• 584
    Shares

MOJOK.CO – Sederet prestasi fantastis Edy Rahmayadi di PSSI, Sumut, dan PSMS itu kagak ada apa-apanya dibanding keberanian Ali Sadikin dari satu jabatan saja: Gubernur Jakarta.

Tai pedut, sia!”

Kurang lebih berarti, “kentut, lu!”

Itu kata-kata ikonik Bang Ali Sadikin yang bisa nyerocos keluar kapan saja dan di mana saja dari mulutnya. Kadang kalimat tersebut diucapkan sambil rada nunggingin bokong dan menunjuknya. Gubernur Jakarta (dulu Daerah Khusus Ibukota/DKI Jakarta), 1966 sampai 1977 ini terkenal tidak banyak omong, tapi tegas dan gualaknya naujubileh.

Dalam sejarah kepala-kepala daerah, kita pernah dengar kegalakan Ahok. Lalu masih anget-anget bubur ayam, jagat sosmed kemarin diributkan oleh aksi sepihak Gubernur Sumatera Utara aka Ketum PSSI aka Pembina PSMS Medan, Edy Rahmayadi, yang nampar menyentuh pipi suporter PSMS kemudian dilanjutkan fenomena apa-hak-anda-bertanya-ke-saya bareng Aiman Wicaksono.

Dari sederet prestasi fantastis tersebut semua itu nggak ada apa-apanya dibanding galak dan beraninya Bang Ali Sadikin. Apalagi kalo lihat kebijakan populis Ali Sadikin yang berani, tangan besi, dan pasang badan. Halah, Ahok dan Edy Rahmayadi mah siapa?

Perkara sentuh-pipi-orang nih, bukan cuma Edy Rahmayadi yang punya cerita. Satu pagi di Lapangan Banteng, Jakarta, Bang Ali sidak. Dia menemukan lima petugas kebersihan yang mestinya kerja bersih-bersih, malah pada asyik nongkrong, ngobrol sambil ngopi.

Keruan aja Ali Sadikin marah. Setelah keluar mantra “tai pedut” itu, kelima petugas kebersihan itu dijejer berdiri. Lalu, plak, plok, plak, plok, ditabokin satu per satu. Ali Sadikin ketika itu sudah Letjend KKO Angkatan Laut, dan rajin fitnes. Kalau Edy Rahmayadi baru satu dua orang, Bang Ali satu deret dan di hadapan semua orang.

Ditabok marinir pangkat kopral aja bisa bikin kita kelenger. Kebayang dong ditabok jenderal bintang tiga marinir yang rajin fitnes? Bukan hanya ke bawahan, Ali Sadikin galak. Kalau dia menemukan penumpang atau kelas menengah ngehe buang sampah sembarangan dari kaca jendela mobilnya, bisa diudak itu orang, ditabok, lalu disuruh mungut kembali itu sampah.

Kendati galak, tegas, dan keras, Ali Sadikin dikenal sebagai Gubernur Jakarta yang merakyat. Dia mencintai dan dicintai rakyat Jakarta. Letjen yang belum ada bandingannya sampai saat ini. Masyarakat Jakarta memanggilnya Bang Ali. Itu panggilan penghormatan dan kultural. Mulai Bang Ali-lah, para gubernur Jakarta juga latah ngarep dipanggil “Bang Anulah, Bang Inilah.” Orang Betawi bilang “tembuhuk netes”.

Bang Ali lah yang meletakkan dasar-dasar kota Jakarta sebagai kota metropolitan. Para gubernur sesudahnya, hingga kini, hanya meneruskan. Bukan tidak mungkin Jakarta kemudian dicontek dan dijadikan model kota-kota provinsi lain.

Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM) dibangun pada masa Bang Ali. Kebun Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Jakarta, dan memproteksi kawasan Condet sebagai wilayah pelestarian budaya Betawi dan kebun-kebun Salak dan Dukunya. Walaupun Condet saat ini kondisinya sudah rusak berat, padat. Tak ada lagi salak condet yang kondang. Ludes semua.

Baca juga:  Ahok, yang Kini Ingin Dipanggil BTP, Resmi "Berjaket" PDIP

Di kawasan Monas, pada masa peringatan ulang tahun Jakarta dulu, selalu diselenggarakan Jakarta Fair. Sarana hiburan dan promosi bagi industri barang dan jasa dari seluruh Indonesia dan luar negeri.

Sekarang, seiring dengan semakin sumpeknya Jakarta, lokasi Jakarta Fair dipindah ke Kemayoran. Selain itu, pas di hari ulang tahun Jakarta, 22 Juni, Bang Ali menggelar pesta rakyat. Jalan Thamrin ditutup. Panggung-panggung kesenian rakyat Betawi digelar. Ondel-ondel ter-iteran ngibing sana-sini. Para pedagang kuliner Betawi seperti kerak telor dan sebagainya mengisi tepian-tepian jalan.

Jenderal galak ini juga mencintai seni dan para seniman. Selain membangun dan mensubsidi TIM, Bang Ali juga memberi perhatian khusus pada perumahan artis dan bintang film dan kemudahan-kemudahannya. Perumahan seniman Tangkiwood di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, dia bangun.

Kebetulan lokasi itu dekat dengan gedung pertunjukan Taman Hiburan Rakyat Lokasari. Berlokasi di gang Tangki, nama “wood” dicopas dari Hollywood, jadilah Tangkiwood. Bukan maen dah, ah!

Membangun Jakarta dengan Uang Haram

Ekonomi negara sedang rada susah ketika itu, tidak punya uang setelah kisruh politik dari Orde Lama ke Orde Baru. Lalu dari mana uang yang digunakan Bang Ali membangun Jakarta?

Nah, inilah kebijakan yang kagak mungkiiiinn berani ditiru Ahok, Edy Rahmayadi, atau semua gubernur se-Indonesia dijadikan satu.

Bang Ali melegalkan perjudian dan prostitusi. Lokasi-lokasi perjudian resmi dibangun di beberapa titik. Yang tidak resmi kagak terhitung, masuk ke gang-gang di Jakarta. Sampai di halaman luar sekolah aja ada orang yang menjual judi lotere dan koprok.

Ada yang berhadiah uang seperti laiknya judi, ada juga yang berhadiah mainan atau makanan. Buah Manggis, pada musimnya, selalu dijual di depan sekolah. Anak sekolah yang membelinya bukan hanya untuk dimakan, bukan. Buat main tebak-tebakan isi buah Manggis dengan taruhan uang.

Legalisasi prostitusi pertama dilakukan di Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Kemudian berkembang juga ke Pejompongan (Pejompongan Indah) dan Tanah Abang (Bongkaran Indah). PI dan BI.

Dan mungkin karena sejak dulu ada banyak warga keturunan Arab, ehem, di kedua wilayah itu, maka PI dan BI, sering juga disebut “Fa Alif” dan “Ba Alif”. Ancur, dah.

Yang keren, menurut catatan Engkong Ridwan Saidi yang dulu adalah politisi PPP, PPP menang di Kramat Tunggak pada pemilu 71. Memang rasanya, baru pada Pemilu 71 inilah, PPP menang di Jakarta. Dan karena itu Diktatur Suharto, yang sensi dengan popularitas Bang Ali yang semakin menggila dan susah dikendalikan, menghabisi karier politik Bang Ali setelah jabatannya berakhir pada 1977.

Baca juga:  Siapa Bilang Negara Syariat Islam Menghukum Koruptor dengan Potong Tangan?

Ya, dengan uang pajak judi dan prostitusi itulah—sebagian—Bang Ali punya duit untuk bangun Jakarta. Bukan tanpa kritik. Sejumlah ulama pernah mengkritik kebijakan Bang Ali yang membangun jalan dengan uang haram.

Dengan tegar dan berani, Bang Ali berkata: “Oke, silahkan kalian kritik. Tapi awas, kalau jalan-jalan yang saya bangun dengan uang haram ini sudah jadi, jangan pernah injak atau gunakan jalan-jalan itu!” Itulah semangat Jalesveva jayamahe para marinir.

Sangar, kan? Ada gubernur sekarang yang berani bersikap dan bertindak kayak gitu? Bisa dihalalin darahnya. Dan bisa jadi perkara berjilid-jilid banyaknya.

Perlawanan Tanpa Front

Karena Golkar dibuat keok oleh PPP di DKI pada 1971, Bang Ali yang punya karier di pemerintahan sejak periode Sukarno dan namanya semakin harum dan populer di mata rakyat, Suharto mulai merem melek was-was. Setelah 1977, Bang Ali masuk kotak. Musisi dan pencipta lagu Melky Goeslaw, iya bokapnya Melly Goeslaw, menciptakan lagu bertajuk “Ali Sadikin”. Penasaran? Noh, masih ada di yutub tuh lagunya.

Bang Ali yang karakternya tak mengenal jalan berkelok-kelok alias lurus-lurus saja, melakukan perlawanan. Bersama Ibu SK Trimurti, Ibu D. Walandau, Mr. Kasman Singo Dimejo, M. Natsir, Nasution, Hoegeng Iman Santosa, Burhanudin Harahap, Christ Siner Keytimu, Ibrahim G Zakir, dan lain-lain (semua berjumlah 50 orang), membuat dan menandatangani dokumen keprihatinan yang kemudian dikenal sebagai Petisi 50, pada 5 Mei 1980.

Dokumen tersebut mengkritik Suharto yang menganggap dirinya sebagai pengejawantahan Pancasila. Maka siapa saja yang mengkritik Suharto, akan dianggap mengkritik atau merongrong ideologi Pancasila. Nah.

Suharto marah. Hak perdata 50 orang penanda tangan Petisi dimatikan. Kapok dan diam? Nggak! Mereka hanya 50 orang, dan tidak pernah bikin front yang nganu-nganu kayak sekarang. Mereka rutin bertemu setiap hari Rabu di rumah Bang Ali di Jalan Borobudur No 2, Jakarta Pusat. Selalu ada makanan dan kudapan enak sebelum diskusi membahas secara kritis kelakuan Suharto.

Kelima puluh orang itu semua tetap berada di Indonesia, tak ada satu pun yang sampai berhasil jadi buron ke luar negeri. Tidak kendor, mereka pasang badan menghadapi Suharto dan bala tentaranya yang mengerikan—waktu itu.

Bukannya mereka yang takut, tapi malah para jurnalis malah yang kudu mikir berkali-kali untuk muat pernyataan Petisi 50 tersebut. Jeri juga diberedel terus-terusan. Paling-paling media internasional yang punya siaran bahasa Indonesia—yang berani. BBC dan Radio Hilversum Belanda adalah beberapa di antaranya.

Kalau dibandingkan dengan keberanian Bang Ali Sadikin dipersekusi sampai dihabisi kariernya sama Suharto saat itu, maka aksi-aksi macam sentuh-pipi-suporter-padahal-kelihatan-nampar atau semprot-apa-hak-anda-bertanya-ke-saya ala Edy Rahmayadi jadi kelihatan nggak ada galak-galaknya.

Soalnya kayak jargon iklan minuman berenergi, laki itu tanding kalau sebanding.

  • 584
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles