semester.

#6 Koordinasi antar instansi sering membuat proses jadi lebih rumit

Guru agama sering berhubungan dengan lebih dari satu instansi. Urusan administrasi kadang memiliki mekanisme yang berbeda. Alur pelayanan juga tidak selalu sama. Proses penyesuaian membutuhkan waktu tambahan. Situasi ini cukup membingungkan di lapangan.

Perbedaan aturan kadang memunculkan kebingungan baru. Informasi juga tidak selalu diterima secara bersamaan. Penyesuaian administrasi akhirnya harus dilakukan berulang kali. Waktu kerja menjadi semakin banyak tersita. Fokus mengajar pun ikut terdampak.

#7 Sarana dan media pembelajaran masih belum selalu menjadi prioritas

Media pembelajaran terus berkembang mengikuti teknologi. Guru agama juga membutuhkan fasilitas yang memadai. Ketersediaan bahan ajar digital belum selalu lengkap. Dukungan perangkat pembelajaran masih berbeda di setiap sekolah. Kondisi ini membuat proses belajar kurang maksimal.

Inovasi pembelajaran membutuhkan dukungan nyata. Pengembangan media kreatif juga memerlukan fasilitas yang cukup. Tidak semua sekolah mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Guru agama akhirnya lebih sering mengandalkan kreativitas sendiri. Semangat mengajar tetap berjalan di tengah berbagai keterbatasan.

#8 Prestasi dan kontribusi guru agama masih kurang mendapat sorotan

Di tengah berbagai keterbatasan, banyak guru agama berhasil menghadirkan inovasi pembelajaran. Berbagai kegiatan pembentukan karakter juga berjalan baik. Kontribusi seperti ini sering berlangsung setiap hari. Namun, perhatian publik masih belum begitu besar. Apresiasi juga belum selalu sebanding dengan peran yang dijalankan.

Keberhasilan pendidikan karakter sebenarnya sulit diukur dengan angka. Dampak pembelajaran baru terlihat dalam jangka panjang. Peran guru agama akhirnya sering luput dari perhatian. Padahal fondasi moral peserta didik dibangun melalui proses yang konsisten. Pengakuan yang lebih setara tentu menjadi harapan banyak guru agama.

Itulah 8 keresahan para guru agama karena dianaktirikan Kemendikdasmen. Kami merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan nasional. Peran dalam membentuk karakter tidak bisa dipisahkan dari proses belajar di sekolah. Karena itu, perhatian terhadap profesi ini seharusnya berjalan seiring dengan perhatian kepada guru mata pelajaran lainnya.

Kesetaraan dalam kebijakan akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Dampaknya juga akan dirasakan langsung oleh peserta didik. Keresahan yang muncul selama ini bukan sekadar soal pengakuan. Persoalan tersebut berkaitan dengan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kesempatan berkembang, akses program, serta dukungan kebijakan yang setara akan memperkuat proses pembelajaran. Pekerjaan ini membutuhkan ruang yang sama untuk bertumbuh dan berkontribusi. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa terwujud jika seluruh guru memperoleh perhatian tanpa perbedaan.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2026 oleh

Tags: agamaguruguru agamaKemendikdasmen
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

pertanyaan di kelas

Alasan Kenapa Pelajar di Indonesia Suka Takut Nanya/Jawab Pertanyaan di Kelas

27 April 2020
hal lucu yang tak sengaja guru lihat saat kelas daring pjj wabah corona mojok.co

Belajar di Masa Pandemi: Guru Lembur, Siswa Kabur

27 Oktober 2020
Percaya Ramalan Zodiak, tapi Tidak Percaya Agama padahal Konsepnya Mirip terminal mojok.co

Ramalan Zodiak Dipercaya, tapi Agama Tidak. Padahal Konsepnya Mirip lho

4 Maret 2021
Opini Goblok 2024 Sesat Pikir Anak Pasangan Guru Harus Cerdas (Unsplash)

Anak Pasangan Guru Harus Cerdas Adalah Sesat Pikir yang Menyiksa Anak

15 Januari 2024
agama

Kontekstualisasi Agama atau Seragamisasi Agama?

5 Mei 2019
LKS Bukan Barang Haram dan Guru Bukan Penipu, Guru Nggak Perlu Takut dengan Ancaman LSM Sok Pahlawan!

LKS Bukan Barang Haram dan Guru Bukan Penipu, Guru Nggak Perlu Takut dengan Ancaman LSM Sok Pahlawan!

2 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

9 Karakter Orang yang Nggak Cocok Kuliah di Politeknik Mojok.co

Mahasiswa Politeknik Nggak Pernah KKN, Bukan Berarti Nggak Berjiwa Sosial, Pengabdian Kami Cuma Beda Gaya Saja

5 Juli 2026
Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius Mojok.co

Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius

11 Juli 2026
Bangkalan Lebih Cocok Jadi Ibu Kota Provinsi Madura daripada Pamekasan Terminal

Bangkalan Lebih Cocok Jadi Ibu Kota Provinsi Madura daripada Pamekasan

8 Juli 2026
Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain Mojok.co

Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain

9 Juli 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Larangan Bawa Tumbler di Perpustakaan Daerah Itu Aneh, Minum Saja Dipersulit, Gimana Orang Mau ke Perpustakaan?

4 Juli 2026
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide Menikmati Kota Warisan Budaya Tanpa Menjadi Tua di Jalanan

6 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.