Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Starter Pack Nge-chat Atasan ala Budak Birokrat

Audian Laili oleh Audian Laili
26 Agustus 2019
A A
nge-chat atasan, budak birokrat MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pernah merasa perlu memikirkan berkali-kali karena saking takutnya salah ngomong hanya untuk nge-chat atasan? Kamu nggak sendirian.

Menjadi suatu hal yang mahfum kalau melihat di sekitar kita, jika ada orang dengan posisi lebih tinggi akan bersikap begitu bossy. Hal semacam ini cukup sering terjadi. Seseorang yang merasa punya status sosial dan/atau ekonomi lebih tinggi, sering merasa bisa menyuruh-nyuruh orang lain yang—kebetulan—jadi anak buahnya dengan seenaknya. Hingga terkadang, mereka disuruh untuk sesuatu yang bukan jadi kewajibannya.

Contohnya salah seorang tetangga saya yang punya bisnis laundry. Dengan berkembangnya bisnisnya ini, beliau akhirnya merekrut beberapa orang untuk membantu usahanya tersebut. Di awal sudah cukup jelas, kalau tugas pegawainya hanya yang berkaitan dengan pekerjaan mencuci, menjemur, menyetrika, dan membungkusnya hingga layak untuk diterima konsumen.

Tapi dengan berjalannya waktu, si pegawai ini juga ngurusin hal lain di luar aktivitas tersebut. Semacam, ya ikut bantuin masak, ya ikut bersih-bersih rumah, atau dimintai tolong untuk (((hal-hal yang dianggap kecil))) lainnya. Semua ini dilakukan tetangga saya dengan biasa-biasa saja, karena merasa dia telah membayar pegawainya itu.

Sikap-sikap merasa berkuasa atas orang lain karena merasa posisinya lebih tinggi, sebetulnya sudah terlalu menjengahkan. Apalagi yang terjadi di tengah-tengah birokrat kita. Ya, baik persinggungan masyarakat dengan birokrat. Maupun di dalam birokrat itu sendiri. Banyak orang yang merasa punya privilege akhirnya memilih bersikap sewenang-menang (ya, menang) dan merasa senang kalau ada orang lain yang tunduk padanya.

Jadi, saat muncul keluhan seorang budak birokrat yang menunjukkan komunikasi keseharian dengan atasannya semacam ini, menjadi cukup relevan bagi banyak orang.

https://twitter.com/priyandabp/status/1164848306486272000

 

Di situ tampak bagaimana si bawahan nge-chat atasan. Ketika atasan sering memberikan respons singkat untuk pesan panjang kita, seperti “tks”, itu bisa dipahami. Mereka sibuk dan punya banyak agenda. Begitu pula, ketika kita merasa tidak punya kuasa, lantas menjadikan obrolan jadi kaku dan hanya sanggup mengungkapkan hal-hal yang template semata. Sampai-sampai, hal tersebut disematkan menjadi starter pack ala birokrat.

Hubungan yang tidak setara, membuat kita yang berada di posisi bawahan merasa pekewuh kalau bersikap sok akrab dengan mereka. Bahkan, setiap kalimat yang akan disampaikan perlu dipikirkan berkali-kali. Kalau perlu, di-draft dulu sekalian biar bisa dicek dulu sebelum dikirim ke si bos.

Pasalnya, kalau nge-chat atasan dengan sok akrab kayak ke teman kita sendiri, bisa dianggap tidak sopan dan tidak tahu unggah-ungguh. Padahal kita semua juga tahu, yang namanya hubungan kerja ada relasi yang saling membutuhkan di dalamnya. Jadi, bukan lagi siapa membutuhkan siapa, toh?

Oleh karena itu, karena hubungan kerja yang sangat otoritatif ini menjadi biasa saja dan justru dilanggengkan, ketika ada seorang atasan yang bersikap humble ia bakal terlihat sangat wow! Dan menjadi idaman. Padahal, menjadi baik dan humble itu ya memang sudah seharusnya. Ia bukanlah suatu hal besar.

Bukankah kita memang diminta untuk menghargai orang lain selayaknya kita ingin dihargai? Bukankah ada yang namanya hak asasi manusia bahwa setiap orang punya derajat yang sama?

Eh, tapi maaf kalau salah dan sok tahu. Mohon arahannya *emot menangkupkan kedua telapak tangan*

Iklan

BACA JUGA: 5 Ciri-Ciri Bucin Alias Budak Cinta: Romantis, tapi Nalarnya Tipis

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2019 oleh

Tags: atasan-bawahanbudak birokratnge-chat atasanpola komunikasirikuh
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Lima daerah di Jawa Tengah jadi pilot project BPOM Pusat untuk produk jamu aman demi menjaga citra obat tanaman herbal warisan UNESCO MOJOK.CO

Merawat Citra Jamu di Jateng sebagai Warisan Sehat dan Aman, Campuran Bahan Kimia Bisa Merusaknya

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.