Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mencari Keindahan dari Hamparan Sawah yang Baru Saja Dipanen

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
30 September 2020
A A
sawah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Hamparan sawah yang hijau memang selalu tampak indah dan menyenangkan, apalagi kalau buat background foto.

Sejak menemukan fakta bahwa ada banyak sekali hotel dan penginapan estetique yang menawarkan pemandangan luar biasa dengan harga yang ternyata nggak mahal-mahal amat, saya dan istri saya jadi lumayan sering menginap di hotel dan penginapan yang menurut kami asyik. Kalau kata orang-orang istilahnya staycation.

Saya merasa kebiasaan staycation yang saya lakukan bersama istri ini adalah semacam kebiasaan yang dilatarbelakangi oleh dendam masa kecil. Maklum saja, di masa kecil, kami berdua memang sama-sama melarat. Tiada mungkin menginap di hotel. 

Orang melarat itu hampir nggak mungkin berpikir tentang hotel. Kalau mereka kemalaman di sebuah kota, yang mereka pikirkan pastilah “Siapa kerabat atau teman di kota ini yang bisa kita tumpangi?” atau “Di mana masjid yang serambinya bisa buat kita numpang tidur sejenak sampai subuh?” Bukan “Di mana hotel terdekat di sekitar sini?”

Tentu saya paham betul hal ini, sebab saya adalah salah satunya.

Sekarang, ketika saya dan istri saya mulai bisa menyisihkan gaji kami, rasanya tak ada salahnya kami mencoba untuk sedikit mengikuti gaya hidup orang yang sudah makmur dengan cara hobi menginap dari hotel yang satu ke hotel yang lain. 

Tuntutan konten instagram semakin membuat hobi ini semakin menjadi-jadi. Berburu hotel yang instagramable untuk kemudian berfoto di sana sebagai konten adalah sebuah keasyikan tersendiri bagi kami. 

Beberapa minggu yang lalu, kami menginap di sebuah penginapan di sekitaran Candi Borobudur. Kami mendapatkan sebuah penginapan dengan harga yang cukup miring, padahal penginapan tersebut menawarkan pemandangan kebun tembakau dengan Bukit Menoreh yang sangat indah itu sebagai latar belakangnya.

Keberuntungan itu kemudian memancing kami untuk berburu penginapan lain yang lokasinya masih di sekitaran Candi Borobudur.

Setelah berburu melalui aplikasi, dapatlah satu penginapan yang kami anggap sangat layak untuk kami coba. Kebetulan harganya juga tak terlalu mahal. 

Penginapan tersebut mempunyai pemandangan yang sangat indah dan tentu saja instagramable. Mereka punya kolam renang kecil yang lokasinya bersebelahan persis dengan sawah. Kalau difoto dari sudut yang tepat, stupa Candi Borobudur itu bisa ikut nampang.

Di Instagram, kami sempat menemukan foto-foto testimoni dari para tamu yang sudah pernah menginap di penginapan tersebut. Dan hasilnya sungguh membuat kami terpukau. Foto-foto mereka tampak indah sekali. Hamparan sawah yang menghijau berpadu mesra dengan warna air kolam renang yang tampak biru. 

Maka, tanpa banyak pertimbangan lagi, kami langsung memesan satu kamar.

Lokasi penginapan tersebut sangat strategis. Hanya beberapa menit dari jalan utama depan Candi Borobudur. 

Iklan

Di penginapan tersebut, segala keindahan yang kami lihat di Instagram benar-benar terbukti. Kolam renangnya yang walau kecil namun terlihat sangat elegan. Sangat cocok sebagai background untuk berfoto. Bangunannya “lucu” dengan sentuhan tradisional yang didominasi oleh kayu. Lantai pekarangannya terdiri dari perpaduan sempurna rumput dan batu alam. 

Di tengah penginapan, ada kolam kecil berisi ikan-ikan koi berukuran besar yang semakin menambah kenyamanan penginapan. 

Yang paling penting, menu makanan yang disajikan semuanya enak. Soto, omelet, telur, nasi goreng, sampai mendoan. Kopinya dahsyat, teh serainya juga mantap. 

Satu-satunya yang mengganjal bagi saya adalah kenyataan bahwa sawah yang lokasinya persis di samping penginapan tersebut baru saja dipanen. Hasilnya, tak ada hamparan padi yang menghijau. Yang ada hanyalah bekas-bekas tanah tandus dengan jerami dan merang berwarna coklat yang tentu saja sangat tidak estetique itu.

Tanpa adanya hamparan hijau tanaman padi, keindahan penginapan menjadi kurang sempurna. Ia seperti setitik noda di kemeja berwarna putih atau kursor laptop yang muncul di tengah-tengah layar saat sedang memutar film. Kecil, namun tampak sangat mengganggu. 

Ingin sekali saya mengeluh karena kondisi itu. 

Di Twitter, saya sempat ingin membalas twit seorang kawan yang kebetulan memposting foto penginapan tersebut saat kondisi sawah yang masih hijau. Saya sudah siap menulis “Kemarin aku menginap di sana, tapi sayang, sawahnya pas sudah panen, jadi pemandangannya nggak sebagus fotomu.”

Namun kemudian, saya merasa saya harus mengurungkan hal itu. Saya hapus komentar yang sudah saya ketik namun belum saya kirimkan itu. 

Setelah saya pikir-pikir, betapa jahat sekali saya kalau sampai mengeluhkan perkara sawah yang tidak hijau hanya karena sudah dipanen itu.

Sawah yang habis panen adalah kebahagiaan yang sangat besar bagi petani. Itulah momen ketika kerja keras mereka terbayar melalui padi-padi. Momen ketika mereka menikmati penantian panjang mereka yang mungkin dibayang-bayangi oleh ketakutan akan gagal panen.  

Jahat sekali kalau sampai saya mengeluhkan buah kebahagiaan para petani itu hanya demi menyempurnakan kebahagiaan saya yang, bahkan tanpa perlu disempurnakan pun sebenarnya sudah sangat cukup.

Penginapan itu akan selalu menawarkan pemandangan sawah yang indah. Sebelum atau sesudah dipanen. 

Kalau memang sawah yang habis dipanen itu tak indah bagi tampilan Instagram saya, setidaknya itu indah bagi para petani di sana.

Terakhir diperbarui pada 30 September 2020 oleh

Tags: borobudurhotelsawah
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO
Eksplor

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.