• 381
    Shares

MOJOK.COKata Pak Menhan, anggota PKI sering melakukan rapat di tempat makan. Kira-kira tempat makan komunis seperti apa yang yang dimaksud?

Maret 2018 lalu, ketika pertemuan antara alumni 212 berlangsung, Kivlan Zen mengungkapkan sesuatu yang cukup mengagetkan. Waktu itu sang purnawirawan mengatakan bahwa jumlah anggota PKI sudah mencapai 60 juta orang, “Totalnya bisa 60 juta orang, diprediksi dalam satu tahun ke depan PKI akan kembali bangkit di tanah air”, ujar Kivlan Zen RS dengan sangat yakin dan menggebu.

Dengan jumlah sebesar itu, tentu saja agak aneh kalau sampai pertemuannya tidak ketahuan. Ya, jangankan PKI yang katanya punya anggota sampai jutaan itu. Bocah-bocah kalau lagi main PUBG aja, pasti ketahuan kok. Tidak sampai di situ, Kivlan juga memprediksi bahwa setahun lagi, PKI bakal bangkit kembali. Jika bliyo mengatakan hal tersebut pada bulan Maret lalu, itu artinya kurang lebih tinggal sebulan lagi untuk membuktikan kebenaran ucapan sang jenderal.

Tapi, saya heran, kok sampai sekarang belum kelihatan bau-bau kebangkitan komunis sama sekali? Ini bulan Januari aja udah mau habis, loh. Tapi, mungkin kita memang harus positive thinking dulu. Siapa tahu sekarang 60 juta orang tersebut sedang merencanakan surprise untuk merayakan kembalinya paham komunisme setelah lebih dari setengah abad vakum dari belantika per-ideologis-an tanah air.

Saya sih berharapnya, di acara surprise tersebut, mereka—para PKI perjuangan—mengundang Moranbong Band langsung dari Korea Utara. Selain itu, coba Saudara bayangkan, di bulan Maret nanti, di suatu Minggu pagi yang cerah, tiba-tiba di setiap lokasi car free day, para anggota PKI melakukan flash mob dengan menggunakan atribut kepartaian. Gambar Karl Marx ada di mana-mana. Wuihhh, gempar dunia persilatan!!!

Tidak jauh berbeda dengan Jenderal Kivlan, beberapa waktu lalu Menteri Pertahanan Kita, Pak Rymizard Ryacudu, mengungkapkan bahwa para anggota PKI sering kali melakukan rapat, dan rapat tersebut dilakukan di tempat makan. Pernyataan Pak Menteri ini berkaitan dengan usulan yang dikemukakan oleh Jaksa Agung M Prasetyo tentang razia besar-besaran terhadap buku-buku yang mengandung paham komunis.

Mereka ini adalah dua pejabat tinggi negara, loh. Kalau sampai mengeluarkan statement seperti ini, maka harus ditanggapi secara serius. Jangan-jangan, kedua pejabat ini mendapati informasi langsung dari intelijen. Tapi kalau ini adalah buah kerja intelijen, saya nggak paham, kok, malah dibocorin ke media?

Baca juga:  Kontroversi La Nyalla: Akui Pernah Sebut Jokowi PKI sampai Sentil Salat Jumat Prabowo

“Komunis itu nggak boleh lagi itu. Kalau mereka tidak berbuat apa-apa, nggak masalah. Ini rapat sana, rapat sini. Bukan kita nggak tahu rapat apa, itu mau apa? Kenapa rapat di tempat makan, kayak serius”, ujar Pak Menhan kepada media.

Ada dua hal yang saya rasa ganjil menyangkut pernyataan Pak Menhan di atas. Pertama, Pak Ryamizard bilang, “Kalau mereka tidak berbuat apa-apa, nggak masalah”. Lahhh, Bapak ini gimana, sih? Ini yang Bapak omongin kan, komunis, Pak. Yang mana merupakan ideologi yang nggak hanya berada di tataran teoritis semata. Tapi juga tentang bagaimana terapan teori tersebut. Kalau memang ‘nggak berbuat apa-apa’ berarti aneh, dong?! Yang ada nanti dinyinyirin sama anak-anak anarko, Pak. Katanya onani intelektual aja terosss, rapat aja terosss, diskusi aja terosss! Smh.

Kedua, Pak Menhan mengatakan kalau para komunis itu melakukan rapat di tempat makan. Nah, menurut saya, hal ini mesti dijelaskan terlebih dulu. Pernyataan Pak Menhan terlalu kabur, bliyo hanya menyebut ‘tempat makan’, ini kan menggeneralisir. Bukan apa-apa, takutnya om-om berbaju loreng nggak hanya merazia buku, tapi juga tempat makan. Pak Menhan harusnya menjelaskan lebih detail lagi menyangkut lokasi ini. Tempatnya di mana, namanya apa, password wifinya apa….

Namun, demi membantu Pak Menhan tercinta untuk menjelaskan ini semua serta untuk meredam rasa penasaran khalayak tentang ‘tempat makan komunis’ ini, saya akan mencoba untuk mengidentifikasi tempat rapat para komunis tersebut.

Kita mulai dari hal-hal paling umum dulu. Dikarenakan ini adalah tempat ngumpulnya para kamerad-kamerad, maka jangan berpikir ‘tempat makan’ ini adalah KFC, McD, atau Family Mart. Sudah jelas dong, tempat-tempat semacam ini nggak masuk dalam tipe komunis. Selain mereka adalah bukti nyata dari ekspansi tentakel kapitalisme jahanam, tentu saja nggak keren aja kalau rapat tentang mengambil alih alat produksi sambil makan ice cream Sundae. Minimal kopilah biar kesannya pemikir abisss.

Nah, setelah kita tahu bahwa para komunis nggak mungkin rapat di KFC, McD, atau sejenisnya. Sekarang kita beranjak ke tanda lainnya. Anggap saja ini adalah usaha intelijen, jadi kita mesti memerhatikan hal-hal yang detail. Seperti bagaimana aturan-aturan di dalam tempat makan komunis ini. Pastikan kita awas dengan hal yang terkesan sepele.

Baca juga:  Hikayat Pocong Keliling, Anjing Ngepet, dan Hantu Komunisme

Perhatikan ketika ada rumah makan yang ketika masuk, orang-orangnya menggunakan kaki kiri—terlebih dahulu. Maka, hal ini bisa dicurigai sebagai tempat yang dimaksud oleh Pak Menhan. Terlebih lagi kalau orang-orang di dalamnya, makan dengan menggunakan tangan kiri. Hal semacam ini, adalah bukti yang sahih bahwa mereka adalah orang kiri.

Tapi, kita mesti berhati-hati, karena katanya para PKI ini pandai bermuslihat. Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan ialah bahan-bahan yang digunakan.

Tempat makan komunis tentu akan selalu identik dengan hal-hal yang berbau dengan perjuangan. Maka bukan tidak mungkin, simbol-simbol kepartaian juga terdapat di dalam bahan makanannya. Di tempat makan komunis ini, lauk ikannya pasti ikan louhan. Kenapa? Coba, Saudara ingat-ingat lagi berita yang sempat viral beberapa waktu lalu. Ketika itu, ada penemuan seekor ikan louhan yang benjolannya terdapat logo palu arit. Bisa jadi, ikan tersebut dari tempat makan komunis yang kita cari, kan?

Selain itu, beras yang digunakan pun pasti bukan berasal dari perusahaan besar berskala besar. Apalagi yang memeras petani. Dapat dipastikan beras yang ada di tempat makan komunis ini, berasal dari petani yang menggarap lahan milik sendiri, bukan milik tuan tanah. Beras impor juga nggak apa-apa, asal dari Vietnam—negara komunis.

Tak hanya sampai di soal bahan makanan saja. Ada baiknya kita mengecek dapurnya juga, biar valid. Jika di dapur mereka menggunakan palu untuk menggantikan ulekan dan menggunakan arit sebagai pengganti pisau, maka sudah semakin terang segala kecurigaan kita. Saat ini, Saudara sudah boleh berancang-ancang mengontak ormas Islam terdekat.

Yang terakhir, kita juga patut memperhatikan soal menu. Ini penting, betul-betul sebagai penentu apakah tempat makan itu sesuai dengan maksud Pak Menhan atau bukan. Jangan sampai kita salah. Biasanya, di tempat makan komunis tersebut hanya memiliki satu menu sayur bernama genjer. Selain itu, ada satu menu unggulan, yang paling banyak dipesan konsumen. Menu apa itu? Yak, Kari! Kari Marx….

Jadi, jika Saudara menemukan tempat makan yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, bisa dipastikan itu adalah sarang komunis. Maka, segera laporkan ke Babinsa terdekat!