Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Orang Timur Bilang Jawa-sentris, Orang Jawa Bilang: Jawa itu Jakarta-sentris

Nurhidayah oleh Nurhidayah
21 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketika orang timur merasa bangsa ini terlalu Jawa-sentris, di Jawa saya melihat kalau kami juga ditindas kultur Jakarta. Sama-sama merasa tertindas kok.

Dari berbagai penulis yang karyanya saya baca di Mojok, penulis dari kawasan Indonesia timur sering membuat saya tertarik.

Pertama, karena saya jadi tahu seperti apa cara pandang orang timur. Kedua, karena mengingatkan pada kawan saya yang juga dari timur. Dan ketiga, karena saya suka dengan gaya bahasa yang digunakan.

Di otak saya, gaya bahasa orang timur adalah kombinasi antara kultur santai dengan jiwa blak-blakan. Beda sekali dengan kami di Jawa Mataram, yang lebih sering hati-hati dan sembunyi-sembunyi karena tinggal dekat kekuasaan, kalau salah ngomong kan berabe.

Nah kali ini, saya ingin berbagi pandangan pribadi sebagai orang Jawa, khususnya Jogja ke orang timur dan Jakarta. Hanya, saya akan bicara dari pengalaman sendiri saja, bukan dari teori-teori ilmiah.

Kebetulan, dari interaksi saya dengan kawan-kawan dari timur, saya menemukan sesuatu yang unik, meski ya… agak sedikit sensitif. Hehe.

Pertama, orang Jogja sering memandang nestapa ke orang timur. Bayangan mereka mengenai daerah timur adalah ketidakmajuan dan hutan belantara. Saking mengakarnya pandangan ini, teman saya yang sesama orang Jogja pernah berkata ke teman kami orang Makassar, “Di Makassar ada eskalator tidak?”

Astaga, sedetik setelah pertanyaannya itu dilontarkan, saya langsung malu mengakuinya sebagai teman. Hus, hus, sana, kamu bukan temenku!

Di sisi lain, meski dipandang tertinggal, orang Jogja versi mahasiswa angkatan dan kampus saya justru sering melihat orang timur sebagai orang kaya. Well, jujur saja, kalau di desa-desa, orang timur memang akan dianggap miskin (maaf ya teman-teman). Tapi kalau di angkatan saya, muka-muka timur terutama melanesia justru diasosiasikan dengan kekayaan. Mutiara hitam secara harfiah!

Pernah suatu kali seorang teman cerita, “Di sini, orang Papua didiskriminasi, nyari kos-kosan susah. Makanya, kemarin waktu dapat, sa langsung bayar DP dua juta. Tapi baru sadar kalau kosnya kejauhan, ya sa nyari kos lagi.”

Cerita ini tentu saja dituturkan dengan logat timurnya, tapi maaf saya cuma ingat istilah “sa” saja.

Teman saya sendiri sebetulnya bukan orang Papua. Ia berasal dari Maluku. Namun ia selalu dianggap dari Papua di sini.

Saya langsung “glek” mendengar ceritanya. “Glek” saya bukan semata-mata karena masalah diskriminasi para pemilik indekos pada orang Papua. Tentu saja saya prihatin, tapi apalah saya ini cuma mahasiswa miskin. Anyway, “glek” saya juga bentuk ekspresi betapa santainya teman saya kehilangan dua juta rupiah.

Saya bilang padanya, apa dia tidak sayang dengan uang dua juta itu? Teman saya memberi jawaban yang membuat saya merasa lebih miskin dari biasanya. Oleh sebab seperti inilah, orang timur sering dipersepsi sebagai orang kaya di lingkar pergaulan kampus saya.

Iklan

Tentu saya tidak menggeneralisir, saya hanya menjabarkan pandangan orang-orang di sini. Pandangan ini sendiri tentunya tidak benar. Sebab, logikanya, kebanyakan yang bisa kuliah di Jawa adalah mereka yang ekonominya memang lebih maju atau mendapat beasiswa.

Mempercayai stereotip ini juga agak membahayakan sebab orang bisa menganggap bahwa ketimpangan pembangunan tidak terjadi. Padahal, Jawa-sentris itu nyata, Mas, Mbak.

Bicara soal Jawa-sentris kadang membuat saya agak sensi karena mengusik rasa kesukuan saya. Sebab seringkali Jawa-sentris dibarengi dengan anggapan bahwa Indonesia ini dijajah Jawa. Istilah kerennya Java Empire. Istilah kearifan lokalnya, Majapahit Gaya Baru.

Akan tetapi ketika saya coba berpikir dingin, sebetulnya istilah “Java Empire” itu ada benarnya. Rasanya tak perlu kan dijelaskan bahwa Jawa pada masa lalu memang menjadi penyedot kekayaan pulau lainnya di Indonesia?

Uniknya, meski orang Jawa bisa mengakui bahwa pulau mereka terlalu diprioritaskan, namun—jangan salah—kami justru sering merasa ditindas Jakarta lho.

Saya pernah bilang begini ke kawan saya yang dari timur, secara kultural, orang Jawa merasa tertekan dengan Jakarta. Miris dengan gaya bicara ke-jakarta-jakarta-an di radio daerah di Jawa.

Ini belum stereotipe orang Jawa yang ndeso dan miskin di televisi nasional, dan seterusnya. Dari segi ekonomi, orang Jawa merasa pemerintah terlalu Jakarta-sentris sampai-sampai orang Jawa harus ke Jakarta pula demi sesuap nasi.

Teman saya garuk-garuk kepala mendengar ocehan saya ini. Sebab dalam pandangannya, orang Jakarta itu ya orang Jawa.

Jangankan orang Jakarta, orang Sunda saja kadang disamakan dengan Jawa kok. Dengan kata lain, di sini ada cara pandang yang tumpang tindih, terutama soal tafsir apa itu Jawa.

Ekses perbedaan ini kadang lucu aja. Bayangkan, suatu hari seorang artis bernama Sumirah menunjukkan kejawaannya tiap kali pentas di ibukota.

Bagi orang Jawa, yang dilakukan Sumirah ialah dobrakan pada dominasi Jakarta. Ndeso yo ben! Tapi ketika itu dilihat orang luar Jawa (bukan timur aja), pesannya belum tentu sampai. Bisa jadi justru dianggap bentuk lain hegemoni Jawa.

Terus yang benar yang mana? Atau jangan-jangan orang Jakarta sendiri merasa tertindas oleh entitas lain?

Ah, menurut saya sih masing-masing pihak punya pihak penindasnya. Kalau merasa ditindas, orang Jakarta mungkin juga merasa ditindas modernitas. Lagipula, tulisan ini tidak sedang mencari kesalahan dan kebenaran. Saya cuma ingin berbagi bincang-bincang santai saja.

Anyway, pandangan lain yang tak kalah menggelitik adalah mengenai Orba. Iya, Orde Baru itu.

Orba sering dianggap sebagai salah satu sumber munculnya anggapan Jawa-sentris, tapi lucunya, meski Jawa diuntungkan, saat ini partai yang menang di provinsi-provinsi Jawa malah bukan partai yang kental aroma Orba-nya.

Jawa Tengah jadi basis PDIP, sedangkan PKB punya tempat tersendiri di Jawa Timur. Adapun di Jogja, dua partai yang punya kedekatan di masyarakat adalah PDIP, PPP, dan PAN.

Nah, yang mungkin perlu dicermati, Orba adalah Jawa yang segmented. Orba adalah sebuah kekuasaan Jawa ningrat. Jawa jelata sendiri ada di segmen kelas yang berbeda dibanding Jawa yang biru. Kalau Jawa ningrat bicara soal bibit bebet bobot, Jawa rakyat jelata akan bernyanyi riang bersama biduan dangdut di lapangan yang becek.

Saya tidak mencari pembenaran di sini. Kami di Jawa memang lebih diuntungkan. Tapi kalau melihat kondisi di Jawa sendiri, seringkali kekayaan yang diserap itu pun hanya mengalir di kalangan segelintir elite saja. Lalu dalam perkembangannya, kami yang kere dan jelata ini jadi kena imbasnya.

Teman saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan saya. Namun ia tetap protes karena pada faktanya Presiden Indonesia selama ini selalu dari Jawa—kecuali BJ Habibie. Itu pun Pak Habibie juga cuma sebentar karena menggantikan posisi Pak Harto.

“Mana ada Presiden Indonesia yang asli dari Jakarta, (hampir) semuanya Jawa kan?” katanya.

Saya terdiam sejenak. Tiba-tiba saya jadi berpikir. Ketika orang timur merasa Indonesia terlalu Jawa-sentris, kami orang Jawa justru merasa kalau (Pulau) Jawa ini terlalu Jakarta-sentris, lalu tiba-tiba muncul juga pandangan orang Jakarta kalau Pemimpin Pemerintahan Indonesia terlalu (suku) Jawa-sentris lagi.

Di saat itulah saya kemudian percaya, kalau semua ini sebenarnya karena filosofi: urip kuwi mung perkara sawang sinawang, sebuah filosofi yang bisa dimaknai kalau manusia emang cenderung melihat orang lain punya nasib lebih mujur. Lalu melihat diri sendiri selalu penuh kekurangan.

Seperti orang timur yang merasa tidak seberuntung orang yang tinggal di Pulau Jawa, lalu orang Jawa yang merasa tidak seberuntung orang yang tinggal di Jakarta, dan—balik lagi—orang di Jakarta yang merasa tidak seberuntung sama orang asli Jawa.

Sebentar, setelah saya ingat-ingat lagi, filosofi yang saya pakai pun ternyata Jawa-sentris lagi ya? Duh.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2019 oleh

Tags: jawa-sentrisorang jawaorang timur
Nurhidayah

Nurhidayah

Mahasiswa Pascasarjana, tinggal di Bantul.

Artikel Terkait

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
jawa, orang jawa, orde baru.MOJOK.CO
Ragam

Program Pemerintah Kolonial Belanda dan Orde Baru Jadi Penyebab Orang Jawa Ada di Mana-mana

6 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
Vario 150, Motor Honda Terbaik Wujud (Cicilan dan) Kasih Ibu MOJOK.CO

Vario 150: Motor Honda Terbaik tapi Paling Mengancam Kewarasan dan Bikin Malu, Takut Gak Bisa Nyicil Setelah Jadi Pengangguran Akhirnya Diselamat Ibu

21 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.