MOJOK.CO – Mereka yang snob-snob itu memang menyebalkan. Seolah semua harus ikut standar mereka. Termasuk book snob yang lebih literasi ketimbang literasi itu sendiri.

Dari sekian banyak kelakuan kaum book snob, setidaknya ada dua yang menurut saya paling menyebalkan: merasa lebih superior ketimbang orang yang tidak suka membaca dan merasa superior terhadap selera bacaan orang lain.

Spesies pertama, biasanya suka nongol di lapak komentar media sosial dengan jargon template: makanya banyak baca lagi dongsss.

Spesies kedua, muncul dengan membuat label atau kasta bagi pembaca suatu karya atau penulis tertentu. Hampir mirip dengan kelakuan saudaranya dari jenis lain yaitu coffee snob, yang menganggap kopi itu mestinya digiling, bukan digunting.

Saya membaca banyak jenis dan genre buku sastra. Puisi, cerpen, dan novel saya lahap semua. Buku yang bagus, menurut saya, berkemungkinan besar untuk dibaca lagi setelah sekali khatam. Yang tidak cukup bagus, akan mendekam lama di rak buku menunggu jadwal bulanan saya membersihkan kamar untuk disentuh lagi.

Selesai di situ cara saya mengategorikan karya sastra. Jadi, ketika ada segolongan manusia menyebut karya Fiersa Besari merupakan bUkAn tErmAsuk kAryA sAstrA di suatu grup kepenulisan terus menawarkan diri membuat video singkat tutorial membakar bukunya, tentu wajar dong kalau saya terkejut dan terheran-heran sampai mau makan sayur kol!!!11!

Terlepas dari niatan mulianya untuk membuka keluasan berpikir dan referensi bacaan anggota grup lainnya, kok bisa ada sejenis makhluk begini sih?

Begitu saya cek latar belakang oknum book snob bersangkutan, ternyata beliau sudah punya jam terbang yang lumayan di dunia kepenulisan, bahkan jauh di atas saya.

Oh, mungkin karena sudah merasa banyak makan asam basa garam dunia literasi, jadi begitu ketemu karya yang gak sealiran langsung semangat mencibir. Jadi makin segan saya mau ngegas di grup. Mending, saya tubirin di sini aja. Hehe.

Hal yang hampir mirip, tapi nggak mirip-mirip amat, pernah terjadi sewaktu saya masih kuliah. Seorang teman pernah mendiskreditkan hobi saya membaca buku. Katanya, kalau belum baca buku-buku Pramoedya Ananta Toer, belum sah mengaku hobi membaca. Tidak pantas. Tidak layak. Invalid!!!11!

Baca juga:  Tisu Basah Fredy S di Bareskrim Polri

Padahal, ya, standar dari mana itu anjaaaaaay?

Maksudnya gini loh, masa cuma karena saya belum baca buku-buku Pram berarti saya nggak boleh mengklaim membaca sebagai hobi saya?

Seolah-olah, belum membaca Pram sama dengan belum membaca buku sama sekali. Seolah-olah, buku-buku yang sudah saya baca sebelumnya belum cukup layak untuk disebut sebagai buku. Tak hanya buku-buku Pram, saya juga kena standar gaje ini ketika mengaku belum pernah baca bukunya Genta Kiswara.

Perilaku book snob semacam ini bukan sekali dua kali saya temui. Berdasarkan pengalaman, sekurang-kurangnya ini yang paling sering kejadian: mengultuskan satu penulis dan karya tertentu atau justru mendiskreditkannya.

Tabiat mengultuskan atau mendiskreditkan karya ini terjadi kemungkinan dikarenakan minim atau justru saking banyaknya referensi bacaan dari yang bersangkutan.

Ketika minim referensi, bacaan si pembaca ya seputar itu-itu saja. Merasa dengan apa yang sudah dibacanya itu yang paling bagus, paling layak. Padahal ada banyak bacaan yang sama bagusnya atau bahkan lebih bagus dari yang sudah dibacanya.

Seperti katak dalam tempurung, arwana dalam akuarium, cinta dalam hati, atau seperti Rapunzel dalam menara. Dunianya sesempit itu.

Orang yang sudah banyak referensi juga berpeluang menjadi book snob garis keras semacam itu. Ketika bacaan sudah banyak, mulai deh menentukan mana yang layak baca, mana yang nggak. Mana karya sastra, mana yang nggak. Ini sedikit ironis mengingat banyaknya bahan bacaan semestinya meluaskan sudut pandang berpikir, bukan malah mempersempitnya.

Beragamnya bahan bacaan sastra yang beredar di pasaran, kan, untuk menyentuh pembaca dari beragam sektor pula. Lagian, karya sastra itu mencerminkan sisi-sisi kehidupan yang bermacam-macam.

Seperti halnya kehidupan yang punya banyak sisinya, suatu karya sastra bukanlah representasi tunggal dan satu-satunya. Keberagaman jenis karya sastra, terutama di Indonesia, sudah semestinya juga dibarengi dengan prinsip-prinsip kebhinekaan yang menghargai setiap perbedaan.

Keragaman karya sastra yang ada tak lantas membuat kita merendahkan secara sadis suatu karya apalagi sampai ke level merendahkan pembacanya. Kalau menurut pandangan pribadi kita karya tersebut jelek, ya boleh-boleh saja. Kan, jelek itu sama relatifnya dengan bagus yang berarti nggak mutlak.

Baca juga:  Merayakan Buku Bersama Orang-orang Buku di Kampung Buku Jogja #4

Bisa saja karya yang bagus menurut kita, ternyata jelek di mata orang lain. Karya yang jelek menurut kita, ternyata malah bagus di mata Tuhan. Masya Allah.

Saya rasa, semua orang bebas untuk memilih karya sastra apa saja untuk  mereka baca. Entah itu sekadar untuk rekreasi atau referensi. Bebas. Nggak ada yang boleh melarang seseorang untuk memilih referensi bacaannya. Apalagi sampai mencibir hanya karena referensi bacaannya dianggap rendahan. Itu bukan hal yang pantas.

Lebih tidak pantas lagi jika dilakukan oleh orang-orang yang sudah berkecimpung di dunia literasi. Mau jadi apa dunia literasi kita kalau orang-orang di dalamnya membuat sastra jadi begitu eksklusif sehingga tidak mampu menerima perbedaan?

Ditambah lagi, jika membuat indikator pantas tidaknya suatu karya layak dianggap sebagai “karya sastra” dengan standar, yang bisa dikatakan, terlalu maksa dan hanya berdasarkan perspektif pribadi semata alih-alih dengan pendekatan yang lebih ilmiah.

Sikap eksklusivitas dan radikal terhadap sastra semacam ini nggak akan membawa kesastraan Indonesia ke mana-mana. Malahan yang ada membuat kesastraan kita hanya jalan di tempat.

Sikap book snob kayak gini juga justru semakin menyempitkan sudut pandang banyak orang terhadap sastra itu sendiri. Membuat orang-orang jadi takut, dan bukan tidak mungkin, makin malas membaca karya sastra lantaran malas dikatain selera bacaannya jelek.

Eksklusivitas tersebut juga tentunya sedikit banyak bakal berpengaruh bagi orang-orang yang ingin mulai menulis. Kalau yang sudah punya karya populer saja dianggap bukan termasuk karya sastra, bagaimana dengan yang baru menulis. Bisa terkejut dan terheran-heran dongs!!!1!1

Sampai saat ini, saya berharap mas-mas yang ngegas itu sebenarnya punya niatan luhur untuk memperkenalkan kesastraan Indonesia. Bahwa karya sastra tak cuma karya Fiersa Besari, Boy Chandra, atau sederet nama-nama populer lainnya.

Ada juga karya beliau sendiri yang meski sudah dapat penghargaan di mana-mana, tak lebih populer dari karya-karya yang dianggapnya bukan karya sastra itu.