• 21
    Shares

Tahun-tahun politik yang panas belakangan ini membuat banyak orang yang tak sadar diri dan tak sadar tempat. Banyak tempat-tempat yang seharusnya suci dari hingar politik justru menjadi salah satu pusat kerumunan politik. Tempat ibadah menjadi salah satu yang paling utama. Maklum, sebagai negara mayoritas muslim, Islam dan perangkatnya memang kerap digunakan sebagai instrumen kampanye politik.

Mimbar-mimbar masjid yang seharusnya menyuarakan apa pun tentang keagamaan di musim politik berubah menjadi podium-podium dakwah yang banyak disisipi kampanye partai politik.

Khotbah jumat misalnya, banyak yang sekarang justru dipakai sebagai sarana kampanye. Dari keseluruhan khotbah, sangat lumrah jika 10 persen berisi doa, 60 persen materi tentang ketaqwaan, dan 30 persen sisanya materi kampanye. Apa nggak hebat?

Atas fenomena menyedihkan namun lumrah itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengambil tindakan dengan melarang para ulama, kiai, atau ustaz untuk berceramah dengan sisipan agenda politik praktis di tempat ibadah. Menurut Lukman Hakim, dirinya harus memberikan larangan tersebut karena tempat ibadah saat ini memang rentan dijadikan sebagai ruang politik yang strategis selama masa kampanye pemilu.

“Yang tidak diperkenankan adalah rumah ibadah, ceramah agama untuk politik praktis. Misalnya mari dukung calon a, jangan calon b. Dukung partai a, jangan partai b. Ini yang tidak boleh,” kata Lukman dalam pidatonya di Rakornas Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu 18 April 2018 lalu.

Baca juga:  Kampanye Kok Bawa-Bawa Nama Bapak, Memangnya yang Jadi Caleg Itu Kamu Atau Bapakmu?

Lukman mengeluh tempat-tempat ibadah yang seharusnya menyebarkan kedamaian dan menjadi simbol yang luhur kehidupan yang rukun dan damai berlandaskan agama justru menjadi basis utama timbulnya perpecahan dan kebencian karena alasan politik.

“Jangan memperalat agama, jangan memanipulasi, dan eksploitasi agama dalam pengertian sisi luarnya itu untuk digunakan sebagai faktor pembenar atau kepentingan politik praktis pragmatis,” kata Lukman. “Ini agar ceramah keagamaan betul-betul mampu mengembalikan esensi agama kepada ajaran agama sesungguhnya.”

Yah, semoga para ulama, kiai, dan juga ustaz bisa manut dan melaksanakan apa yang dikatakan oleh Pak Menteri Agama. Maklum, banyak masyarakat yang sebenarnya memang sudah muak dengan materi politik yang disebarkan lewat mimbar-mimbar dakwah masjid.

Niat hati datang ke masjid pengin mengarahkan jiwa ke Kakbah di Masjidil Haram, ealah malah digiring ke Senayan.

Masjid jadi berasa kantor DPP Partai.

lukman hakim saifuddin