Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Fatikha Faradina oleh Fatikha Faradina
24 Januari 2026
A A
Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya Mojok.co

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada banyak bentuk patah hati. Ada yang ditinggal tanpa penjelasan, ada yang cintanya kandas di tengah jalan. Namun, ada satu patah hati yang jarang dibicarakan, padahal efeknya nyata dan berkepanjangan, setidaknya bagi saya, yaitu pulang liburan dari Jepang, lalu kembali ke Indonesia. 

Selama sepuluh hari di Osaka dan Kyoto, tidak sekali pun saya mengeluarkan kata-kata bernada makian. Bukan karena saya tiba-tiba jadi manusia yang tercerahkan, apalagi sedang menjalani laku spiritual. Alasannya jauh lebih sederhana, tidak ada situasi yang memancing amarah. Semua terasa rapi, disiplin, terukur, dan berjalan sebagaimana mestinya.

Di Jepang saya benar-benar merasakan bagaimana negara bekerja, masyarakat patuh, ruang publik dihormati. Semuanya begitu indah, sampai kenyamanan itu bubrah saat saya pulang di tanah air tercinta.

Di Indonesia, baru saja mobil keluar dari rumah langsung berhadapan dengan parkir sembarangan hingga menutup jalan. Beberapa meter kemudian, kemacetan. Tak jauh dari situ, tumpukan sampah yang entah sudah berapa hari menjadi bagian lanskap. Siangnya, saya makan di warteg dan berjalan kaki dengan kewaspadaan penuh. Sebab di negeri ini, menjadi pejalan kaki adalah olahraga ekstrem karena nyawa jadi taruhannya.

Di titik itulah saya sadar, negara ini benar-benar berbeda dan saya rindu Jepang yang teratur. Berikut lima hal yang paling terasa hilang setelah kembali dari Jepang.

#1 Transportasi umum Jepang yang sangat apik

Di Jepang, transportasi umum bukan sekadar alat berpindah tempat, tapi sistem yang apik. Kereta datang tepat waktu. Bus berhenti sesuai jadwal. Tidak ada kendaraan umum yang berhenti mendadak demi mengejar penumpang, apalagi berlomba-lomba di jalan.

Jalan raya terasa tenang. Tidak ada motor menyalip dari segala arah. Tidak ada klakson sebagai bahasa sehari-hari. Pulang ke Indonesia, saya kembali berhadapan dengan realitas bahwa berpindah tempat sering kali berarti bernegosiasi dengan kekacauan.

#2 Menghormati pejalan kaki

Di Jepang, pejalan kaki adalah prioritas. Fasilitas trotoar tersedia dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak ada tuh pedagang kaki lima yang menghalangi pejalan kaki melangkah. Lampu penyeberangan dilengkapi suara penanda. Kendaraan berhenti, memberi ruang, tanpa perlu adu nyali.

Baca Juga:

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

Di Indonesia, trotoar sering kali kehilangan identitas. Ia bisa berubah menjadi lahan parkir, lapak dagang, bahkan tempat las. Menyeberang jalan bukan soal hak, tapi keberanian. Yang ragu, tertinggal. Yang lengah, celaka.

#3 Aparat Jepang sebagai wajah pelayanan publik

Polisi di Jepang hadir dengan sikap membantu, bukan mengintimidasi. Mereka menjadi titik aman bagi warga dan wisatawan. Bertanya arah tidak disambut curiga. Polisi melayani dengan sepenuh hati. 

Kembali ke Indonesia, relasi antara warga dan aparat kerap tumbuh di atas kewaspadaan. Bukan tanpa sebab. Pengalaman kolektif terlalu sering mengajarkan bahwa kekuasaan lebih sering ingin ditaati dan menguasai daripada melayani.

#4 Wisata tanpa pungli dan juru parkir siluman

Di Jepang, tempat wisata berjalan apa adanya. Tidak ada pungutan tak jelas. Tidak ada parkir misterius. Semua tarif transparan dan masuk akal.

Sebaliknya, di Indonesia, ruang publik kerap mengalami metamorfosis menjadi ladang ekonomi informal. Area parkir muncul dari ruang yang sebelumnya tak pernah ada. Toilet umum, hingga sekadar berhenti beberapa menit, bisa berujung pada transaksi yang tak pernah tercatat dalam sistem mana pun. Negara seolah hadir setengah-setengah, sementara warga beradaptasi dengan ketidakjelasan yang sudah lama dinormalisasi dengan kalimat ajaib, “Uang dua ribu ngga bikin miskin.”

Ya coba saja hitung, Rp2.000 sebanyak lima kali sehari dan itu terjadi selama 365 hari. Bokek juga kan? 

#5 Masyarakat yang menghormati ruang bersama

Orang-orang Jepang tidak merasa perlu menguasai ruang dengan suara. Mereka tidak berisik, tidak menyerobot, tidak menjadikan keberadaan orang lain sebagai gangguan.

Di Indonesia, orang-orang sering menganggap wajar. Menyerobot dianggap cerdik. Ketidakteraturan itu biasa. Kita hidup berdampingan, tapi jarang benar-benar saling menghormati. Pantas saja Dere sampai mempopulerkan lagu berjudul Berisik karena memang cocok sekali untuk diputar di tengah masyarakat kita.

Pulang dari Jepang bukan hanya soal jet lag atau rindu suasana liburan. Ia adalah cermin di depan wajah kita sendiri. Cermin yang menunjukkan bahwa keteraturan bukan kemewahan, melainkan pilihan. Bahwa disiplin bukan sifat bawaan bangsa tertentu, melainkan hasil dari kesepakatan sosial bersama.

Yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa kita tertinggal. Melainkan kesadaran bahwa kita sebenarnya bisa, namun terlalu lama berdamai dengan kekacauan, sampai lupa rasanya hidup dalam peradaban yang tertib.

Penulis: Fatikha Faradina
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2026 oleh

Tags: Indonesiajepangpejalan kakitransportasi umu
Fatikha Faradina

Fatikha Faradina

Alumnus D3 Pajak STAN, melanjutkan studi sarjana Manajemen dan Hukum. Mengisi waktu sebagai analis pajak dan pemerhati kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Seni Memulung Sampah di Jepang terminal mojok

Seni Memulung Sampah di Jepang

17 Desember 2021
hewan kurban

Jual Hewan Kurban Online dan Usaha Lain yang Harus Kamu Coba

11 Agustus 2019
Lansia di Jepang dan Korea Justru Bekerja untuk Nikmati Masa Tua terminal mojok.co

Lansia di Jepang dan Korea Justru Bekerja untuk Nikmati Masa Tua

28 Januari 2022
8 Fakta Menarik tentang Sumo, Olahraga Tradisional Jepang yang Masih Lestari Hingga Kini Terminal Mojok

8 Fakta Menarik tentang Sumo, Olahraga Tradisional Jepang yang Masih Lestari Hingga Kini

12 Mei 2022
Membayangkan Mogok Kerja Buruh Kereta Api di Inggris Terjadi di Indonesia

Membayangkan Mogok Kerja Buruh Kereta Api di Inggris Terjadi di Indonesia

24 Juni 2022
bebas visa anime 2021 jepang mojok

Semoga 5 Negara Ini Menerapkan Bebas Visa buat Turis Indonesia

15 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Saya akhirnya mengakui keunggulan Indomaret karena 3 barang ini

28 Juli 2026
Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

29 Juli 2026
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

28 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.