Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

Redaksi oleh Redaksi
23 Maret 2026
A A
Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO

Ilustrasi Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Arus balik Lebaran adalah etalase paling nyata melihat laju urbanisasi di Indonesia. Banyak anak muda meninggalkan desa karena terbujuk oleh teman atau saudara tentang cerita sukses bekerja di kota. Tak sedikit yang datang tanpa bekal keahlian, hanya modal nekat.

Lebaran seringkali jadi ajang para perantau untuk menceritakan kisah suksesnya bekerja di kota. Cerita dari teman atau keluarga tersebut seringkali membius anak-anak muda untuk mengadu nasibnya dengan pergi ke kota untuk bekerja. Tanpa tahu bahwa cerita itu mungkin penuh polesan dan ilusi.

Mereka mungkin akan bercerita, di kota uang mudah didapatkan. Asal ulet dan mau kerja keras nggak sulit dapat uang di kota. Tidak sepenuhnya salah, tetapi itu bisa jadi cara yang mereka lakukan untuk menunjukkan ke lingkungan pergaulan mereka di desa agar tidak dianggap gagal

Liputan Mojok banyak mengulas bagaimana kisah semu dari apa yang disebut kesuksesan para perantau. Gaji Rp4 juta di kota besar mungkin terlihat menggiurkan. Tetapi, nggak ada gunanya jika nggak tersisa karena biaya hidup yang sangat tinggi. 

Gemerlap gaya hidup di kota seringkali juga jadi daya tarik bagi anak muda untuk keluar dari desanya. Namun, mereka harus membayarnya dengan mahal. Bisa fisik yang hancur-hancuran, atau mental yang remuk. 

Mereka yang datang ke kota bisa jadi juga tergiur narasi sukses teman atau kerabat yang lebih dulu bekerja di kota. Namun, ada sisi-sisi gelap yang tidak mereka ceritakan. Gaji di kota mungkin besar, tapi biaya hidup di kota juga sangat besar. Menabung bisa jadi hal yang sangat sulit bagi perantau. Pendapatan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Saat pulang kampung, perantau mungkin tampil dengan fesyen kekinian atau memakai gawai mahal, tanpa menceritakan pekerjaan yang mereka jalani sebenarnya. Bahkan tak sedikit yang menyewa gawai atau kendaraan agar ketika pulang, dianggap sukses. 

Kenyataannya, tidak sedikit dari mereka yang bekerja serabutan dengan upah minim, atau terpaksa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Modal jika ingin bekerja di kota

Tidak ada larangan untuk pergi ke kota dan mencari nafkah di sana. Namun, harus dipahami bahwa pekerjaan impian, pasti membutuhkan keahlian. Bukan sekadar nekat atau menyerahkan diri pada nasib. 

Pemerintah juga seharusnya punya peran dengan melihat desa bukan sekadar penyangga kota. Desa juga punya kedaulatan ekonominya. Warga desa seringkali kesulitan untuk memetakan sumber daya yang mereka miliki. Potensi itu lagi-lagi kemudian hanya dinikmati oleh orang-orang kota. 

Revitalisasi desa seharusnya fokus dalam hal pemberdayaan manusia. Pemerintah perlu memberikan akses permodalan yang mudah, pelatihan literasi digital, dan jaringan pasar yang luas. Jika seorang anak muda di desa bisa menjual potensi desanya maka bisa mengurangi laju urbanisasi.

Beberapa kali Mojok mengangkat anak-anak muda yang memilih untuk tetap tinggal di desa. Menggerakan ekonomi desanya tanpa merantau. Mereka orang-orang yang percaya bahwa tidak selalu harus ke kota untuk sejahtera. Kisah, Narko, seorang petani kopi dari Desa Rahtawu, Kabupaten Kudus, bisa jadi contohnya. Ia bersama anak-anak muda di desanya menggeliatkan ekonomi desa lewat kopi. 

Tentu, ada banyak cerita selain Mas Narko. Ada banyak anak-anak muda yang membuka lapangan kerja di desanya. Karena mereka, desa tidak ditinggalkan anak-anak mudanya. Mereka juga yang menggerakan ekonomi desa. 

Tidak ada larangan merantau atau bekerja di kota. Namun, kota akan menjadi tempat yang ramah bagi mereka yang datang dengan bekal keterampilan yang cukup dan pemahaman akan realitas di dalamnya. Tanpa bekal dan hanya modal nekat, kota hanyalah labirin yang akan menghisap tenaga dan harapan orang-orang yang datang sekadar untuk adu nasib.

Iklan

Redaksi

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: Desakotatajukurbanisasi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO
Tajuk

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
Punya teman kos NPD alias narsistik menguras energi dan memuakkan MOJOK.CO

Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi

6 Mei 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
5 tahun pakai WHV di Australia, kena mental. MOJOK.CO

Sisi Gelap Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos, Sadar bahwa Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta

2 Mei 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.