• 53
    Shares

Urusan merespons isu, banyak yang punya kemampuan. Namun merespons isu dengan puisi, hanya Fadli Zon yang bisa.

Kita mungkin masih ingat dengan puisi Fadli Zon yang berjudul Sontoloyo yang sengaja dibuat oleh Fadli Zon untuk menanggapi pernyataan Jokowi yang menyebut “politisi sontoloyo” dalam salah satu sesi pidatonya.

Puisi yang dibikin Fadli Zon tersebut bikin banyak orang heboh, sampai-sampai banyak politisi pendukung Jokowi yang kemudian ikut membalas puisi Fadli Zon, dari mulai Ketua DPP Hanura Inas Nasrulllah Zubir sampai Wasekjen PKB Daniel Johan.

Nah, tak berselang lama setelah puisi Sontoloyo, Fadli Zon kembali menciptakan kehebohan lewat puisi. Kali ini puisi berjudul “Ada Genderuwo di Istana”. Puisi ini lagi-lagi menyindir pernyataan Jokowi yang menyebut “politik genderuwo” dalam pidatonya.

Nah, seakan tak bosan dengan karya puisinya, Fadli Zon kini kembali membikin gempar dengan puisi buatannya. Puisinya yang terbaru ini berjudul “Doa yang Ditukar”.

Fadli Zon tidak menyebutkan secara rinci puisi tersebut untuk merespons apa, namun banyak dugaan bahwa puisi tersebut dibuat untuk menanggapi peristiwa saat Kiai Maimoen Zubaer salah mengucapkan nama Jokowi menjadi Prabowo dan kemudian direvisi dalam sebuah doa.

Berikut ini adalah naskah puisi Fadli Zon

DOA YANG DITUKAR

doa sakral
seenaknya kau begal
disulam tambal
tak punya moral
agama diobral

doa sakral
kenapa kau tukar
direvisi sang bandar
dibisiki kacung makelar
skenario berantakan bubar
pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar
bukan doa otentik
produk rezim intrik
penuh cara-cara licik
kau penguasa tengik

Ya Allah
dengarlah doa-doa kami
dari hati pasrah berserah
memohon pertolonganMu
kuatkanlah para pejuang istiqomah
di jalan amanah

Fadli Zon, Bogor, 3 Feb 2019

Puisi tersebut langsung memicu banyak reaksi dari banyak tokoh. Maklum saja, kata “sang bandar” dalam puisi tersebut dianggap merujuk pada sosok Kiai Maimoen Zubaer, sehingga banyak tokoh yang kemudian merasa perlu penjelasan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, misalnya yang membalas postingan puisi Fadli Zon untuk menanyakan siapa sosok “sang bandar” yang dimaksud.

“Pak @fadlizon Yth, Agar mendapatkan kejelasan, saya mohon tabayyun (klarifikasi): apakah yg dimaksud dengan ‘kau’ pada puisi tsb adalah Simbah Kiai Maimoen Zubaer?”

Ditanya begitu, Fadli Zon langsung membalas bahwa bukan Kiai Maimoen Zubaer yang dimaksud.

Ah, Pak Fadli Zon suka sekali memancing keributan dengan puisi.

Kelihatannya ia memang layak menyandang gelar “Pendekar Puisi Berdarah”.

doa yang ditukar