MOJOK.CO  “Kayaknya tadi itu naga hijau Pantai Selatan jadi-jadian. Bahkan mungkin, dia khodam mustika naga Pantai Selatan,” pungkas bibiku.

Cerita ini terjadi suatu hari di Pantai Kukup. Kalau kamu nggak tahu, letaknya ada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Kami sekeluarga bermain ke pantai tentu saja dengan tujuan untuk bersantai. Pantai, kan, selalu jadi pilihan berlibur yang tepat.

Saat kami tengah bermain air di sebelah barat pantai (kamu bisa menemukan banyak karang di sana), seorang yang paling kecil—Melati, keponakanku yang masih balita—berteriak dengan keras. Ia memanggil neneknya, yang tak lain adalah bibiku sendiri.

“Uti, sini, Uti! Lihat! Ada ular! Ularnya pakai topi!”

Tanpa repot-repot mencari di mana ular yang dimaksud, bibiku yang langsung tampak terkejut itu buru-buru menggendong cucunya sendiri, lalu menuju ke tepi pantai dengan segera. Kami semua mengikutinya. Aku tak mau ketinggalan.

“Kenapa? Kenapa?” tuntutku. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, penasaran pada sosok yang disebutkan oleh si keponakan. Ngapain ada ular di laut? Lagi pula, ular macam apa yang pakai topi dan berendam di sini?

Setelah agak jauh, kami semua duduk di sebuah bangku pinggir pantai. Melati juga tampak kaget karena tiba-tiba digendong dan diangkat dari pantai, tapi sebentar saja perhatiannya sudah teralihkan dengan mainan yang dibawa bibi.

Baca juga:  Naga Asia, Naga Jawa, Naga Eropa, dan Naga-Naga Versi Lainnya

“Kayaknya tadi itu naga hijau Pantai Selatan jadi-jadian. Ngeri,” kata bibiku, akhirnya.

Lebih lanjut lagi, beliau menuturkan mitos yang sering terdengar. Kalau ada sosok ular atau naga hijau berukuran besar dan tidak menggunakan topi atau mahkota, bisa saja itu adalah sosok yang mengundang Nyi Blorong. Kalau bertemu dan kita disukai olehnya, bisa-bisa kita dibawa ke Kerajaan Ratu Kidul. Namun, naga hijau dengan topi atau mahkota diyakini adalah seekor naga lelembut.

“Mungkin itu tadi khodam mustika naga Pantai Selatan,” pungkas bibiku, lantas mulai mengelus kepala Melati.

Melati diam saja, masih memainkan tablet yang ia ambil dari tas.

Diam-diam aku teringat cerita bibi beberapa hari lalu. Melati, bukan kali ini saja, “bertemu” dengan kisah-kisah “aneh” yang tak masuk akal.

Tempo hari, bibi bercerita. Melati, sebelum pergi ke pantai dan melihat naga hijau Pantai Selatan yang diduga adalah lelembut, selalu jadi anak yang kelewat sopan.

Ha gimana nggak; setiap kali pergi ke luar rumah, ia akan pamit ke semua orang di dalam rumah, mulai dari bibiku yang merupakan “Uti”-nya, ibu dan ayahnya sendiri, hingga—ini yang paling aneh—sosok yang tidak kelihatan.

Melati, hampir setiap pagi, berkata, “Melati pergi dulu, ya.”

“Kamu nggak takut?” tanya bibiku suatu hari, waktu lagi-lagi Melati mengucapkan kalimat pamit andalannya. Tidak ada siapa pun di rumah selain mereka berdua.

Baca juga:  Mengapa Jogja Seharusnya Bersyukur Para Alay Merusak Taman Bunga?

Melati tampak agak bingung sebentar, lalu menjawab, “Nggak. Itu kan Melati pamit ke Uyut!”

Uyut, alias kakek buyutnya, adalah kakekku.

Tapi, asal kamu tahu, kakekku sudah meninggal sejak dua tahun lalu. (A/K)

BACA JUGA Naga Asia, Naga Jawa, Naga Eropa, dan Naga-Naga Versi Lainnya atau artikel rubrik MALAM JUMAT lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles