Wacana Suharto jadi pahlawan sedang marak. Yah, wacana ini memang kalah populer kalau dibandingkan dengan Dangdut Academy Indosiar seperti tulisan Kalis Mardiasih nan inspiratif penggugah semangat nasionalisme itu. Keacuhan kita pada gelar kepahlawan ini menunjukkan kalau rakyat Indonesia ini memang bangsa yang kecil karena tidak pernah peduli dengan jasa-jasa pahlawannya.

Banyak orang protes karena mengangkat Suharto jadi pahlawan nasional itu adalah pengkhianatan. Tau kan sakitnya dikhianati? Kalau gak tahu, coba aja tanya sama Nagita Slavina yang dikhianati sahabatnya sendiri. Tapi emang benar ya, Ayu Ting Ting selingkuh sama Raffi Ahmad? Duh, koq Raffi tega ya? Padahal dulu pesta nikahnya siaran langsung loh. Mungkin dia punya rencana bikin perceraian siaran langsung juga. Lumayan kan royalti tivi buat bayar kreditan.

Tapi ini serius, eh salah di mojok dilarang serius, Suharto itu layak kok diangkat jadi pahlawan nasional. Hanya orang-orang yang tidak paham sejarah nasional secara utuh dan tidak lulus penataran P4 saja yang bilang Suharto tidak layak jadi pahlawan. Hanya mereka yang tak paham perkembangan sejarah terbaru saja yang gagal paham maksud “Lebih enak zamanku tho.”

Pertama, kita harus paham dulu arti pahlawan. Definisi pahlawan sendiri sudah mengalami ameliorisasi atau perluasan makna. Pahlawan diartikan bukan lagi hanya bagi mereka yang berperang melawan penjajah dengan angkat senjata. Pahlawan, berasal dari kata Sanskerta, “phala” yang berarti hasil atau buah. Ini juga asal kata dari “pahala”. Jadi pahlawan adalah seseorang yang berpahala, yang perbuatannya berhasil bagi orang banyak. Perbuatannya berpengaruh pada tingkah laku orang lain karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat atau umat manusia. Pahlawan juga bisa dikategorikan sebagai orang yang berhasil membawa harum nama bangsa dikancah internasional. Oleh karena itulah jenis pahlawan bisa banyak, mulai dari pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, pahlawan pendidikan, sampai pahlawan kesiangan pun ada.

Suharto layak dijadikan pahlawan karena hanya dialah satu-satunya Presiden Indonesia yang mampu menduduki peringkat nomor satu dalam sebuah survei yang dilakukan lembaga internasional. Transparency International 2004 menempatkan Suharto sebagai Presiden terkorup nomor 1 di dunia. Ingat bro…nomor 1. Bukan seperti timnas Indonesia yang menduduki peringkat buncit di FIFA, yang kalau sudah kalah kita dengan besar hati mengatakan, “Ya sudah, yang penting sudah berusaha maksimal.” Eh tapi, sekarang timnas udah gak pernah main ya? Atau peringkat literasi kita yang hanya menduduki peringkat 60 dari 61 negara dan kemudian kita merayakannya dengan bakar-bakar buku. Semua peringkat itu bikin malu karena terlalu banyak angkanya. Bandingkan dengan Suharto, cuma 1. Nama harum Indonesia tercium dimana-mana.

Suharto jadi membanggakan karena dia membawa Indonesia jadi terkenal di seantero dunia. Fans Atletico Madrid saja standing applause ketika tim besutan Diego Simenone ini jadi nomor dua di Liga Champions, masak Suharto yang nomor satu kita lupakan begitu saja. Melupakan jasa Suharto yang satu ini, seharusnya lebih sulit daripada melupakan mantan.

Kedua, Suharto adalah Bapak Pembangunan. Dia menyediakan modal yang besar untuk kesejahteraan rakyat. Emang lo pikir bisa bangun jembatan pake upil? Butuh berapa ton upil untuk membangun jembatan di Indonesia?

Suharto kerja keras cari uang untuk membangun di Indonesia. Salah satunya adalah dengan cara bersahabat dengan investor asing. Itu sebabnya dia mengeluarkan UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Akhirnya Freeport, Exxon, Newmont, dsb bekerja santailah di Indonesia. Pembangunan infrastruktur maju. Lapangan pekerjaan terbuka luas dan lebar. Rakyat sejahtera tanpa perlu baperan merapati nasib melarat.

Banyak orang bilang, gara-gara ini, investor asing jadi bebas mencuri kekayaan alam Indonesia secara legal. Ah, itu kan cuma masalah perspektif bro.

Justru di sinilah karakteristik kepahlawanan Suharto terlihat dengan jelas yang disebut dengan pengorbanan. Kenapa Iron Man disebut sebagai super hero? Karna dia rela mengorbankan dirinya sakit-sakitan dipukuli, ditembak peluru, dan penderitaan duka nestapa tiada akhir demi menjaga orang lain bisa aman tentram sentosa. Dia bahkan rela berkelahi dengan sahabatnya, Captain America, demi menjaga kedamaian dunia. Tanpa pengorbanan, tak ada kepahlawanan.

Begitu juga Suharto. Dia rela emas di Papua dicuri Freeport agar negara sahabatnya AS hidup sejahtera. Dia rela kekayaan alam dicuri asal gedung-gedung pencakar langit bisa berdiri megah di Texas. Dia berkorban banyak sampai investor lokal mati agar konco-konco dan sahabat terdekatnya bisa korupsi dengan damai. Dia rela melakukan apa pun asalkan kroni-kroninya bisa hidup sehat tercukupi sandang, pangan, papan. Dia berkorban, kesakitan, dan menderita asal saja sahabatnya dan negara investor bisa bahagia, aman sentosa. Mengharukan.

Zaman Suharto adalah zaman paling aman. Tidak akan ada ditemui dijalan preman bertato seperti David Beckham. Sedikit saja tato terlihat, Petrus a.k.a Penembak Misterius siap dengan karung goni di tangan. Di zaman Suharto, semua preman berlomba alim. Mereka tobat bertato. Kalau yang sudah sempat bertato, mereka berlomba-lomba menghapus tatonya. Rambut gondrong dicepakin. Sedikit tampilan preman, nyawa melayang. Bahagia kan?

Koran, radio, dan berita di tivi, di zaman Suharto adalah yang terbaik. Semua berita tentang damai sejahtera. Berita pemerkosaan seperti Yuyun jangan harap nongol di koran. Semua pejabat negara bersih dari korupsi karena koran tidak akan pernah cerita. Laporan Khusus tiap jam 9 malam akan memberitakan kalau pertanian kita makmur jaya. Kita tidak akan pernah mendengar berita petani yang repot karena mahalnya pupuk berbanding terbalik dengan murahnya harga gabah. Menteri Penerangan, Harmoko, adalah kesayangan Suharto. Dia akan memastikan kalau rakyat Indonesia baik-baik saja di koran, televisi, dan radio.

Bandingkan saja dengan sekarang. Pemberitaan media isinya cuma pembunuhan, perampokan, korupsi, pemerkosaan, fitnah politik, propaganda radikalisasi agama, terorisme, artis selingkuh, dan tidak lupa sinetron sebagai pengantar pada ilmu pacaran yang baik dan benar untuk anak-anak generasi bangsa. Jadi tak heran kalau anak SD kelas 4 pernah ngobrol sama temannya. “Lo kenal Andi?” Dijawab enteng sama temannya, “Kenal. Kenapa?” Dengan santai kawannya menjawab, “Dia mantan gue.”

Zaman Suharto, jangan harap yang ginian bisa muncul.

Satu lagi yang paling seru. Hanya di zaman Suharto anak-anak bisa nonton sampai larut malam. Udah gitu, film horor pula. Nonton larut malam itu dizamin oleh Undang-undang. Bahkan nonton tivi sampai larut malam itu adalah PR. Yah walau pun hanya sekali setahun, tiap tanggal 30 September. Tapi setidaknya dalam setahun tiap anak-anak di zaman Suharto bisa puasa mendengar larangan Bapak yang saban jam 9 malam menyuruh tidur karena besok sekolah. Apalagi kalau bukan nonton film “Pengkhianatan G30S”.

Sama seperti film horor, film itu banyak bohongnya. Maksudnya, muka yang disilet dan tangan disundut rokok kan bohongan. Namanya juga film. Aktor bisa menderita parah kalau lagi kerja, mukanya disilet beneran. Betapa bahagianya anak-anak di zaman Suharto di saat sekarang orang-orang nonton film horor dan belahan dada harus bayar Rp. 25.000.

Jadi, kurang apalagi Suharto jadi pahlawan, haa???

No more articles