Kapan Jogja punya sirkuit balap permanen? Ini adalah pertanyaan banyak orang di Yogyakarta. Bagaimana mungkin, Jogja yang konsisten melahirkan banyak pembalap road race tingkat dunia justru tidak memiliki satu pun sirkuit permanen?
Sejak era “Dewa Road Race Indonesia” Hendriansyah, lalu Doni Tata Pradita yang menjadi pembalap Indonesia pertama di Grand Prix 250cc dan Moto2, hingga kini lahir tiga anak muda yang mewarnai balap motor dunia, sirkuit permenan itu belum pernah ada.
Ya, saat ini setidaknya Yogyakarta memiliki tiga anak muda berbakat yang berkompetisi di seri balap motor tingkat dunia: Kiandra Ramadhipa asal Sleman, Veda Ega Pratama asal Gunungkidul, dan Aldi Satya Mahendra asal Bantul.
Nama pertama, Kiandra Ramadhipa, baru saja merebut podium tertinggi pada putaran kedua FIM Moto3 Junior World Championship (JuniorGP) di Circuito do Estoril, Portugal. Setelah naik podium kedua pada putaranpertama, Ramadhipa kini kokoh menduduki peringkat kedua klasemen sementara setelah menang di putaran kedua
Di tahun yang sama juga, Ramadhipa ikut pencarian bakat bergengsi Red Bull MotoGP Rookies Cup 2026, dimana ia mencetak kemenangan dramatis lewat aksi comeback sensasional dari posisi start ke-17 di Sirkuit Jerez, Spanyol pada 26 April 2026. Kemenangannya di sirkuit tersebut jadi perbincangan dunia. Di kompetisi ini, Ramadhipa, menempati peringkat keempat klasemen sementara Red Bull MotoGP Rookies Cup 2026.
Pembalap kedua, Veda Ega Pratama, telah menjelma sebagai ikon pencetak sejarah baru bagi dunia balap motor Indonesia di panggung Grand Prix dunia. Remaja kelahiran Wonosari ini sukses menembus level tertinggi sebagai rookie di ajang kejuaraan dunia bergengsi Moto3 World Championship 2026 bersama tim besar Honda Team Asia. Veda saat ini duduk diperingkat enam klasemen.
Terakhir, ada Aldi Satya Mahendra, anak muda asal Bantul yang mengukir sejarah emas dengan menjadi Juara Dunia World Supersport 300 (WorldSSP300) musim 2024. Kini di musim 2026, ia naik kelas ke World Supersport (WorldSSP) dan baru saja merebut podium ketiga pada Race 2 di Sirkuit Misano, Italia, yang menempatkannya di peringkat ke-10 klasemen dunia keseluruhan.
Realitas pahit karena tak punya sirkuit balap permanen
Ironisnya, di Yogyakarta, pembalap-pembalap kelas dunia tersebut sehari-hari harus bertaruh nyawa berlatih di sirkuit non-permanen. Mantan pembalap internasional Doni Tata Pradita mengungkapkan realitas pahit bahwa mereka hanya mengandalkan halaman parkir Stadion Mandala Krida dan area pasar sapi.
Kondisinya kini kian terjepit; akibat faktor kebisingan, jadwal latihan di Mandala Krida dipangkas ketat menjadi hanya dua kali seminggu (Selasa dan Sabtu), sehingga para pembalap terpaksa harus mengungsi ke Boyolali setiap akhir pekan demi mencicipi sirkuit permanen.
Hingga saat ini, pembangunan sirkuit permanen di DIY masih sekadar menjadi komoditas wacana dari tahun ke tahun. Minimnya perhatian terhadap fasilitas balap ini sangat bertolak belakang dengan prestasi rider asli Jogja yang terus berkembang pesat di level global.
Sebenarnya, opsi itu ada. Tahun lalu, Ketua Umum IMI DIY, KPH Purbodiningrat, menjelaskan opsi pemanfaatan lahan Sultan Ground (SG) atau Tanah Kas Desa (TKD) seluas 10 hingga 15 hektar di kawasan Sleman atau Bantul (Tribun Jogja, 22/4/2025). Pekan lalu, angin segar kembali berembus saat Kabid Binpres KONI DIY, Wesley Heince Parera Tauntu, menyebut adanya langkah maju terkait penyediaan lahan di sekitar kawasan Candi Ratu Boko, Prambanan, Sleman (10/6/2026).
Pemerintah daerah harus sadar bahwa sirkuit permanen bukan sekadar urusan hobi mahal, melainkan sebuah investasi sosial. Kejahatan jalanan (klitih) dan prestasi balap dunia sebenarnya lahir dari hulu yang sama: surplus energi dan nyali remaja. Bedanya, Ramadhipa, Veda, dan Aldi beruntung energinya tersalurkan ke jalur profesional, sementara ratusan remaja lain yang tanpa wadah akhirnya memilih senjata tajam di jalanan umum malam hari.
Kini bola panas berada sepenuhnya di tangan pemangku kebijakan publik di Yogyakarta. Apakah Pemda DIY mau bergerak cepat merealisasikan sirkuit balap ini, atau tetap nyaman menjadi penonton yang bangga secara gratisan saat para pembalap pulang membawa piala?
Publik tentu menuntut agar ke depan, halaman media tidak lagi dipenuhi oleh berita ngeri kejahatan jalanan, melainkan gaung prestasi anak-anak Jogja yang sukses menaklukkan aspal dunia. (*)
BACA JUGA Kiandra Ramadhipa Juara di Race Moto3 Estroil 2026!














