• 63
    Shares

MOJOK.CO – Olahraga jalan kaki itu pilihan yang mudah dan murah ketimbang jogging atau sepedaan. Jangan lupa bawa Tupperware biar nggak jadi penumpuk sampah plastik.

Memang sebaiknya olahraga dijadikan budaya Indonesia. Diet, mau apa saja ragamnya, tanpa ditemani olahraga, cuma jadi usaha yang sia-sia. Diet, pada akhirnya hanya sampai pada taraf “menyiksa tubuh” tanpa dibarengi olahraga. Dan, masalah untuk situasi demikian hanya ada satu, masalah purba, yang ada sampai sekarang, yaitu masalah niat.

Bayangan orang sering terlalu negatif. Mulai dari tidak ada waktu, sampai biaya besar yang harus dikeluarkan untuk menjalani olahraga tertentu. Sepedaan, kudu punya sepeda. Jogging, harus ditunjang sepatu khusus untuk lari supaya tidak menyakiti kaki. Futsal, kudu punya sepatu yang menunjang. telanjang kaki alias nyeker boleh saja, tapi itu bikin kamu ndeso banget. Plis, jangan menurunkan harga dirimu.

Sebetulnya, solusinya itu begitu mudah. Pilih saja olahraga jalan kaki. Lakukan setiap pagi secara rutin, misalnya lima kali dalam satu minggu. Kalau tidak bisa olahraga jalan kaki ketika pagi, geser saja menjadi siang atau sore, bahkan malam. Masih beralasan sibuk? Ya itulah kamu ketika membangun tembok, membatasi diri sendiri. Kreatif, dong.

Olahraga jalan kaki itu mudah dan murah. Bahkan ketika tidak punya sepatu khusus untuk olahraga, kamu tetap bisa berolahraga. Jalan kaki saja di dalam kompleks perumahan, di desa kamu. Minimal 30 menit, kamu bakal langsung merasakan manfaatnya.

Baca juga:  Lebih Aware dengan Penjual Tupperware

Nah, meski mudah dan murah, olahraga jalan kaki tetap punya “masalah”. Bukan, bukan olahraganya yang jadi masalah, tetapi kebiasaan manusianya. Kok bisa?

Beberapa Pemerintah Daerah, sejak beberapa tahun yang lalu, menyampanyekan yang namanya Car Free Day (CFD) setiap Minggu. CFD menjadi “waktu dan tempat” bagi banyak orang yang super sibuk untuk olahraga. Ya ikut senam, jogging, jalan kaki, dan lain sebagainya.

Bahkan ada yang olahraga bawa atribut partai, atribut keagamaan tertentu, sambil demo. Sungguh, demo yang pada tempatnya. Sudah sehat, ganggu orang, dan bikin gaduh. Ini orang-orang jenius. Bikin gaduh di tengah keramaian. Men sana in corpore goblok, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang (semakin) goblok.

Nah, akibat dari banyak orang yang berkumpul adalah sampah, lebih spesiknya: sampah plastik. Botol air mineral, sampah sedotan plastik, hingga bungkus jajanan. Semuanya pakai plastik, jadi sampah, sampah plastik. Sama seperti rang-orangnya yang bikin gaduh di tempat “yang memang semestinya”. Sampah masyarakat.

Bagaimana cara mengatasinya? Mudah, kita tinggal ikuti saran Siska Nirmala (32), pelaku gaya hidup zero waste. Ia mengampanyekan solusi yang berbeda. Melalui Kelas Zero waste Adventure, Siska mengajak para pelaku kegiatan bertualang dan pegiat alam bebas untuk memulai bertualang tanpa menghasilkan sampah.

Kelas Zero Waste Adventure digelar dengan dukungan Saya Pilih Bumi dan National Geographic Indonesia. Kelas Zero Waste Adventure sudah dilaksanakan Bandung (dengan 30 peserta) dan Jakarta (70 peserta).

Baca juga:  Penjelasan Suami Maniak Hot Wheels kepada Istri Maniak Tupperware

Sangat sederhana, untuk jenis olahraga yang juga sederhana. Intinya adalah mengubah pola pikir yang sungguh tidak terpuji: menumpuk sampah plastik dan membuang sampah sembarangan. Nah, kalau Mojok Institute sendiri punya solusi yang juga sama mudah. Kamu tinggal mengganti botol air mineral yang terbuat dari plastik dengan tumbler. Biar gampang, sebut saja pakai Tupperware.

Tupperware punya banyak ukuran dan model. Misalnya Tupperware Guava Slim Line, badannya seksi, mudah digenggam, dan mudah dicucup ketika mau minum. Atau botol model lain yang dinamai keren: Tupperware X-Tream Bottle with straw. Sudah ada sedotannya, jadi kamu nggak bakal ikut-ikutan numpuk sampah plastik.

Beberapa jenis Tupperware memang mahal. Namun, di mana ada harga, (biasanya) di situ ada rupa. Kualitas, jangan ditanya. Cuma, Tupperware ini mengandung risiko yang sungguh tinggi. Risiko ketika hilang, kamu bakal dilabrak emak atau istri. Kemarahan mereka ketika kamu menghilangkan Tupperware setara dengan tiga kali bom nuklir. Sungguh bahaya.

Namun tenang, berolaraga bikin pikiran jadi tajam dan bikin kita makin waspada. Rajin olahraga jalan kaki bikin kamu gak bakal menghilangkan Tupperware. Kalau memang kamu sangat takut, pasang saja tali pengaman dan kalungkan di leher seperti tren pakai flashdisk zaman dulu. Nggak perlu malu. Mau sehat kok malu. Malu itu kampanye di CFD. HIYA HIYA HIYA…

Btw, ini bukan artikel advertorial. Kami tidak dibayar Tupperware, tapi kalau Tupperware….(isi sendiri)

  • 63
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles