MOJOK.COMohon maaf sebelumnya. Saya rasa, program televisi MasterChef Indonesia itu penuh adegan rekayasa. Berikut bagian-bagian yang saya maksud.

Dahulu, sebelum informasi dari dunia maya bisa diakses secara bebas, keaslian program televisi dalam bentuk kompetisi atau reality show sangat dipercaya. Ketika menonton Uya Kuya menghipnotis pakai tisu yang dibakar, kita percaya kalo dia memang masternya. Indonesian Idol, terlihat sangat nyata, termasuk ketika ada peserta audisi yang aneh-aneh dan suaranya hancur banget.

Sebagai penonton, kita terhibur saat dewan juri Indonesian Idol sampai puyeng meladeni peserta audisi yang aneh-aneh itu. Sekilas nggak ada yang aneh, sampai pada akhirnya saya tahu kalau proses audisi Indonesian Idol itu panjang banget. Sebelum audisi di depan juri artis, masih harus melewati serangkaian audisi bersama juri-juri yang bukan artis.

Baru kalau lolos audisi juri non-artis, peserta akan audisi langsung di depan juri artis. Salah satu teman saya pernah melewati tahap audisi di depan artis, tapi sayangnya gagal lanjut. Anehnya, masa iya peserta audisi Indonesian Idol yang nyeleneh bin lucu seperti yang sering kita tonton dan tertawakan itu bisa sampai lolos ke tahap penjurian sama artis. Wong yang beneran suaranya bagus saja sering nggak lolos sejak audisi tahap pertama.

Konon sih, denger dari sana dan sini, mereka yang nyeleneh itu memang rekayasa dari tim kreatif. Ada pula yang bilang kalau mau lucu-lucuan di depan juri artis kudu bayar sekian rupiah juga. Ah, entah apa pun itu, yang jelas ada konsep rekayasa di program Indonesian Idol.

Beralih ke program kompetisi lainnya, yaitu MasterChef Indonesia, konon acara tersebut juga ada banyak unsur rekayasanya. Yang akhir-akhir ini geger, sih, dugaan rekayasa di musim ketujuh kompetisi memasak terbesar di Indonesia itu. Banyak netizen yang bertanya-tanya kenapa ada salah satu kontestan yang memang keliatan banget nggak bisa masak, eh masih dipertahankan.

Kontestan MasterChef Indonesia itu bernama Yuri, mantan anggota JKT48. Memang sih, saya merasa dedek-dedek yang satu itu nggak bisa masak. Dia sering keteteran dan masuk pressure test tetapi selalu bisa selamat.

Pada salah satu episode, saat Yuri hampir dipulangkan dan sudah drama pakai nangis-nangis, eh tiba-tiba saja nggak ada yang pulang di episode MasterChef Indonesia itu. Namun, saat ada netizen yang ngetwit di Twitter soal dugaan rekayasa, Chef Arnold langsung ngegas dengan membalas, “Settingan ndasmu!

Akan tetapi, entah Yuri itu rekayasa atau enggak, yang jelas memang ada beberapa segmen MasterChef Indonesia yang saya duga rekayasa. Berikut beberapa di antaranya:

Drama dan permusuhan sesama kontestan MasterChef Indonesia

Kompetisi tanpa drama pasti terasa sangat hambar. Maka dari itu, maklum kalau ada beberapa peserta MasterChef Indonesia yang direkayasa bermusuhan atau berteman. Di musim tujuh, Nindy seolah dijadikan tokoh antagonis utama karena sering menang tantangan dan dibenci peserta lain.

Kita sebagai penonton juga kerap mangkel sama tingkah Nindy yang pongah saat menang dan nyinyirin peserta lain. Di sisi lain, Yuri, lagi-lagi dedek satu ini, juga dibenci semua kontestan. Hampir semua kontestan mangkel sama dia yang nggak pulang-pulang padahal nggak bisa masak. Bisa dibilang, kalau Nindy dibenci karena terlalu sering menang, Yuri dibenci karena terlalu sering gagal di setiap tantangan MasterChef Indonesia tapi nggak juga pulang.

Konsep penciptaan tokoh antagonis itulah yang kudu dihadirkan selama kompetisi. Ya iya, kalo antar-peserta baik-baik saja, kita yang nonton pasti merasa ada yang kurang.

Mungkin tim produksi MasterChef Indonesia bercermin dari acara Penghuni Terakhir yang dulu sempat viral. Acara yang memperebutkan rumah itu menjadi seru karena banyak drama dan permusuhan antar-kontestan.

Makanya, guna mendongkrak rating MasterChef Indonesia semakin tinggi, konsep drama dan permusuhan juga dihadirkan. Masuk akal, bukan?

Bagian ngitung waktu mundur

Ini yang kadang bikin saya geleng-geleng kepala. Setiap kali Chef Juna, Chef Renatta, atau Chef Arnold ngitung mundur dari lima sampai satu, para peserta kayak sedang hectic pol dan seolah bakal gagal masak.

Di layar kaca juga kita melihat banyak yang masih goreng-goreng, hias-hias, bahkan lari sana lari sini saat proses hitung mundur. Eh tapi pas disuruh ngangkat tangan, semuanya udah kelar. Pegimene ceritanye?

Saya jadi menebak-nebak bahwa ketika para Chef bilang, “Waktu kalian tersisa…” sebenarnya waktu masih tersisa banyak. Tinggal pas nanti proses editing, ucapan para Chef dipasin sama timer gede yang ada di ruangan. Pun, saat Chef mulai ngitung mundur, sebenarnya para peserta sudah kelar masak. Kita saja yang dikibulin tim editing karena mereka menampilkan momen para peserta yang lagi sibuk-sibuknya.

Ketika peserta lain menyemangati atau nyinyirin yang masuk pressure test

Nah bagian ini juga keliatan banget rekayasa. Kalau pas ada peserta yang masuk pressure test, peserta lain yang nonton di atas kerap meneriakkan kalimat penyemangat.

Misalnya Ramos teriak dari atas, “Dava semangat, kamu pasti bisa. Tenang, waktu masih cukup!” Saat Nindy nyinyir, “Yur, bisa masak nggak, sih? Pulang aja, deh!” Semua itu sudah pasti diminta kru biar terkesan dramatis.

Sayangnya, para peserta MasterChef Indonesia bukan aktor atau aktris yang baik. Terbukti saat menyemangati atau nyinyirin, mereka nggak terkesan tulus. Apalagi pas nyinyirin peserta lain. Seharusnya, kalau lagi mengeluarkan nada sinis, raut muka harus judes, kan. Lah kok itu malah sambil nahan senyum gitu? Ya sudah pasti rekayasa.

Saya jadi membayangkan prosesnya kayak, ada mas-mas kru yang bilang, “Nindy, nanti kamu nyinyirin Yuri ya. Terus Ramos semangatin Dava, ya. Yuri sama Dava nanti pas lagi masak kudu sempetin bales mereka, ya! Kalau perlu Yuri sampai nangis-nangis nggero-nggero gitu!”

BACA JUGA Jika Bude Warteg Jadi Peserta MasterChef dan Dikomentari Para Pesohor Negeri dan tulisan-tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Baca juga:  Bukan Chef Renata Bukan Chef Juna, Ini 3 Alasan Chef Arnold Poernomo Adalah Nyawanya MasterChef Indonesia