Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tidak Ada yang Lebih Baik di Antara Mahasiswa Organisatoris, Akademis, dan Aktivis

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
2 Mei 2019
A A
magang, magang di instansi pemerintahan jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Rasanya Magang di Instansi Pemerintahan Jogja: Duit Seret, Pengalaman pun Nggak Dapet! Gambaran Kusutnya Birokrasi Negara (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tidak ada yang lebih baik di antara mahasiswa organisatoris, akademis, dan aktivis. Semuanya sama saja—sama-sama menyedihkan—karena seberapa mentereng prestasi, pengalaman organisasi, atau aktivitas advokasi yang ada di CV mu, pada akhirnya kamu akan tetap menjual diri di pasar kerja. 

Mana yang lebih baik, menghabiskan waktu di kampus sebagai mahasiswa organisatoris, akademis, atau aktivis?

Entah kenapa sampai sekarang saya masih gagal paham kenapa banyak sekali orang memperdebatkan pertanyaan konyol ini. Maksud saya, kenapa sih orang-orang suka sekali membanding-bandingkan, dan merasa label yang satu lebih bagus dari yang lainnya?

Mahasiswa organisatoris so called pejabat kampus macam anggota BEM misalnya, mereka senang sekali mengagung-agungkan skill kepemimpinan, komunikasi, dan sosial yang menurut mereka (biasanya sambil mengutip artikel tentang 20 skill yang dibutuhkan perusahaan di dunia kerja) jauh lebih penting dari sekadar mengejar nilai semata.

Mahasiswa yang pro akademik macam aslab, asdos, ashiap lain lagi. Mereka lebih senang mengglorifikasi pentingnya mengoleksi nilai A semasa kuliah. Bagi mereka, yang bilang IPK nggak penting itu ya emang dasarnya aja terlalu malas—untuk nggak dibilang bego—untuk dapat nilai A.

Lagian, nilai bagus adalah bukti kalau kita serius dan bertanggung jawab dengan kewajiban menuntut ilmu. Mereka lalu melancarkan pukulan seperti petinju dengan mengatakan, “Organisasi buat apa, hah?? Toh kalau IPKmu kecil, boro-boro skillmu dicari di dunia kerja, ngelamar pekerjaan dengan syarat IPK minimal 3 aja nggak akan bisa!” Mamam noh organisasi~

Di sebrang jalan, mahasiswa aktivis biasanya mengacungkan jari tengah kepada keduanya. Lalu bilang kalau mahasiswa organisatoris dan akademis ini hanya sekelompok orang egois yang lupa akan tugas mereka sebagai mahasiswa.

Halo Bung dan Nona, Mahasiswa itu harusnya memikirkan rakyat! Ngapain jadi anak BEM, lagian apa sih BEM itu? Humasnya rektorat?

Dan Bung dan Nona yang mengaku seorang akademisi tapi hanya mencari ilmu untuk dirinya sendiri dan merasa terlalu tinggi untuk berguling di lumpur bersama rakyat (eh mau ngapain juga guling-guling di lumpur) egois kalian semua itu. Ilmu yang di dapat di universitas tuh harusnya disebarkan kepada masyarakat kecil yang tidak sempat mengecap pendidikan, bukannya malah dipakai memperkaya diri sendiri dengan memilih hidup nyaman dan kerja di korporasi. Sekali-kali keluar dong ke jalan! Ilmu nggak cuman bisa di dapatkan di kelas!11! Se666an~

*sementara itu, mahasiswa yang selama kuliahnya cuman kuliah, pulang, ngewibu dan ketiduran pada nontonin keributan sambil makan pop corn*

Kenapa saya bilang membanding-bandingkan, dan mencari kegiatan mana yang lebih baik dilakukan di kampus itu konyol, ya karena sebenarnya karena saya tahu kalau mereka itu aslinya sama-sama aja. Sama-sama menghabiskan waktu kuliah dengan cara menyedihkan hahaha. Loh, nggak percaya? Gini gini saya jelasin.

Anak-anak organisasi pejabat BEM, menghabiskan waktu kuliah mereka dengan menggarap berbagai program kerja mulai dari acara pengembangan semacam diskusi, workshop, dan seminar sampai acara hedon senang-senang. Dalam setahun, kegiatan yang mereka lakukan bisa banyak sekali, lho. (Supaya bisa minta banyak uang ke rektorat yang pelit tentu saja)

Selama masa kerja itu, mereka harus mau rapat kepanitiaan sampai malam, begadang bikin Tor dan rundown, membuat desain gratisan, hingga wara-wiri ke sana kemari buat nyari sponsorship dan jualan danusan (yang akhirnya harus mereka beli sendiri).

Lah ini kan namanya kerja gratisan… Lebih parah dari perburuhan karena nggak pernah dapat upah. Terus kenapa dong kalian begitu bangga dengan perbudakan modern semacam itu hahaha?

Iklan

Eitsss. Yang akademisi jangan ketawa dulu.

Jadi seorang aslab/asdos/asprak/aspirin atau apa pun lah itu namanya mungkin terdengar keren. Kamu juga akan banyak dicemburui teman-temanmu karena menjalin hubungan yang sangat dekat dengan dosen sampai-sampai disebut “anak kesayangan dosen”. Tapiiiiii, kamu tahu sendiri bahwa kamu sebenarnya juga jadi korban perbudakan di jurusan…

Hampir setiap hari ngelembur di lab buat bimbing praktikum, bikin slide presentasi, bantuin dosen buat penelitian, disuruh jagain dan ngoreksi ujian, sampai-sampai diminta anter jemput anak dosen dari sekolahnya.

Dan yang lebih mengerikan, kamu bahkan nggak bisa bilang “nggak” karena sangat sungkan.

Padahal kenapa sih harus memperlakukan dosen seperti itu? Apa yang ingin kalian tunjukan sampai-sampai mau-maunya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya bisa dilakukan dosen itu sendiri? Kalian sadar nggak kalau kalian tuh dimanfaatin?

Sementara kalian susah payah bikin laporan, LPJ, penelitian dll dll dll, dosen-dosen akan semakin keenakan karena merasa bisa terus mengandalkan kalian. Itu artinya~ dosen-dosen nggak melihat kamu secara setara. Mereka lebih berpikir kalau waktu mereka lebih penting, sementara kamu nggak~ makanya kerjaan mereka ya lebih enak dikasihin ke kamu lahh, jadi mereka bisa gosip haha hihi—ketika jelas-jelas sebenarnya kamu juga punya banyak tugas lain sebagai mahasiswa. Lalu, diperlakukan kayak gitu kamu masih bangga? Hahaha.

Terakhir, Bung dan Nona mahasiswa Aktivis yang mendaku paling peduli dengan rakyat dan kaum yang tertinggal tapi sendirinya meninggalkan terlalu banyak urusan kampus sampai kuliahnya kedodoran.

Abai pada kampus itu bertentangan dengan amanat rakyat, lho. Yang bayarin kuliahmu kan sekian persennya subsidi dari rakyat. Kalau kamu terlalu lama di kampus, artinya uang UKTmu yang mahal itu, yang sebagian dari keringat rakyat yang bercucuran itu, dibiarkan menguap begitu saja~ Ha ha ha.

Betul, tidak lulus cepat dan lebih banyak menghabiskan waktu sebat di jalan memang tidak merugikan orang lain. Tapi omong kosong dengan perjuangan ketika kamu sendiri masih terbelenggu dengan beban kuliah sekian sks dan skripsi yang tidak pernah kamu jamah lagi.

Kamu sebenarnya boleh saja jadi organisatoris, akademis, aktivis atau jadi tiga-tiganya sekalian, tapi merasa lebih superior dan mendiskreditkan mahasiswa lain hanya karena memilih jalan yang berbeda adalah hal yang sangat konyol.

Apa pun yang kamu lakukan untuk menghabiskan masa kuliahmu, kalau tujuannya cuman buat pamer dan ingin menunjukan kalah “aq menghabiskan waktu kuliahku dengan lebih berfaedah dari qmu”, seberapa mentereng prestasi, pengalaman organisasi, atau aktivitas advokasi yang ada di CV mu, pada akhirnya kamu akan tetap menjual diri di pasar kerja. Karena itu kan yang ada di kepalamu? Cuman persaingan.

Kalau kamu beneran kuliah untuk tujuan sebenar-benarnya pendidikan, kamu nggak akan sibuk dengan menyinyiri apa yang dilakukan oleh mahasiswa lain. Kamu akan lebih banyak berpikir, membaca, berdiskusi, melakukan gerakan-gerakan emansipasi, dan lebih peduli pada pemberdayaan masyarakat di akar rumput. Bukannya malah mikirin persaingan, siapa yang lebih baik di antara mahasiswa satu dan yang lainnya untuk bisa diterima di dunia kerja.

Btw, saya jadi ngerti kenapa Peringatan Hari buruh dan hari Pendidikan diperingati secara berdekatan. Mungkin biar mengingatkan kita bahwa Mahasiswa (kelompok yang dianggap paling berpendidikan) mau apa pun kegiatan yang mereka punya, pada akhirnya akan jadi buruh juga. He he he.

 

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2019 oleh

Tags: akademisiAktivisHari Pendidikan NasionalMahasiswaorganisatoris
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Mahasiswa S2 Kajian Terorisme, Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.