Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
5 Januari 2026
A A
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menengok ke ranah digital

Tidak sedikit influencers, atau minimal akun dengan banyak followers, memuji Salatiga. Salah satunya akun (@)widino di Twitter. Konten Dino yang naik pada 22 April 2025 ini mendapatkan engagement yang biasa besar. Dia menulis begini:

“Buat gw, Salatiga tuh kota healing yg sebenarnya healing. Kota tp kehidupannya selow bgt, ga perlu cari tempat wisata atau kuliner, cukup jalan kaki santai keliling kota dari sore sampe malem. Vibesnya syahdu, sejuk, kek tentram bgt suasananya. Warganya pun ramah2 bgt 🥹”

Konten yang harmless ini mendapatkan respons yang sangat positif. Rata-rata setuju dengan konten Dino, dan banyak lagi yang menambahkan pengalamannya yang positif selama berkunjung ke Salatiga. Maka, tidak heran kalau di sini, kamu bisa menerapkan konsep slow living dan frugal living ketimbang Jogja.

Jogja, tentu masih sangat kuat sebagai magnet wisatawan. Di akhir tahun 2025 saja, ada lebih dari 7 juta wisatawan yang masuk ke Jogja. Namun, mereka ini hanya “sementara”. Jogja menawarkan hal-hal sementara, sementara Salatiga masih bisa menawarkan sesuatu yang langgeng (dan nyaman).

Dunia digital berperan sangat besar dalam membentuk pola pikir bahwa Salatiga saat ini paling cocok untuk slow living dan frugal living. Lupakan Jogja, apalagi Purwokerto, yang sudah “panen romantisasi”, yang nyatanya nggak secara rata mengangkat kualitas hidup warganya.

Bahaya dari status Salatiga yang “menggantikan Jogja”

Saya mengakui, bahkan iri, dengan status Salatiga sebagai kota terindah di Jawa. Sudah begitu, ia mendapatkan julukan City of Harmony pula. Siapa yang nggak pengin tinggal di daerah seperti itu. Mau slow living atau frugal living, yang pasti kamu mendapatkan kesempatan untuk living di sana.

Namun, romantisasi yang terasa over and over again kepada Salatiga ini justru sangat berbahaya. Tentu, bahaya untuk Salatiga itu sendiri. Dan dengan saya menyebut nama kota ini, artinya bahaya yang muncul akan mengarah kepada masyarakat sendiri.

Jangan sampai, Salatiga menjadi korban romantisasi yang bergaung di penjuru Jogja selama 10 tahun lebih. Nama Jogja akan terdengar indah dan menjanjikan. Namun, untuk living saja susah, apalagi mau slow living dan frugal living. Sudah begitu, banyak masalah lahir dan terasa abadi.

Celaka romantisasi Jogja, bisa menular ke Salatiga

Pertama, soal gentrifikasi dan marginalisasi warga lokal. Pembangunan hotel, apartemen, dan kafe kekinian yang masif itu untuk siapa? Warga lokal? Jangan konyol.

Hasrat memenuhi memenuhi ekspektasi wisatawan telah memicu lonjakan harga tanah. Warga lokal, terutama generasi muda, semakin sulit memiliki hunian di tanah kelahiran sendiri dan terdorong ke pinggiran kota. Salatiga kota kecil. Kalau warga terpinggirkan, mau minggir ke mana?

Kedua, paradoks upah rendah dan biaya hidup. Romantisasi Jogja sebagai “kota murah” mengabaikan fakta bahwa kenyamanan tersebut disubsidi oleh Upah Minimum Regional (UMR) yang sangat rendah. 

Bagi wisatawan, Jogja itu murah. Namun, bagi buruh lokal, harga-harga sudah mencapai standar kota besar namun dengan daya beli terbatas. Bagaimana dengan UMP/UMR Salatiga? Sudah bikin warganya rata sejahtera?

“Narasi Jogja Murah sebenarnya bersifat eksploitatif. Jogja menjadi murah karena tenaga kerjanya dihargai murah. Ada ketimpangan yang lebar antara citra romantis dengan kesejahteraan riil masyarakatnya.” Kata Dr. Hempri Suyatna, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ketiga, masking (penyamaran) masalah sosial. Romantisasi yang berlebihan membuat masalah serius seperti kekerasan jalanan (klitih), konflik agraria, dan krisis air bersih akibat pembangunan hotel menjadi terpinggirkan dari diskusi publik. Ada yang memandang isu ini “merusak citra pariwisata” Jogja.

Iklan

“Romantisasi Jogja berfungsi layaknya anestesi sosial. Ia membuat orang abai terhadap konflik agraria dan kekerasan di ruang publik karena yang dipasarkan hanyalah keramah-tamahan yang semu,” jelas Virdika Rizky Utama, peneliti dan penulis masalah sosial.

Keempat, degradasi lingkungan dan overtourism. Eksploitasi ruang demi konten estetik menyebabkan kemacetan kronis, tumpukan sampah, dan penyusutan air tanah. Identitas Jogja yang dulunya tenang dan bersahaja berubah menjadi kota yang sesak dan berorientasi pada komodifikasi budaya.

Sebuah peringatan

Saya perlu menegaskan satu hal. Saya tidak pernah meniatkan tulisan ini menjadi hantu yang meneror alam kesadaran masyarakat Salatiga. Tulisan ini berasal dari kekhawatiran saja. 

Apalagi, dan sekali lagi, saya iri bisa tinggal di sebuah kota yang menyandang status “kota toleransi”. Bagi minoritas seperti saya, status kota seperti ini terdengar seperti surga dunia.

Selain itu, saya juga tidak ingin melawan hegemoni industri pariwisata. Mau gimana juga, di sana ada masyarakat yang menjadikannya sumur pendapatan.

Ini semata peringatan. Mungkin, ini sudah saatnya pemerintah Salatiga menginjak rem. Ada contoh nyata bernama Jogja, dan mungkin Purwokerto, bisa juga Solo. Bahwa yang berlebihan itu tidak baik. Dan jika romantisasi itu sudah berlebihan, ia berubah dari antibiotik menjadi racun sebenarnya.

Sebelum semuanya terlambat. Injak rem. Dan cegah yang berlebihan itu tumbuh semakin subur. Atur semuanya secara ideal, supaya semua yang terlibat di sana tetap nyaman dan akur. 

Jangan sampai Salatiga, menjadi “rindu, pulang, angkringan” selanjutnya. Puisi yang indah ini justru dimanfaatkan untuk bikin demam Jogja sendiri. Sedih, kan.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Salatiga di Antara Semarang dan Solo: Kota Persinggahan yang Paling Indah di Jawa Tengah dan tulisan seru lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: bahaya romantisasifrugal livinggentrifikasiJogjaPurwokertoromantisasiromantisasi Jogjasalatigasalatiga kota toleransiSandiaga Unoslow livingsolo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)
Pojokan

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.