Kalau Anda hendak mencari orang suci, pakar, berani, dan sempurna, carilah di media sosial. Di media sosial berkumpul orang-orang yang sedikit-sedikit posting kritikan, komplain, penilaian moral, dan aktivis level mentok jedog.

Padahal besar kemungkinan semua itu palsu belaka. Koyo yak-yak o dhewe, ujar orang di kampung saya sinis. Karena, seperti kutukan Mariotangguhisme, para orang suci dan benar itu bisa menyelesaikan 1.001 masalah orang lain, namun pada masalah ke-1.002, yaitu masalah dirinya sendiri, dia gagal! Dan inilah awal krisis kebudayaan di dalam budaya dalam kumparan teknologi informasi.

Di zaman now, mudah sekali postingan berupa teks, gambar, video, dan suara dari para orang suci dan benar itu menjadi viral. Ironinya, para audiens sosial media menerimanya begitu saja. Cenderung tanpa verifikasi, resistensi, dan kritisisme. Semua ditelan dan disebar (lagi) begitu saja.

Mau kasih contoh Buni Nyanyi kok kejauhan. Bikin orang itu jadi penting saja. Contoh lain, beberapa hari lalu sempat viral kejadian netizen di Yogyakarta yang menjadi korban drel, pentung, palak halus, atau diberi harga jauh dari normal di sebuah angkringan. Kejadian tersebut berlangsung tengah malam di timur Yogya. Tanpa protes, adu mulut, klarifikasi, pelaporan ke dinas terkait/polisi, dan mungkin ajakan duel, netizen tersebut langsung membayar.

Namun, ia membalas dendam palakan halus itu dengan curhat plus foto dan lokasi kejadian.

Contoh lain: video tersembunyi pengendara mobil terhadap ulah penjaga tol yang menolak pembayaran uang tunai. Dengan sok kritis, ngaktivis, dan saklek, ia berdebat kusir dan merasa pintar sendiri memaksa hanya mau membayar dengan uang tunai. Sang pengendara mobil merasa kebijakan nontunai belum berlaku. Dan kebijakan uji coba di jalan tol tersebut tidak betul menurut keyakinannya.

Baca juga:  Surat kepada Buni Yani

Ibarat ngajak tinju, pengendara ini tentu salah pilih lawan. Ibarat ngajak adu mulut, pengendara ini seolah mengajak baku mulut dengan tembok. Penjaga tetap penjaga, bukan siapa-siapa dalam hierarki pengambilan kebijakan penerapan peraturan nontunai ini. Apes bagi keduanya, video tersembunyi yang dibuat sang pengendara mobil itu viral dan menjadi bahan untuk nge-bully keduanya.

Dua tindakan sok di atas tampak sebagai kegagapan yang melahirkan sikap grusa-grusu tanpa verifikasi dan tanpa menyadari dampak besar bagi orang yang diviralkan melalui postingan teks, video, atau gambar tersebut. Dua contoh pengunggah di media sosial di atas telah berubah menjadi robot atau manusia tanpa kepala. Isi logikanya hanya if, then, dan else.

Dua orang ini tidak menyadari dampak besar dan abadi atas apa yang mereka posting. Usaha angkringan bisa bangkrut, nama baik rusak, dan harus merangkak dari nol lagi. Sang penjaga angkringan kala itu bisa jadi dalam kondisi ngantuk hingga salah hitung. Bisa jadi memang bodoh matematikanya karena bukan penjaga utama, tapi hanya pengganti.

Pun begitu dengan nasib sang penjaga tol. Bisa jadi setelah kejadian tersebut, pekerjaannya hilang karena ia dijadikan tumbal oleh manajemen level atas untuk cuci tangan. Bisa jadi anak, keluarga, atau kerabatnya kena cibiran dan bullying.

Kehendak Mariotangguhisme dua sosok sok suci dan benar itu akan berbeda alurnya kalau mereka telah melalui alur klarifikasi dan dialog yang manusiawi. Misalnya, sebelum membayar tagihan angkringan itu, dia klarifikasi, kenapa kok mahal sekali? Nah, kalau klarifikasi itu melahirkan keributan mulut dan memicu perkelahian fisik, itu jelas konsekuensi logis penegak moral dan nilai Mariotangguhisme.

Pun dengan tindakan sang pengemudi mobil di tol tadi. Baiknya ya tidak serta-merta mengunggah video tersembunyi itu ke media sosial. Usaha dialog dan klarifikasi harusnya ditempuh secara empan papan alias lihat tempat. Kalau semua telah mentok dan relasi kekuasaan si pengendara dengan manajemen jalan tol memang timpang sehingga terjadi abuse of power, mengunggah video tersebut menjadi perlawanan. Bukan tindakan pengecut yang beraninya ngadu ke medsos.

Baca juga:  Mencatut Nama UI, Ngabalin Dimarahin Solidaritas Alumninya

Saya harus memberi kredit pada Husain Fata Mizani dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Husain seorang netizen dari Madiun, Jawa Timur yang dengan berani mempertaruhkan risiko dihajar polisi dengan mengklarifikasi dan membuat siaran langsung praktik razia lalu lintas yang ia anggap tidak sesuai prosedur hukum. Bagi saya, tindakan Husain ini bentuk melek hukum. Ia melawan dengan siaran langsung di medsos karena hubungan kekuasaan memang timpang.

Perilaku ala orang suci dan benar yang dipraktikan pelanggan angkringan dan pengendara mobil tadi biasa dan mudah kita temukan di media sosial, apa pun platform-nya. Pelakunya termasuk orang terpelajar dan melek hukum. Sikat sana, kritik sini, dan tebar ke mana-mana secara asal. Motivasi utama tampaknya biar nyelebritis dan jadi people zaman now.

Kesimpulannya, tindakan para sok suci dan benar adalah krisis kebudayaan yang menjadi persoalan kemanusiaan hari ini dan masa depan. Ketika perubahan kebudayaan dalam ledakan teknologi informasi itu gagal diantisipasi, sedang kebudayaan lama telah mati dan kebudayaan baru belum lahir, tindakan manusia dalam budaya bentukan teknologi informasi tidak ubahnya mesin logaritma itu sendiri: hanya memiliki data, informasi, dan pengetahuan.

Kebijaksanaan yang menjadi domain manusia, bukan mesin, tersingkir dan disingkirkan. Kegagapan mengantipasi krisis kebudayaan di atas tidak hanya melahirkan perilaku ngehek Mariotangguhisme, namun juga meledakkan hoax yang mudah membakar fundamentalisme pada nilai primordial dan konflik laten lainnya.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles