MOJOK.COTolong jangan pernah meremehkan Suzuki Carry 1000. Mobil yang mampu 14 kali mengelilingi bumi ini nggak pantas lagi disebut mobil, tapi tank yang dikasih kerangka kotak.

Saya tinggal di kota kecil. Sebelum mobil berstiker “Happy Family” mendominasi, jalanan dikuasai oleh mobil “kotak” yang tipenya itu-itu saja. Membosankan. Kalau nggak Toyota Kijang, ya Mitsubishi Colt T, atau Suzuki Carry.

Tapi gimana, ya. Meskipun membosankan, kita harus sepakat kalau mobil-mobil ini sebetulnya bukan mobil, tapi tank yang dipakein baju mobil kotak. Pemerintah harus menciptakan sebuah istilah baru untuk mobil-mobil ini karena kata “tangguh” saja sudah tidak cukup. Dan bagi saya, Suzuki Carry seri 1000 punya keistimewaan.

Jadi gini….

Dulu, ketika masih SMP, hampir tiap hari saya pulang sekolah naik angkot. Kebetulan, angkot langganan saya banyak mengandalkan Suzuki Carry 1000. Sejak kecil saya memang tertarik dunia otomotif. Maka, bisa duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja supaya baik jalannya itu sungguh sebuah pengalaman yang tidak terlupakan.

Duduk di ruang kerja pak sopir itu menyenangkan. Saya sering ngobrol banyak hal dengan pak sopir. Mulai harga lombok yang makin naik, kelangkaan gula pasir, sampai soal permobilan. Untungnya, saya sedikit akrab sama istilah-istilah mesin hasil ngikutin Bapak kalau lagi main ke bengkel. Saya juga sering baca majalah otomotif yang dibeliin Bapak.

Selama masa-masa itu, saya melihat Suzuki Carry dengan mesin kecil ini mau-maunya disiksa sampai batas yang tidak lazim diperlakukan kepada mobil penumpang lainnya. Misalnya, “dipaksa” bawa penumpang sampai 12 orang. Bahkan masih ada yang gelantungan di pintu, belum ditambah barang belanjaan simbok-simbok pasar yang menggunung dan kadang ditaruh di atap mobil itu.

Soal perawatan, saya yakin nggak tertib-tertib amat. Beberapa Suzuki Carry yang dijadikan angkot sudah berasap dan bau oli terbakar. Ibarat kata ini kuda yang sudah mau pingsan, tapi tetap saja dipacu.

Mobil ini disiksa sama sopir yang lagaknya kayak Dom Toretto balapan pakai Dodge Charger itu. Sama-sama pakai singlet, kalau Toretto mungkin masih wangi, kalau sopir angkot ini kombinasi bau matahari sama oli samping.

Baca juga:  Rencana Revitalisasi Angkot yang Menjadi Kabar Buruk bagi Pemilik Avanza

Namun, jangan salah, sopir Angkor Suzuki Carry ini sama cerdiknya kayak Toretto kalau urusan mesin. Mereka punya trik ngakalin onderdil yang sudah nggak layak pakai. Misalnya tie rod yang sudah “oblak” bisa diakali supaya rapet lagi atau fuel pump yang bisa direkondisi tanpa harus ganti.

Kalau melihat tahun produksi, kebanyakan angkot Suzuki Carry 1000 yang saya temui waktu itu keluaran 1991. Artinya, saat itu, Suzuki Carry yang saya tumpangi hampir tiap hari sudah berumur sekitar 15 tahun. Tua, tapi tetap bandel. Ya itu tadi, ini bukan mobil, tapi tank Perang Dunia.

Penggunaan Suzuki Carry 1000 sebagai angkot mulai surut pada medio 2010-an atau ketika mobil ini memasuki usia 19 atau 20 tahun. Kalau bukan karena tangan ajaib para sopir, tentu saja mobil tank ini nggak bakal bertahan lama. Pengganti Suzuki Carry sebagai angkot adalah Suzuki Carry Futura.

Selama masa baktinya, angkot Suzuki Carry yang sering saya tumpangi ini sudah “memakan aspal” cukup jauh. Hitung-hitungannya begini:

Satu hari, angkot ini bisa sekitar lima kali berputar nyari penumpang. Satu putaran trayek jaraknya sekitar 20 km. Berarti, dalam satu hari, Suzuki Carry ini akan jalan 100 km kurang lebihnya.

Anggap saja, dalam satu bulan, angkot bekerja 25 hari. Untuk satu bulan, odometer bisa tembus 2.500 km. Maka, dalam satu tahun, jarak yang dikumpulkan sudah 30.000 km. Jika 19 tahun jalan, Suzuki Carry ini sudah “makan aspal” sejauh 570.000 km atau 14 kali keliling bumi! Bahkan sudah jauh melebihi jarak bumi ke bulan.

Lalu, apa resep rahasia yang bikin Suzuki sukses memasarkan Carry 1000? Kalau membaca spesifikasinya, mesin F10A yang dipakai mobil ini nggak ada spesial-spesialnya.

Kapasitasnya cuma 970 CC dengan output tenaga maksimum cuma 50 daya kuda. Teknologinya juga primitif, masih berpengapian platina dan pakai karburator.

Tapi, spesifikasi pas-pasan itu justru membuat teknologinya mudah dipahami mekanik mana saja. Hampir semua bengkel bisa menanganinya. Spare parts-nya juga melimpah dengan harga murah sampai tersedia versi KW-nya juga. Sudah begitu, kalau lagi bokek, sopir bisa mengakali beberapa bagiannya.

Baca juga:  Dari Didi Kempot hingga Angkot

Sebenarnya, teknologi mesin mobil ini “pernah agak” disempurnakan setelah regulasi emisi Euro 2 diberlakukan pada 2006. Waktu itu, injeksi bahan bakar harus ada.

Namun, sebagian pemilik angkot di daerah tertentu malah mencopot dan memasang karburator konvensional. Saking alerginya berurusan sama komputer, sensor, dan kabel-kabel.

Mobil ini sendiri punya masa produksi cukup lama di Indonesia. Kira-kira sampai lebih 30 tahun, dengan basis yang sama. Selain jadi angkot, Suzuki Carry 1000 juga sering dimodif jadi kendaraan barang ala-ala pick-up, sampai mobil keluarga.

Selain mudah dirawat, mobil ini juga dikenal irit dan biaya perawatannya murah. Makanya, sampai sekarang pun masih bisa dijumpai Suzuki Carry 1000 kotak ini lalu-lalang di jalan, meskipun semakin jarang.

Kejayaannya bakal lestari, berlanjut hingga titik terakhir ketika sebuah mobil mengakhiri hidupnya di tukang kampakan. Kalau mobil lain bakal jadi bangkai atau dijual kiloan karena tidak laku diecer, beda cerita dengan mobil istimewa ini.

Di daerah tempat saya tinggal, kalau ada Suzuki Carry 1000 masuk ke tukang jagal mobil, onderdilnya bisa lebih cepat laku karena masih ada nyari. Onderdil copotan itu nantinya akan dikanibalkan ke Suzuki Carry 1000 lain yang masih dioperasikan untuk memperpanjang umurnya. Udah kayak manusia yang organnya bisa menyelamatkan orang lain dengan metode cangkok.

Inilah keistimewaan tank dengan rupa mobil ini di tengah ketidakistimewaan performa dan teknologinya. Karena saking recehnya mobil ini malah membuat banyak orang bisa menangani dan memelihara supaya bisa tetap jalan.

Kalau rusak, tinggal dibawa ke bengkel tetangga sudah beres. Bisa juga diotak-atik sendiri di rumah sekalian melatih skill perbengkelan. Misalnya gagal juga masih lumayan aman selama toko onderdil terdekat atau lapak copotan mobil bekas masih buka.

BACA JUGA Carry Pick Up, Solusi Berotot Tanpa Harus Ngegym atau tulisan otomotif lainnya di rubrik OTOMOJOK.