Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Malangnya Penumpang Trans Jogja, Bertahan karena Tidak Punya Pilihan Lain

Ifana Dewi oleh Ifana Dewi
20 Agustus 2025
A A
Malangnya Penumpang Trans Jogja, Bertahan karena Tidak Punya Pilihan Lain Mojok.co

Malangnya Penumpang Trans Jogja, Bertahan karena Tidak Punya Pilihan Lain (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kekurangan Trans Jogja banyak, tapi warga tidak punya pilihan transportasi lain di Kota Pelajar ini. 

Transportasi umum merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sebuah kota. Ia setara dengan layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Apalagi, jika mobilitas kota tersebut sangat hectic, seperti Jakarta dan Jogja. Maka sewajarnya pemerintah membuat jalan kemudahan bagi warganya.

Sebagai orang Jakarta, saya terbiasa menggunakan transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari. Dibanding daerah lain, konon katanya Jakarta punya transportasi publik paling mending di Indonesia. Orang Jakarta jadi terbiasa naik kendaraan umum untuk sekolah, kerja, atau sekadar jalan-jalan. 

Selama di Jakarta saya senang-senang saja naik transportasi umum, terlebih Transjakarta. Jumlah armada yang banyak, tak membuat penumpang membuang-buang waktu. Terlebih bus menjangkau daerah yang cukup luas. Kalau soal biaya, jangan tanya, sudah pasti oke. Hanya saja, penyakit macet agaknya memang sulit disembuhkan oleh pemkot Jakarta. Dan, karena inilah transportasi kereta seperti KRL, MRT, dan kini LRT menjadi pilihan. 

Awal menjajal Trans Jogja

Ketika pindah ke Jogja 7 tahun silam, saya bawa kebiasaan naik transportasi umum di tempat tinggal baru ini. Saya pikir Jogja akan seperti Jakarta. Ternyata saya salah. Walau namanya mirip, ternyata ada perbedaan yang signifikan antara TransJogja dan Transjakarta.

Asal tahu saja, dahulu saat awal pindah ke Jogja, saat masih Aliyah (pendidikan setara SMA yang dikelola oleh Kementerian Agama), nyaris tiap Jumat saya selalu pergi jalan-jalan. Saya menggunakan Trans Jogja untuk mengelillingi kota karena harganya yang ramah di kantong. Di sisi lain, di Jogja memang tidak ada angkot dan kereta. 

Kebiasaan menggunakan Trans Jogja berhenti sementara saat saya lulus Aliyah dan masuk dunia kuliah. Selama kuliah, saya kebetulan memiliki banyak teman yang biasa saya tebengi hingga depan kampus. Jadi tak perlu menggunakan trans untuk ke kampus. Sebuah nasib baik.

Pelanggan bukan berarti penikmat

Sekarang saya sudah lulus kuliah. Tidak ada lagi kawan yang biasa ditebengi. Saya kembali rutin menggunakan transportasi satu ini untuk pulang pergi kerja. Mau tidak mau saya kembali menjadi pengguna Trans Jogja lagi.

Baca Juga:

Dear Wisatawan, Pakai Bahasa Jawa di Jogja Tak Lantas Bikin Harga Barang yang Kamu Beli Jadi Lebih Murah

4 Hal yang Dikangenin dari Bandara Adisutjipto Jogja yang Nggak Akan Ditemukan di YIA

Jarak tempat saya tinggal dengan kantor cukup jauh. Sejauh 19 kilometer atau setara dengan 1 jam perjalanan normal. Eits, ini kalau ditempuh pakai motor ya. Lain ceritanya kalau ditempuh menggunakan Trans Jogja. Biasanya, saya menghabiskan satu setengah jam, atau bahkan pernah sampai 2 jam perjalanan. Dua kali lipatnya dari waktu tempuh perjalanan menggunakan sepeda motor.

Ironisnya, hampir 7 tahun berlalu, armada Trans Jogja yang saya tumpangi saat ini tidak beda jauh dengan pertama kali saya sampai di Jogja. Hanya sistem yang kini sudah melayani pembayaran digital. Lainnya? Sama saja. Lebih buruk malah karena waktu tunggu yang samakin lama di beberapa rute. 

Sebagai pendatang jujur saja saya resah. Tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat perubahan yang signifikan. Namun, kesempatan itu tidak digunakan oleh Trans Jogja. Transportasi publik yang satu ini semakin tertinggal dengan Transjakarta di Jakarta. 

Menurut saya, ada baiknya, dan memang patutnya, pemerintah Kota Jogja tak hanya sibuk mengurusi budaya. Memang, daya tarik Jogja ada di budayanya. Tapi kan transportasi umum juga tak kalah penting dari budaya. Lagipula, transportasi umum yang baik tak hanya berkontribusi mengurangi kemacetan, tapi juga dapat menyedot wisatawan lebih banyak.

Sederet kekurangan dan solusinya

Jika tidak bisa mengimbangi Jakarta yang memiliki ragam transportasi umum, setidaknya keresahan beserta solusi saya berikut ini bisa jadi pertimbangan.

Sejauh pengalaman saya, jarak antar titik pemberhentian masih terhitung jauh untuk pejalan kaki. Setiap harinya, saya perlu menempuh jarak 700 meter dari tempat tinggal saya ke titik terdekat pemberhentian bus. Selayaknya, ada penambahan titik di setiap penjuru kota.

Belum lagi, rata-rata waktu tunggu bus sangatlah lama dan tak menentu. Persis menunggu kepastian doi. Kalau saja saya tak memiliki kecerdasan spiritual, boleh jadi saya sudah lama depresi menghadapi keresahan ini. Sialnya, saya pernah membuang waktu setengah jam hanya untuk menunggu bus datang. Seharusnya, pengelola Trans Jogja bisa bekerja sama entah dengan swasta atau pihak lain untuk penambahan armada.

Kalau soal sopir yang ugal-ugalan, sepertinya sudah menjadi keluhan klasik. Semua penumpang bisa merasakan. Malah, saking ugal-ugalan, saya pernah nyaris berpelukan dengan penumpang lain ketika bus bermanuver. Untung saja saat itu terhalang oleh ransel yang sengaja saya taruh depan. Kalau tidak? Entah bagaimana ending-nya. 

Dan, tak jarang saya mendapati bus yang kerangkanya sudah aus. Bagian pintunya sudah berkarat dan bolong. Pendinginnya juga tidak bekerja maksimal. Sepertinya pengelola Trans Jogja perlu banyak perbaikan. 

Alasan saya bertahan menggunakan Trans Jogja

Tak lain dan tak bukan, alasan utama saya masih bertahan menggunakan Trans Jogja adalah biayanya yang ramah kantong. Meskipun lambat, Trans Jogja menghemat biaya pengeluaran transportasi saya hingga 70 persen dibanding ojek online.

Adapun alasan lainnya, ada di jarak tempat tinggal dengan kantor yang cukup jauh. Mengingat jadwal kegiatan saya yang padat, selama dan sejauh itu saya bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat (tidur) yang sangat kurang itu.

Selain itu, kalau tidak ngantuk, saya jadi punya banyak waktu untuk membaca buku. Kesempatan yang belakangan jarang saya temukan jika tidak sedang naik bus. Sesekali saya memilih menikmati pemandangan hilir mudik jalanan Kota Jogja (kalau terpaksa tak kebagian kursi dan harus berdiri).

Dan, itulah yang setidaknya membuat saya bertahan menggunakan Trans Jogja dengan sederet kekurangannya. Seandainya ada pilihan transportai publik lain yang bisa memangkas waktu dan lebih nyaman, jelas saya akan pertimbangkan hal itu. 

Penulis: Ifana Dewi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Stiker UII di Trans Jogja Bikin Kaget dan Prihatin Sekaligus.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2025 oleh

Tags: bus jogjaJogjatrans jogjatransportasi publiktransportasi publik Jogja
Ifana Dewi

Ifana Dewi

Seorang hamba amatir yang sedang menekuni seni kehidupan. Satu-satunya hal yang ia kuasai dengan baik hanyalah cara menikmati secangkir kopi

ArtikelTerkait

Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24/7 terminal mojok.co

Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24/7

5 Juli 2021
Magelang dan Temanggung: Kota yang Terjebak dalam Bayang-Bayang Jogja dan Semarang

Magelang dan Temanggung: Dua Kota yang Terjebak dalam Bayang-Bayang Jogja dan Semarang

6 Maret 2025
Bioskop Permata Jogja: Berdiri Sejak Zaman Belanda, Pernah Jadi Primadona, Kini Tinggal Cerita

Bioskop Permata Jogja: Berdiri Sejak Zaman Belanda, Pernah Jadi Primadona, Kini Tinggal Cerita

4 Januari 2024
Membandingkan Perjalanan Solo-Jogja, Mending Naik Bus Suharno Atau KRL?

Membandingkan Perjalanan Solo-Jogja, Mending Naik Bus Suharno Atau KRL?

3 Oktober 2023
4 Rekomendasi Sarapan Kurang dari Rp10 Ribu di Jogja biar Nggak Soto dan Gudeg Melulu

4 Rekomendasi Sarapan Kurang dari Rp10 Ribu di Jogja biar Nggak Soto dan Gudeg Melulu

12 Februari 2025
Kalau Jogja Bikin Muak, Purwokerto ternyata Bikin Saya Menyesal (Unsplash)

Jogja Bikin Muak, Purwokerto Bikin Menyesal: Kisah 2 Kota yang Menjadi Korban Jahatnya Romantisme karena Mengaburkan Realita yang Ada

11 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living

13 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Aktif Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal Mojok.co

SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal

11 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

11 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan
  • Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja
  • Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa
  • Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia
  • Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental
  • Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.