Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Gara-gara semua orang magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri

Nayla Safhira oleh Nayla Safhira
21 Juli 2026
A A
Gara-gara pada magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri (Unsplash)

Gara-gara pada magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Coba tanya mahasiswa semester 5 ke atas hari ini soal magang. Kemungkinan besar mereka sudah punya cerita, atau minimal rencana. 

Bukan karena terpaksa, tapi karena istilah “kuliah tanpa magang” rasanya makin jarang kedengaran di obrolan mahasiswa sekarang. Fenomena ini bahkan sudah punya nama sendiri: mahasiswa kumang, singkatan dari kuliah-magang.

ADVERTISEMENT

Istilah itu awalnya muncul di kalangan mahasiswa hukum, tapi sekarang rasanya berlaku di hampir semua jurusan. Kaprodi salah satu fakultas hukum bilang, magang mahasiswa kini masuk jadi bagian penilaian resmi program studi, bukan sekadar kegiatan sampingan lagi. 

Jadi wajar kalau makin banyak mahasiswa yang menganggap satu-dua pengalaman sebagai bagian normal dari masa kuliah. Bukan lagi sesuatu yang opsional.

Yang menarik, tren ini didorong dari dua arah sekaligus, yaitu kampus dan pemerintah. Makanya, mahasiswa sekarang pasti akan melewati jalur ini, entah cepat atau lambat.

Ketika magang berubah dari bonus jadi syarat hidup

Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) mencatat lonjakan pendaftar yang signifikan sepanjang 2026. Jutaan mahasiswa aktif di seluruh Indonesia ikut mendaftar. 

Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan juga menaikkan kuota Program Magang Nasional secara tajam tahun ini. Alasannya, banyak perusahaan sekarang lebih suka kandidat yang sudah punya pengalaman kerja walaupun statusnya masih magang.

Di atas kertas, ini kedengaran seperti solusi ideal. Mahasiswa dapat pengalaman, perusahaan dapat tenaga kerja terlatih, semua senang. Tapi ada satu pertanyaan kecil yang menggelitik. 

Baca Juga:

MagangHub Kemnaker bukan tempat cari magang, tapi wadah menguji kesabaran para fresh graduate

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

Kenapa mahasiswa harus mengumpulkan pengalaman duluan sebelum lulus? Padahal dulu, urutannya biasa saja: lulus dulu, baru cari kerja, baru dapat pengalaman di sana.

Standar yang terus bergerak duluan

Ironinya justru muncul begitu mahasiswa itu lulus. Berbagai laporan tren rekrutmen 2026 menyebut jumlah lulusan baru terus bertambah setiap tahun, sementara lowongan level pemula terasa semakin terbatas. Banyak perusahaan mulai lebih melirik kandidat yang sudah punya pengalaman ketimbang fresh graduate tanpa portofolio. 

Skema perekrutan berbasis keterampilan, bukan lagi sekadar ijazah dan IPK, semakin jadi standar baru banyak perusahaan.

Jadi situasinya jadi agak lucu. Mahasiswa sudah rajin magang sejak masih kuliah, tapi begitu lulus, standarnya sudah naik lagi ke level berikutnya. 

Bukan berarti usaha itu sia-sia, cuma garis finish-nya memang kelihatan terus bergerak maju, mengikuti kecepatan pasar kerja yang berubah. Sementara waktu kuliah tetap sama, empat tahun.

Magang zaman sekarang, katanya sudah bukan sekadar fotokopi

Untungnya, citra magang zaman dulu yang identik dengan bikin kopi dan fotokopi dokumen mulai bergeser. Banyak perusahaan mitra sekarang menerapkan sistem berbasis proyek dengan target kerja nyata, bukan cuma jadi anak titipan yang duduk manis di pojok ruangan. 

Generasi Z sendiri juga makin vokal soal ekspektasi mereka. Bukan cuma mau dapat pengalaman, tapi juga pembelajaran yang bermakna dan kompensasi yang layak atas kontribusi yang mereka kerjakan.

Sayangnya, ekspektasi yang membaik di level wacana itu belum otomatis merata di lapangan. Masih banyak program yang honornya jauh dari layak, bahkan ada yang menganggap uang saku sekadar formalitas ketimbang bentuk penghargaan atas kerja mahasiswa. 

Selama masih ada gap antara narasi ideal dan praktik nyata, status magang tetap rawan dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah berkedok pengalaman.

Jadi, program ini buat siapa sebenarnya?

Semua pihak, kampus, kementerian, sampai perusahaan, punya alasan bagus untuk mendorong mahasiswa magang sebanyak-banyaknya. Tapi di tengah semua kepentingan baik itu, ada baiknya juga sesekali dicek ulang. 

Apakah ritme kuliah-magang-organisasi yang makin padat ini masih menyisakan ruang buat mahasiswa sekadar menikmati proses belajarnya, atau semua jadi berlomba-lomba mengejar checklist yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kalau program ini benar-benar dirancang untuk kebaikan mahasiswa, mungkin pertanyaannya bukan hanya “sudah magang di mana,” tapi juga “gimana rasanya menjalani semua ini, masih menyenangkan atau sudah kelewat capek?”

Penulis: Nayla Safhira

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: magangmagang unpaidMSIBprogram magangProgram Magang dan Studi Independen Bersertifikatsyarat magang
Nayla Safhira

Nayla Safhira

Mahasiswa Semester 6 Universitas UIN Ar-raniry Banda Aceh. Menaruh perhatian atas isu-isu seputar sarjana yang masih meraba-raba dunia kerja, sambil rajin nulis soal isu ketenagakerjaan dan kegelisahan anak muda. Suka ngopi sambil scroll lowongan kerja yang nggak kunjung kelar dibaca.

ArtikelTerkait

Suka Duka Jadi Kenshuusei di Jepang Terminal Mojok

Suka Duka Jadi Kenshuusei di Jepang

22 Januari 2022
4 Hal yang Harus Diperbaiki Program Magang Nasional Kemnaker

4 Hal yang Harus Diperbaiki Program Magang Nasional Kemnaker

23 Oktober 2025
gap year

Pertimbangkan Gap Year Kalau Masih Bingung Pilih Jurusan

23 Juni 2019
Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

Siapa Bilang Organisasi Kampus Nggak Lagi Relevan? Sembarangan!

15 Februari 2023
Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

13 Januari 2024
Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja Mojok.co

Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja

8 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.