Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang

Imam Kukuh Pradana oleh Imam Kukuh Pradana
22 Januari 2026
A A
Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang Terminal

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belum lama ini seorang teman menceritakan rekan kerjanya nggak balik kerja ke Jepang, padahal libur musim dingin sudah selesai. Teman saya, dan banyak orang lain, menduga dia kabur dari program magang di Jepang. Tentu saja dugaan itu sepaket dengan stigma yang melekat seperti mental tempe, baperan, lemah, payah, dan masih banyak lagi. 

Sebenarnya saya agak malas menceritakan orang-orang yang mangkir dari program magang di Jepang. Selain banyak terjadi, cerita semacam ini membuka banyak fakta lain dari magang Jepang yang nggak melulu enak. Nanti dikira saya menghalang-halangi orang lain magang di Jepang. Padahal, saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Melalui tulisan curhatan ini saya cuma berharap orang-orang untuk mempertimbangkan baik-baik dan hati-hari sebelum ikut ambil keputusan.

Usia masih muda, tapi harus menghadapi tekanan sangat besar ketika magang di Jepang

Bukannya membenarkan tindakan pemagang yang kabur, tapi saya cukup bisa memahami keputusan yang mereka ambil. Begini, sebagian besar peserta magang Jepang berusia sangat mudah, di rentang 18-25 tahun. Usia yang masih menggebu-gebu untuk eksplorasi kehidupan. Tidak sedikit juga yang menghadapi quarter life crisis di usia-usia ini. 

Sementara, di usia-usia itu mereka harus berhadapan dengan dunia kerja Jepang yang keras. Keras di sini bukan hanya karena perbedaan budaya ya. Sistem kerja ketat, bos galak dan senpai (senior) rese jadi tantangan berat bagi mereka yang magang di Jepang. 

Bayangkan saja, kalian di usia yang masih muda (dan mungkin di tengah quarter life crisis) harus menghadapi kondisi tersebut sehari-hari. Sementara, kebanyak yang datang sendirian, tanpa teman atau satupun kenalan. Hidup pasti terasa sangat berat. 

Baca juga 7 Fakta Menarik di Jepang yang Sering Bikin Salah Kaprah.

Tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan pekerjaan karena tidak ada bimbingan

Sudah secara kultur berat, beberapa dari mereka yang magang di Jepang tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Bukan karena malas, tapi mereka tidak mendapat bimbingan yang memadai. 

Asal tahu saja, keterampilan pemagang di tempat kerja juga dipengaruhi bimbingan pekerja senior atau senpai.  Sementara, tidak semua senpai itu baik. Mereka kadang semena-mena kepada peserta magang. 

Baca Juga:

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

Saya pernah dengar cerita, ada pemagang yang berusaha menegur seniornya karena alasan tertentu. Si senior tidak terima dan menghasut yang lain buat menjauhi orang itu. Bahkan, ada seorang senior, di tempat kerja saya yang bilang langsung kalau dia sebenarnya sedang cosplay menjadi buchou (kepala departemen). Tujuannya supaya anak baru tidak begitu kaget waktu dimarahi pakai nada tinggi, mata melotot, dan berkuah air liur. Aneh kan? 

Masih harus menjaga sikap

Sudah menghadapi berbagai tekanan di tempat kerja, peserta magang Jepang juga dituntut tidak impulsif dalam mengambil tindakan. Berpikir seribu kali sebelum melakukan sesuatu, termasuk ketika diperlakukan tidak adil. Sebab,  konsekuensi yang akan timbul bersifat kolektif. Orang dari satu LPK, atau daerah asal yang sama bisa terdampak. Biasanya berwujud blacklist dalam kurun waktu tertentu. Kalau  persoalan yang ditimbulkan cukup besar, blacklist selama-lamanya. 

Sementara, soal gaji, sebenarnya tidak semuanya sejahtera. Bahkan, sebagian kecil ada yang sampai mendapat zakat fitrah. Sekitar satu tahun lalu saya bertemu dengan seorang pekerja migran Indonesia di supermarket. Dia mengeluhkan gajinya yang cukup kecil jika dibandingkan dengan saya. 

Baca juga Jangan Lakukan 6 Hal Ini kalau Mau Hidup Bertetangga dengan Nyaman di Jepang.

Memang tidak semua peserta magang di Jepang mengalaminya, tapi bisa jadi catatan penting

Cerita di atas memang tidak bisa dipukul rata untuk semua orang yang ikut program magang Jepang. Namun, setidaknya itulah yang rasakan dan amati. Dan, berdasar pengalaman itu, saya jadi bisa memahami keputusan orang-orang untuk kabur. Bukan karena mental tempe, lemah, atau apalah, tapi memang situasinya sudah tidak memungkinkan, setidaknya bagi mereka. 

Sekali lagi, ini pendapat saya berdasar pengalaman dan pengamatan ya. Tidak semua orang magang di Jepang merasakannya. Ada juga yang cukup beruntung sehingga tidak perlu merasakan itu semua dan betah bekerja di Negara Sakura.

Akan tetapi, cerita di atas tetap perlu saya bagikan agar bisa jadi pertimbangan orang-orang yang hendak magang di Jepang. Tidak semuanya indah jadi perlu persiapan fisik dan mental yang sangat matang. 

Penulis: Imam Kukuh Pradana
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Orang yang Ikut Program Magang Jepang Duitnya Nggak Banyak, Jangan Dipalak!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2026 oleh

Tags: jepangkerjakerja di jepangmagangmagang di jepangWNI
Imam Kukuh Pradana

Imam Kukuh Pradana

Pemuda yang sedang menjalani hidup sebagai minoritas, sesekali turis di Negeri Sakura. Tertarik pada isu seputar sosio-kultural.

ArtikelTerkait

Kerja Paruh Waktu di Jepang agar Bisa Kirim Uang untuk Keluarga di Indonesia terminal mojok

Serba-serbi Kerja Paruh Waktu di Jepang untuk Pelajar Asing

5 September 2021
Pengalaman Kerja Part Time di Jepang Terminal Mojok

Pengalaman Kerja Part Time di Jepang: Gajinya Besar, Kerjaannya Nggak Nyantai

29 Juli 2022
hobi resign dari tempat kerja alasan ragu cara memutuskan menyesal mojok.co

4 Alasan yang Sering Membuat Orang Ragu-ragu Resign dari Tempat Kerja

31 Maret 2020
Pengalaman Naik Bus di Jepang, Satu Penumpang pun Pasti Diantar

Pengalaman Naik Bus di Jepang, Satu Penumpang pun Pasti Diantar

9 Februari 2022
Kendarai Sepeda Motor di Jepang Jauh Lebih Ribet Dibanding Mobil terminal mojok.co

Kendarai Sepeda Motor di Jepang Jauh Lebih Ribet Dibanding Mobil

26 November 2021
Rekomendasi Tujuan Pindah Kewarganegaraan Jika Level Muakmu Sudah Berlebihan terminal mojok.co

Rekomendasi Tujuan Pindah Kewarganegaraan Jika Level Muakmu Sudah Berlebihan

6 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar”

28 Mei 2026
11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu Mojok.co

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

29 Mei 2026
Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain Mojok.co

Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain

26 Mei 2026
Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026
Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.