Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menuju Jakarta Syariah dengan Menolak Pajak Haram

Arman Dhani oleh Arman Dhani
5 November 2017
A A
171102 kandhani jkt syariah

171102 kandhani jkt syariah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Anies Baswedan menganggap uang pajak dari hotel Alexis Haram. Terus di mana dong cari duit halal di Jakarta?”

Pak Ali Sadikin, gubernur Jakarta yang hebat itu, pernah bilang: para kiai atau ustadz yang menolak uang haram dari pajak judi dan prostitusi sebaiknya beli helikopter saja kalau mau jalan-jalan di Jakarta, soalnya jalan di Jakarta dibikin pakai uang pajak judi.

Dia jelas sedang mengejek. Inti yang hendak Ali Sadikin maksud, kalau mau membangun Jakarta, ada yang harus dikorbankan. Kalau nggak iman, ya kebijakan. Dan kali ini, Pak Anies Baswedan menolak menjual iman; ia menolak pajak dari usaha yang haram.

Yak, ini masih soal Alexis. Jadi gini, manajemen hotel Alexis tempo hari menyebut bahwa mereka menyumbang 30 miliar duit pajak ke pemda DKI. Besar? Jelas besar. 30 miliar bisa digunakan untuk banyak hal. Membangun jalan, sekolah, beasiswa sekolah anak, bahkan membangun masjid.

Tapi, Pak Anies nggak mau. Alasannya, hotel Alexis itu tempat icik-icik ehem. Remang-remang. Sarangnya kegiatan yang gitu-gitu deh. Sesuatu yang ena-ena tapi dosa.

“Kami ingin uang halal. Kami ingin dari kerja halal. Nggak berkah,” ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta.

Ini bagus jadi momen perenungan, apakah uang itu punya ideologi?

Menurut saya sih tidak. Uang itu benda mati. Poinnya ada di manusia yang memanfaatkan uang itu, mau digunakan untuk pesta seks atau membangun peradaban. Di sini keputusan Pak Anies Baswedan sudah benar. Alumni HMI lho, gubernur muslim pilihan umat lho, masak makan duit haram?

Eh, sebentar. Apa cuma Alexis satu-satunya penyumbang duit haram ke pemda DKI? Setelah saya baca-baca, saya simpulkan bahwa nggak cuma Alexis. Ada banyak bahkan. Sekarang tinggal Pak Aniesnya gimana, mau konsisten menolak semuanya nggak? Atau Alexis ini jadi lip service semata?

Sumber duit haram DKI yang pertama itu bunga bank. Sudah tak perlu diperdebatkan ya status halal haramnya.

Dulu Koh Ahok ditegur Presiden Joko Widodo karena ada uang 13,9 triliun tersimpan di bank dan tidak digunakan untuk pembangunan. Bayangin, duit 13 triliun itu kalau dibungakan, satu persen saja, udah banyak banget, 130 miliar! Tapi, apa artinya kalau itu duit haram? Konon, kata ustadz di YouTube, dosa riba itu setara menzinahi ibu sendiri. Apa semua pekerja pemda DKI mau menerima duit yang semenjijikan itu? Apa warga Jakarta mau proyek pembangunan kota ini dibikin dari duit yang demikian? Amit-amit, Boi.

Kalau mau konsisten, Pak Anies harus menolak uang pemerintah dibungakan.

“Mari kita memanusiakan warga, memanusiakan pemda, dengan menolak riba. Kita mulai dari Jakarta di mana Belanda ada di depan mata,” mungkin begitu ucapan Pak Anies kalau jadi menolak bunga bank. Bila itu sampai terjadi, alhamdulillah, beres satu lagi masalah sumber duit haram Jakarta.

Masih ada yang lain? Masiiih. Soal kepemilikan saham di perusahaan bir. Lagi-lagi ini kata Koh Ahok dulu: pemda DKI punya saham di perusahaan bir sejak 1970. Astaga, 1970 kan zamannya Pak Ali Sadikin. Doi lagi, doi lagi. Duit dari sini yang masuk ke kas DKI nggak sedikit. Tahun 2012 mencapai 48 miliar.

Iklan

Bir sudah jelas haram dikonsumsi, sejelas haramnya daging B1 maupun B2. Sejauh ini belum ada kabar ada bir halal sebagaimana wiski halal yang ternyata hoax itu. Kabarnya bir 0% pun tidak jelas hukum halal haramnya. Tunggu apa lagi, Pak Anies, segera jual sahamnya atau tutup pabriknya. Biar konsisten.

Eh, sebentar. Perusahaan bir itu haram, maka sahamnya juga. Kalau jual barang haram, duit yang dihasilkan juga haram. Ini kalau mau patuh mantiq. Artinya, saham itu nggak boleh dijual ding. Nanti malah bikin bingung, uangnya mau diapakan, mau dipertanggungjawabkan kayak gimana. Sudah, sahamnya dikasih siapalah yang mau atau lupakan bahwa pemda pernah punya saham di sana.

Itu kalau Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur mau konsisten. Kecuali mencla-mencle seperti di kasus janji DP nol persen. Saya yakin Pak Anies dan Pak Sandi itu menjaga diri dari yang riba, menjaga diri pula dari sikap munafik.

Sudah? Oh ternyata belum.

Masih ada pendapatan pemda Jakarta lainnya yang bersumber dari duit haram. Kali ini dari bisnis hiburan malam: diskotik, karaoke, dan klub malam yang jualan alkohol. pada 2017, pemda Jakarta mendapat pemasukan dari bisnis ini sekitar 155 miliar. Kalau dipakai buat modal penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tingkat SMA se-Jakarta yang besarnya 200 miliar kurang sedikit, duit haram yang ini sudah nutup tiga perempatnya.

Kalau semua yang haram-haram tadi akan dieliminasi dari sumber pemasukan Jakarta, ya kira-kira ada 360 miliar yang lolos. Tapi, apa dong yang jadi penggantinya?

Tenang. Bukankah Jakarta ini langganan demonstrasi nomor cantik? Tujuh juta alumni demonstrasi 212 yang siap mengawal fatwa ulama dan gubernur pilihan umat bisa memberi sokongan. Caranya? Dengan pajak demonstrasi. Bayangkanlah setiap tanggal cantik ada demo dan demo itu dipajaki. Misalnya nih, nanti ada demo tolak Perppu Ormas tanggal 1-1-2018, angka cantik, tujuh juta umat turun, tiap orang dipajak 10 ribu per kepala, mari hitung, berapa banyak duit yang terkumpul? 70 miliar. Nggak sedikit. Halal pula.

Pajak lain yang bisa dilakukan adalah pajak pengajian. Di Jakarta itu kan kadang jamaah terpaksa nutup jalan untuk keperluan pengajian. Bayangin berapa banyak pemasukan pemda Jakarta kalau tiap pengajian, pemerintah memajak peserta pengajian per kepala. Bukan apa-apa, selama ini pemerintah itu kan bikin pajak hiburan yang kadang diisi oleh miras atau pesertanya buka aurat, sudah pasti haram. Kalau pajak pengajian toh jelas, dari umat, oleh umat, untuk umat. Duit pajak juga akan dibacakan doa agar selalu berkah.

Selain itu pemda Jakarta juga bisa jualan suvenir dan sertifikat. Setiap aksi demo cantik akan disediakan official merchandise bersertifikat halal. Sebagai umat yang menjaga diri, kita perlu tahu kalau baju, topi, ikat pinggang, kaos kaki, kutang, sampai sempak kita ini benar dibuat dari material yang terjamin kehalalannya. Jangan kalah sama fandom K-Pop. Sudah trendi, barokah pula.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2017 oleh

Tags: Anies BaswedanAnies-Sandidki jakartaDuit Haramhotel alexisPajak HaramPajak HiburanPemda Jakarta
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Hidup Cemas di Manggarai Jakarta Selatan karena Tawuran MOJOK.CO
Esai

Merantau di Manggarai Jakarta Selatan Artinya Hidup Sambil Memelihara Ketakutan, Hidup Susah, dan Terancam Tawuran yang Bisa Terjadi Kapan Saja

18 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.