[MOJOK.CO] “Susah-duka para perawat rumah sakit.”

Banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapatkan sejak saya dirawat di rumah sakit. Antara lain tentang perawat. Mereka adalah manusia-manusia luar biasa yang melayani pasien dan menjadi penghubung antara pasien dan dokter.

Benar, sebagian dari mereka mungkin terlihat atau terkesan tak ramah dan malah cenderung galak. Tapi, sebagian besar dari mereka, saya tahu, ramah dan penuh perhatian. Beberapa pasien malah akrab dengan mereka.

Mereka (perawat yang ramah) biasanya adalah perawat yunior atau baru. Dari mereka itulah saya tahu susah-duka menjadi perawat.

Misalnya, untuk waktu giliran kerja yang terbagi tiga giliran: pagi, sore, dan malam. Jam kerja pagi dimulai pukul 07.00—15.00, sore pukul 15.00—20.00, dan malam pukul 20.00—07.00.

Perawat senior atau perawat hamil biasanya akan mendominasi jam kerja pagi. Jumlahnya berkisar 10 perawat, termasuk dua-tiga perawat yunior. Fungsi mereka tentu saja untuk “disuruh-suruh” para senior: pasang infus, ganti perban, mengganti seprai, mendorong brankar pasien ke ruang pemeriksaan atau pindah kamar, dan lain sebagainya.

Lalu apa kerja perawat senior?

Mereka, secara berombongan, setiap pagi mengecek kamar pasien, mengucapkan selamat pagi dan menemani dokter yang memeriksa pasien. Selebihnya, para senior mengurus administrasi, duduk di lobi perawat, dan kadang mengumumkan suatu hal yang berhubungan pasien atau keluarganya lewat pengeras suara.

Baca juga:  Kenyataan Menyedihkan yang Sesungguhnya di Balik Foto Sakit Setya Novanto

Bagaimana membedakan perawat senior dan yunior? Paling gampang dengan melihat wajah. Wajah senior tentulah lebih tua, tapi tak selalu seperti itu. Mereka juga bisa ditandai dari seragam yang dikenakan. Seragam mereka adalah resmi pemberian rumah sakit dan berganti-ganti setiap hari. Dan yang tidak bisa dikelabui adalah seragam Korpri.

Adapun yunior, kebanyakan mengenakan seragam putih, khas perawat zaman dulu. Ada yang mengenakan seragam rumah sakit, bagi yunior dengan masa kerja tertentu. Itu pun hanya satu setel.

Dari para perawat itu juga saya tahu, sebagian besar mereka adalah karyawan kontrak atau homorer. Untuk D3 keperawatan yang baru lulus, honornya sejuta. Setelah masa kerja setahun, kontrak sebagai honorer bisa diperpanjang atau distop bila kedua belah pihak tidak ada kecocokan.

Di jajaran senior, tak sedikit yang juga masih berstatus kontrak. Seorang perawat bercerita, dia pernah jadi perawat kontrak hingga bertahun-tahun sebelum dingkat sebagai PNS dan sebelum usianya kedaluarsa untuk dingkat sebagai PNS.

Dia diangkat di zaman SBY jadi presiden.

Ceritanya, suatu saat dia kebagian bertugas merawat pasien di kamar VVIP. Dia SBY. Dari seringnya berinteraksi, SBY menyinggung status kepegawaiannya. Perawat itu berterus terang dan beberapa bulan berikutnya dia diangkat jadi PNS bersama ribuan perawat kontrak lainnya, juga para pembantu perawat.

Di luar senior dan yunior, ada pula perawat magang. Mereka adalah mahasiswa keperawatan atau siswa SMK Keperawatan. Mahasiswa tahun akhir mengenakan badge nama berwarna merah di dada kanannya, dan mahasiswa tahun kedua atau pertama mengenakan badge nama warna kuning.

Baca juga:  Dokter “Sir. Yes, Sir”

Hampir sama seperti hubungan perawat senior-yunior, perawat magang itulah yang “disuruh-suruh” para perawat yunior, selain juga oleh senior. Hubungan kerja senior-yunior pun berlaku di antara mereka: merah menyuruh kuning.

Ada juga perawat bayaran. Mereka biasanya dikelola sebuah yayasan. Para perawatnya boleh dari mana saja, asal lulusan akademi dan bersedia ijazahnya ditahan yayasan selama masa kontrak.

Ongkos menyewa perawat bayaran itu cukup mahal. Rata-rata bekisar lima jutaan. Tapi, ongkos itu tak sepenuhnya masuk ke rekening si perawat. Mereka hanya kebagian separuh atau kurang dari nilai kontrak.

Mau jadi perawat?

Komentar
Add Friend
No more articles