MOJOK.COHonda Supra sialan milik Beni Satryo itu bikin celaka. Salah sedikit bikin kami, pria-pria goblok ini semakin dekat dengan kematian.

Sekitar 2007, Pantai Sadranan masih indah dan sepi. Setelah cukup mengonsumsi “vitamin sea” di Wonosari, kami segerombolan mahasiswa Filsafat UGM yang doyan liburan tanpa perencanaan, memutuskan pulang.

Kami motoran, semua boncengan, total ada empat pasang. Saya pulang bonceng orang yang sama: Beni Satryo. Beni mengendarai Honda Supra yang dimodif monoshock.

“Supra motor biasa, monoshock membuatnya istimewa.” Demikian Beni selalu jemawa. Perjalanan pulang kami terasa husnulkhatimah, sebelum Supra yang dikemudikan Beni rasanya mendal-mendul.

“Lho… lho… lho… Ben! Bane bocor.” Saya berasumsi. “Bocor gundulmu. Shockbreaker-ku tugel!” Tahi betul. Batin saya. Beni punya asumsi lebih terbukti. Monoshock kebanggaannya patah. Patahannya merobek selang bensin, dan bensin hasil patungan itu berhamburan seperti kemiskinan.

Bensin motor ngocor sia-sia di jalanan. Kami menepikan Supra lawas itu dengan cara setengah diangkat. Beberapa teman yang lain putar balik. Mereka mendekat untuk melihat apa yang terjadi.

Kami yang merasa tak enak karena mengganggu perjalanan coba meyakinkan mereka untuk duluan. Mereka nurut. Mereka lanjut. Kami ditinggal seperti keinginan kami sendiri.

Saat itu pukul empat sore, dua jam lagi gelap. Kami belum jauh meninggalkan pantai. Jalanan tidak ramai. Pohon dan pekarangan mendominasi sekitaran. Rumah warga yang terlihat bisa dihitung jari.

“Luh, baline piye?”

“Embuh!”

Kebodohan memang enak sekali kami tertawakan. Apalagi kebodohan yang kami buat sendiri.

“Terus mau ngopo ngongkon konco-konco dhisikan?” Beni cuma cengengesan, lalu menawarkan Djarum Super-nya yang tinggal dua batang. “Sebat dulu. Solusi pikir keri.” Kami berdua klepas-klepus di pinggir jalan. Solusi kami pikirkan setelah rokok kami tandaskan.

Baca juga:  Buku-Buku Terbaik Tahun 2016 yang Menyenangkan Hati

Saya memeriksa sinyal hape saya. Hasilnya, menyedihkan. Beni ikut-ikutan. Hasilnya, lebih menyedihkan. Hape habis baterai, tanpa sinyal, tanpa pulsa.

“Iki golek bengkel utowo wartel podo-podo angel, tapi menurutku montormu kudu ditumpakne pick-up.” Beni merespons baik solusi saya. “Berarti golek wae warga sing nduwe pick-up. Masalah beres.”

Kami berdua langsung berdiri dan beraksi. Saya berjalan kaki ke arah kiri, Beni ke arah kanan. Honda Supra yang kondisinya sedang sangat menyedihkan itu kami tinggal sebentar. Saya kembali duluan tanpa hasil. Namun, Beni yang kembali belakangan, bawa kabar sedikit menggembirakan.

Dia datang bersama dua bapak-bapak asli Wonosari. “Bapak-bapak iki nduwene mobil Carry. Kursi mburine iso ditekuk. Ongkos angkute telung atus seket.” Bagi mahasiswa yang lagi kena sial, tiga ratus lima puluh ribu rupiah adalah ongkos yang mahal.

Saya coba tawar dua ratus. Negosiasi berlangsung alot, hingga akhirnya mereka sepakat di angka dua ratus lima puluh ribu. Soal menawar, saya sebenarnya tidak pintar, cuma sabar. Saya dan Beni tahu betul. Jika saat itu uang didompet kami digabung jumlahnya tidak sampai 100 ribu.

Namun, Beni tidak berhitung dengan ilmu pasti. Beni berhitung memanfaatkan emosi. Beni mendekat ke saya punya telinga. Dia memelankan suaranya. “Luh, sebenarnya tadi nggak usah kamu tawar. Berapa pun ongkosnya, asal sampai rumah, bapak atau ibuku pasti mau bayar.”

Kampret betul. Masalah ongkos angkut selesai. Saya bantu menggotong Supra sialan itu masuk ke Carry. Bensinnya masih ngocor, menjalar membasahi lantai mobil bagian belakang. Beni terlihat tidak tenang karena motornya bikin bau dan kotor.

Namun, Bapak Berambut Cepak yang terlihat lebih supel ketimbang Bapak Berambut Gondrong segera menenangkan. “Santai saja. Nggak puwaapwa.” Sementara itu, saya melihat Bapak Berambut Gondrong telah siap di balik kemudi. Saya menjawil Beni untuk segera masuk ke mobil.

Baca juga:  Narator Maha Tahu, dan Ia Bukan Penyabar

Bapak Berambut Cepak memilih duduk di kursi depan, persis di sebelah Bapak Berambut Gondrong. Beni di kursi tengah. Saya di belakang bersama Honda Supra sialan itu. Kami jalan.

Bapak Berambut Gondrong banyak diamnya. Namun, caranya mengemudi bagi kami horor sekali. Kakinya kerap menekan gas terlalu dalam. Suka nyalip baik dari kanan maupun kiri. Sementara itu, Bapak Berambut Cepak kelihatan begitu menikmati, sambil sesekali ngajak ngobrol kami.

“Santai saja. Nggak puwaapwa.” Tiap kali Bapak Berambut Cepak melihat kami tidak tenang. Dia selalu bilang demikian. Percayalah. Cara Bapak Berambut Cepak mengucapkan kata-kata itu sama sekali tidak membuat kami tenang, tapi mengajari kami arogan.

Faktanya, tiap kali mobil bermanuver baik ke kanan atau ke kiri, bensin dari Supra sialan itu mengocor lebih deras, dan mengalir hingga lantai mobil bagian depan. Saya selalu menutup hidung karena tidak suka bau bensin. Beni sepertinya juga demikian. Ia menutup hidungnya juga.

Ketika kami cukup berhasil menikmati perjalanan, tiba-tiba kami mendengar suara yang membuat kami semakin terancam. “Cesssskretekkretekkk.” Sumber suara itu dari bangku depan sebelah kiri.

Kami melihat Bapak Berambut Cepak sangat santai membakar rokoknya. Bahkan, Bapak Berambut Cepak itu sempat menawari kami. “Rokok mas? Santai saja. Nggak puwaapwa.”

Saya dan Beni langsung beradu pandang. Kami seperti sedang bertaruh siapa yang bakal mati duluan.

BACA JUGA Legenda Honda Supra X 125 Disaingi Sanex, Mocin yang Keberadaannya Kayak Siluman dan ulasan motor sialan lainnya di rubrik OTOMOJOK.