Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
25 Maret 2026
A A
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Legenda nuthuk rega di momen tertentu

Yang membayar pagi itu adalah istri saya. Sementara saya, menghabiskan nasi gudeg milik anak saya. Yah, namanya jadi orang tua, salah satu tugasnya adalah menjadi “tukang sapu” sisa makanan anak. Eman-eman kalau tidak dihabiskan.

Setelah itu, kami naik motor dan melaju pulang. Perut kenyang habis makan gudeg Jogja bikin mood saya bagus. Namun, sedetik kemudian, saya misuh: “Jancok!”

Istri saya baru saja bilang gini: “Tadi makan habis 103 ribu.” Setelah itu dia tertawa.

Ingat lagi, inilah pesanan kami bertiga:

Saya: bubur gudeg, plus telur dan tahu. Termasuk krecek dan es teh.

Anak: nasi gudeg plus telur.

Istri saya: nasi gudeg, plus ayam dan telur. Minumnya es teh karena nggak ada es jeruk.

Saya adalah orang yang nggak terlalu memusingkan “habis berapa” untuk sebuah makanan yang menurut saya memang kayak. Misalnya, saya dan istri bisa habis lebih dari Rp150 ribu di rumah makan sate kambing Sor Talok di Bantul dekat Kampus ISI.

Namun, untuk sebuah makanan yang menurut saya nggak layak “semahal itu”, saya jatuhnya jadi sedih. Iya, saya memang memaki, tapi bukan semata marah. Lebih ke sedih. Saya maklum kalau harga jadi agak mahal di momen tertentu. Misal, suasana masih Lebaran, penjual atau pedagang jadi nuthuk rega.

Namun, untuk menu gudeg Jogja yang “gitu aja”, saya kaget jadi korban nuthuk rega. Kalau di momen normal, mungkin kami hanya akan habis Rp75 ribu. Itu kalau per menu Rp25 ribu yang mana sebetulnya nggak masuk akal juga karena saya dan anak saya cuma lauk telur.

Gudeg Jogja yang bikin sedih

Sekali lagi, saya tidak marah, cuma sedih. Maksudnya begini:

Penjual gudeg Jogja yang nuthuk rega itu sedang berjudi dengan taruhan tinggi. Memang, di satu momen itu, dia akan dapat untung besar. Namun, dia sedang mengorbankan dua hal yang sangat penting.

Pertama, continuity atau ‘keberlanjutan’. Calon pelanggan yang baru kali pertama menikmati, pasti akan kapok. Meskipun si calon pelanggan ini tahu si penjual sedang memanfaatkan momentum. Namun, kalau sudah kadung kecewa, dan celakanya tidak mendapatkan makanan yang istimewa, dia tidak akan balik lagi.

Kedua, dan paling bahaya, adalah word of mouth (WoM). Dalam dunia marketing, ini adalah strategi pemasaran melalui rekomendasi lisan, tulisan, atau elektronik dari konsumen ke konsumen lain berdasarkan pengalaman nyata. Bisa juga terjadi secara organik, ketika si pelanggan senang lalu sharing di medsos.

Iklan

Lalu, bagaimana kalau si pelanggan kecewa lalu sharing? Itu dia. Apalagi kalau jadi viral. Si gudeg Jogja yang nuthuk rega ini bisa kehilangan pelanggan tetap karena faktor kepercayaan. Itulah yang bikin saya sedih.

BACA JUGA: Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

Nuthuk rega sudah jadi budaya 

Yang namanya nuthuk rega memang sudah jadi budaya. Apalagi di tempat wisata atau di momen tertentu. Saya memaklumi budaya ini. Semata karena mau memberantasnya juga nggak mungkin. Yang bisa saya lakukan adalah menghindari belanja di tempat dan momen “tertentu” itu tadi.

Namun, namanya hidup, nggak aneh kalau saya dan keluarga jadi korban penjual gudeg Jogja yang nuthuk rega. Untung, si penjual ketemu saya dan istri yang malas mempermasalahkan hal-hal kayak begini. Gimana kalau ketemu wisatawan? Ah, jangankan wisatawan, orang lokal Jogja saja bisa emosi kalau suruh bayar Rp103 ribu untuk menu yang “kayak gitu”.

Oleh sebab itu, saya berdoa, kalau tulisan ini bisa sampai ke semua penjual yang hendak nuthuk rega. Saya tidak akan melarang. Lha siapa saya kok mengatur kehidupan panjenengan semua. Cuma, saya mau berpesan, kalau perjudian yang panjenengan semua lakukan itu adanya cuma rugi dan rugi.

Untuk penjual gudeg Jogja, plis deh, i love gudeg Jogja. Pertahankan rasa, kualitas bahan, dan harga yang masuk akal. Udah, itu saja. Saya yakin, kalian pasti nggak kekurangan pelanggan. Bathi sithik ora popo, tur ajeg. Gitu maksud saya.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Gudeg Jogja yang Membuat Wisatawan Kecewa dan Wajib Kamu Hindari dan pengalaman menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: cara memasak gudeg jogjagudegGudeg Jogjaharga gudeg JogjaJogjaLebarannuthuk regarekomendasi gudeg Jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO

Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.