Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Polemik Kampanye Pemilu di Sekolah, Bisa Jadi Potensi Ancaman Kekerasan bagi Anak?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Agustus 2023
A A
kampanye di sekolah mojok.co

Ilustrasi sekolah (Photo by Jess Yuwono on Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sejumlah pihak mengkritik putusan MK yang memperbolehkan peserta pemilu berkampanye di sekolah dan kampus. Ini berpotensi menjadi ancaman dan memperluas potensi pelanggaran hak-hak konstitusional anak di masa kampanye Pemilu 2024 mendatang.

Seperti yang sudah kita ketahui, Selasa (15/8/2023) lalu MK mengesahkan Keputusan Nomor 65/PUU-XXI/2023 yang memperbolehkan kampanye terlaksana di fasilitas pemerintah dan pendidikan.

Sebagai catatan, kampanye boleh berlangsung tanpa menggunakan atribut-atribut kampanye di tempat-tempat tersebut. Dan sudah seizin pihak kampus/sekolah.

Meski disambut baik sejumlah civitas akademik di kampus, nyatanya keputusan itu dapat habis-habisan oleh aktivis anak dan serikat guru. Pasalnya, sekolah tempat yang harus netral dari politik elektoral. Jika kampanye politik berlangsung, khawatirnya akan menimbulkan dampak negatif bagi anak.

Ancaman kekerasan bagi anak

Kritik keras salah satunya datang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Sejak putusan MK turun, Komisioner KPAI Sylvana Apituley berulang kali menekankan: “sekolah seharusnya dijaga agar tetap menjadi ruang publik yang netral dari aktivitas politik elektoral”.

Sebab, lanjut Sylvana, politik elektoral sarat dengan kepentingan personal dan kelompok, yang berpotensi menimbulkan kekerasan, terutama kekerasan simbolik dan verbal.

Ia pun menegaskan bahwa konten kampanye politik bukanlah konsumsi anak-anak sekolah. Bahkan bukan untuk peserta didik usia 17 tahun yang sudah memiliki hak pilih.

“Adanya putusan MK ini menyadarkan KPAI betapa belum semua pihak awas dan memprioritaskan hak-hak konstitusional anak yang seringkali tersembunyi di balik kesadaran dan kepentingan dominan orang dewasa,” kata Sylvana.

Selain melanggar hak konstitusional anak, bahaya lain saat kampanye di sekolah adalah potensi ancaman kekerasan yang melibatkan massa pendukung suatu kandidat atau parpol.

Jika ini yang terjadi, kata Sylvana, artinya negara telah gagal dalam melindungi anak dari penyalahgunaan kekuasaan dalam politik. Sebagaimana sudah diatur dalam UU Perlindungan Anak.

“Negara bahkan dapat disebut membiarkan atau tidak melakukan tanggungjawabnya untuk melindungi anak-anak dari bahaya kekerasan pada masa kampanye Pemilu/Pilkada 2024,” tegasnya.

Rawan gesekkan saat kampanye

Senada dengan KPAI, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo juga bersepakat bahwa sekolah harus jadi ruang yang netral dari politik praktis. Ia pun khawatir, jika kampanye benar-benar terselenggara di sekolah, hal ini bisa menciptakan gesekan yang besar. Bahkan dari hal-hal yang “sepele” sekalipun.

Misalnya, dalam hal pemberian izin sekolah buat kampanye saja sudah bisa bikin gaduh. Sebab, menurut pengalaman pribadinya, pemberian izin seringkali bermakna sebagai keberpihakan terhadap calon tertentu dan bukan kepada calon lain.

“Misal, nih, karena kepala dinasnya itu hubungannya akrab dengan calon tertentu, akhirnya memudahkan izin. Sementara ada calon yang relasinya tidak kuat dengan kepala dinasnya. Saat meminta izin malah diberikan kendala, dan lain sebagainya; akhirnya tidak terlayani dengan baik. Ini kan berpotensi untuk menimbulkan konflik antarkelompok,” ujar Heru.

Iklan

Jika ini terjadi, lagi-lagi anak bakal menjadi korban. Sekolah yang harusnya jadi tempat belajar menjadi tempat yang penuh dengan konflik kepentingan dan rawan kekerasan.

“Ketika psikologisnya itu belum matang, kejiwaannya belum mantap benar, kemudian tidak ada pihak keamanan yang memberikan penjaminan untuk menciptakan kampanye yang aman, kemudian menjadi chaos. Siapa yang bertanggung jawab?” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Pabrik Gula Gondang Winangoen Klaten, Lambang Kejayaan Indonesia di Masa Lalu

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2023 oleh

Tags: kampanyeKampanye di Sekolahkampanye pemiluPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Cerita Ibu Rumah Tangga di Semarang Dapat Serangan Fajar 4 Parpol, tapi Tetap Golput karena Bukan DPT.mojok.co
Ragam

Cerita Ibu Rumah Tangga di Semarang Dapat Serangan Fajar 4 Parpol, tapi Tetap Golput karena Bukan DPT

15 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.