Entah sebab lain atau karena Cak Dlahom sering menyebut nama Romlah, Mat Piti mengutus anak gadisnya itu untuk mengantarkan buka puasa ke rumah Cak Dlahom. Romlah membawa rantang-rantang berisi bubur kacang ijo, nasi, rawon lengkap dengan telur asin dan krupuk udang, selain teh manis hangat yang dimasukkan dalam botol plastik. Mat Piti dan istrinya tahu, rawon adalah menu kesukaan Cak Dlahom.

“Terima kasih Romlah. Salamku untuk bapakmu. Tolong sampaikan: Kalau bersedekah harus ikhlas.”

Romlah tak berani menatap Cak Dlahom, kecuali hanya mengiyakan. Dan di rumahnya, dia menyampaikan pesan Cak Dlahom kepada bapaknya. Mat Piti keheranan. Dia merasa membagi buka puasa dengan ikhlas, tapi Cak Dlahom malah mengajurkan dia harus ikhlas.

Keheranannya terbawa sampai selesai tarawih. Dia karena itu mendatangi rumah Cak Dlahom: ingin bertanya maksud Cak Dlahom menganjurkannya ikhlas.  Dia tak mau rasa penasarannya terbawa hingga sahur apalagi sampai subuh.

Tiba di rumah Cak Dlahom, yang punya rumah terlihat sedang menyantap rawon. Bersila mantap di lincak menghadap ke barat. Mulutnya menyeruput kuwah berwarna hitam langsung dari bibir piring. Sruuut….

“Assalamualaikum…”

“Alaikumsalam. Eh, Mat… Enak betul rawonmu ini.”

“Istri saya yang masak, Cak.”

“Ibunya Romlah sejak muda memang pintar masak Mat. Kamu pintar milih istri.”

“Iya, Cak, saya tahu, tapi saya mau tanya, maksud sampeyan bilang saya harus ikhlas itu apa ya?”

“Tadi kamu ngasih apa aja ya, Mat?”

“Bubur kacang ijo. Rawon serantang lengkap dengan nasi, telur asin, krupuk udang, sambal tauge. Ada teh hangat juga.”

“Wuih… Inget banget kamu, Mat.”

“Saya melihat sendiri ibunya Romlah memasukkannya ke rantang, Cak, jadi saya ingat.”

BACA JUGA:  Siapa yang Gila, Siapa yang Sesat?

“Terima kasih ya, Mat. Seminggu lalu kalau tak salah, kamu juga ngasih aku… Apa ya?”

“Oh yang itu, beras dua kilo Cak. Dua minggu sebelumnya, saya ngasih sampeyan sarung. Sebulan yang lalu, saya ngasih sampeyan peci.”

“Iya, ya… Tapi kamu pasti ikhlas kan, Mat?”

“Ya ikhlaslah, Cak. Masak ndak? Maka itu saya mau tanya, maksud sampeyan soal ikhlas itu gimana?”

“Ikhlas kok ditanya, Mat.”

“Saya hanya ingin tahu…”

“Lah menurutmu, ikhlas itu apa?”

“Berbuat atau melakukan sesuatu karena Allah, dengan Allah, hanya untuk Allah, Cak.”

“Iya betul, tapi ‘Karena Allah, dengan Allah, dan hanya untuk Allah’ itu apa?”

“Ya semua hanya untuk Allah, Cak.”

“Semua untuk Allah itu apa?

“Ya kalau begini terus, sampeyan saja deh yang ngasih tahu: ikhlas itu apa?”

“Sebelum ke sini, kamu kencing dulu ndak, Mat?”

“Loh sampeyan kok malah nanya soal kencing sih, Cak?”

“Kan kita sama, Mat, cuma nanya.”

“Iya tapi apa hubungannya kencing dengan ikhlas, Cak?”

“Aku tanya, kamu nanya. Kamu jawab saja. Kalau ndak mau, ya ndak apa-apa juga.”

“Sebelum ke rumah sampeyan, saya tidak kencing. Sudah? Itu saja?”

“Kalau hari ini, kamu kencing dan berak berapa kali Mat?”

“Sehari ini saya belum berak, Cak. Kencing mungkin tiga atau empat kali Cak.”

“Kemarin?”

“Berak sekali. Kencing…? Ya… Kira-kira samalah Cak dengan hari ini, tiga atau empat kali…”

“Seminggu yang lalu?

“Ya ndak ingat, Cak…”

“Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak mulai kamu lahir, kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kencing?”

“Sampeyan juga ndak ingat toh, Cak?”

“Seperti itulah ikhlas.”

“Maksudnya, Cak?”

BACA JUGA:  Menjawab Fitnah, Menerima Sunody Abdurrahman

“Amal perbuatanmu yang tidak pernah diingat-ingat.”

“Kencing dan berak itu amal toh, Cak?”

“Menurutmu apa?”

“Kan saya yang tanya, kenapa ditanya?”

“Kencing dan berak itu amalmu, Mat. Kamu mengeluarkan sesuatu dari badanmu dengan tidak menahan-nahannya dan segera melupakannya. Tidak mengingat-ingat bau, warna, dan bentuknya seperti apa. Kamu menganggap kencing dan berak tidak penting, meskipun mengeluarkan sesuatu yang sangat penting bagi lambung atau ginjalmu. Buat peredaran darahmu. Untuk kesehatanmu.”

“Jadi kalau masih ingat berarti ndak ikhlas, Cak?”

“Hanya Allah yang tahu.”

“Astagfirullah… Maafkan saya, Cak.”

“Kenapa minta maaf ke aku, Mat?”

“Saya mau pamit dulu….”

“Kok buru-buru?”

“Sudah kebelet, Cak…”

Mat Piti tidak menunggu jawaban Cak Dlahom. Dia segera bergegas pulang. Berjalan tergesa-gesa sambil menjinjing sebagian ujung bawah sarungnya. Terdengar suara brat, bret, bret…

Cak Dlahom sempat menoleh, tapi selanjutnya tak peduli. Dia meneruskan menyelesaikan makan rawonnya. Terus menuangkan teh hangat dan menyeruputnya, lalu kebat-kebut dengan kreteknya

 

(diinspirasi oleh cerita yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathan Ibrahim)

No more articles