Masalah yang saya hadapi itu klasik banget: orang tua ingin saya jadi PNS, saya tidak. Masalah ini saya bilang klasik karena jelas saya nggak sendiri perkara ini. Kayaknya, generasi milenial rata-rata mengalami ini, dan kebanyakan ya melawan dengan jadi sejahtera lewat cara yang mereka temukan sendiri.
Kalau saya, melawannya dengan membuktikan saya bisa dapat kerja dengan penghasilan yang mirip-mirip PNS dengan ilmu yang saya punya. Alhamdulillah, saya berhasil. Saya bisa membuktikan omongan dan prinsip saya. Harusnya, masalah kelar dong. Realitasnya, tidak.
Sebagaimana debat kusir dua orang, pihak yang terbukti salah belum tentu akan mengaku kalah. Sampai sekarang, ternyata masalah saya tidak mau jadi PNS itu nggak benar-benar kelar. Selalu ada argumen baru yang dilontarkan orang tua saya, yang meski kebanyakan itu tak masuk akal, tapi lama-lama capek juga dengerinnya.
Tidak menggubrisnya adalah cara terbaik yang bisa saya lakukan. Tapi manusia punya batasnya, dan terkadang, ini yang orang-orang tak tahu, betapa beratnya tidak jadi anak yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua.
PNS masih seksi, sekalipun rezim ini tak berpihak
Apa yang di pikiran orang tua kalian tentang PNS? Pasti SK, gaji tetap, tunjangan besar, sama privilese-privilese lain kan? Ya sama. Saya mendengarnya sampai muntah.
Tapi memang hal-hal di atas ini amat seksi. Saya yang nggak tertarik jadi abdi negara saja silau sama benefit ini kok. Di hidup yang serba brengsek ini, kepastian terkait ekonomi jadi satu hal yang tak boleh ditawar. Miliaran manusia di dunia ini pasti bermimpi tentang hal yang sama, kepastian ekonomi.
Dan saya ya nggak bisa menyalahkan orang tua saya kalau pengin saya punya stabilitas seperti itu. Orang tua mana yang pengin anaknya menderita kan. Yang jadi masalah adalah, orang tua zaman dulu berpikir hal seperti itu hanya bisa dicapai dengan satu cara.
Bahkan setelah saya memberi slip gaji, pencapaian, how much I make a year, ya tidak bergeming. Bagi mereka, itu temporary. Padahal buat PNS, sekarang hal tersebut juga sama saja: sementara, dan bisa saja besok tak ada.
Silakan cari berita tentang dipotongnya tunjangan, gaji PPPK yang tak lagi besar, serta pos-pos yang dipotong. Stabilitas yang dulu jadi jualan, sekarang malah seakan jadi bualan.
Harus siap dengan rasa sedih
Kalian pernah tidak melihat orang tua kalian membanggakan saudara, sedangkan nama kalian sama sekali tak disebut?
Saya amat familiar dengan rasa tersebut. Lebaran kemarin, saat kumpul keluarga, Bapak saya menggebu-gebu menceritakan salah satu saudara bisa beli Yamaha XMAX hasil dari jadi supplier salah satu program pemerintah. Sedangkan saya tidak sekali pun disebut, bahkan mungkin beliau lupa saya ada di situ.
Apakah saya anak yang gagal? Well, I wouldn’t say so. Cuma ketika cerita tentang anggota keluarga yang lain, yang PNS selalu yang disebut. Sedangkan saya, yah, begitulah. Saya tahu orang tua saya tidak benci saya, tapi di pikiran mereka, yang sukses itu yang PNS.
Saya tidak sedang membuka aib keluarga. Saya hanya ingin menunjukkan ke kalian, bahwa jadi anak yang tidak sesuai harapan orang tua, sekalipun kau tidak gagal, itu tak pernah mudah. Mereka akan tetap membayangkan kamu jadi versi yang mereka inginkan.
Jadi, misalkan kalian tidak ingin jadi PNS, gas. Tidak semua orang mau kerja di pemerintahan. Tapi selalu ada harga yang dibayar atas setiap pilihan kalian. Mungkin bayaran kalian sama dengan saya, tidak dianggap, dan memilih membanggakan orang lain yang tak ada hubungannya. Atau mungkin bayaran kalian lebih indah, saya tak tahu.
Apa pun pilihan kalian, saya yakin kalian tahu yang terbaik. Yang jelas, di masa kini, tak ada yang punya kepastian selamat. Bahkan PNS sekalipun.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN














