Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Memahami Sindrom Burnout: Kelelahan yang Sering Dianggap Wajar

Audian Laili oleh Audian Laili
6 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebagai manusia, kita tidak tercipta untuk selalu kuat. Jadi, tidak apa-apa untuk apa-apa. Tidak apa-apa mengalami sindrom burnout untuk sementara.

Ada seorang teman saya yang sedang bekerja di sebuah perusahaan kreatif, datang kepada saya. Ia mengatakan dirinya sudah tak mampu lagi menuangkan ide-idenya semudah dulu. Dia merasa telah kehabisan baterai, butuh di-charger, atau sekalian kalau perlu di-install ulang. Segala ide yang dia usahakan, rasanya betul-betul mentok. Pikirannya tidak lagi bisa menghasilkan sesuatu yang cemerlang. Jangankan cemerlang, ada sesuatu yang bisa dihasilkan saja belum tentu tercipta.

“Kayaknya aku resign aja, deh!” Ungkap teman saya ini. Saya diam beberapa saat, mencoba berhati-hati dalam berucap. Pasalnya, saya merasa dia sedang dalam keadaan yang cukup sensitif.

“Hmmm, sepertinya otakmu sedang lelah, lagi burnout. Apa kamu nggak mau mencoba mengajukan cuti saja?” Dia hanya diam saja, mungkin semakin bingung, atau sedang mempertimbangkannya.

Kita sering mendengar keluhan-keluhan orang-orang di sekitar kita. Mereka merasa sangat kelelahan, tidak bertenaga, bahkan seolah tidak lagi berguna di tempat kerjanya. Lantas, satu-satu jalan untuk terbebas dari itu semua, lebih baik resign saja. Namun sayangnya, kita pun sering menganggap bahwa keluhan semacam itu sebagai kelelahan biasa. Mungkin karena dia kurang tidur, badan kurang fit, atau—yang tega—malah dianggap sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Oooh, tidak sesederhana itu, Kisanak. Keluhan kelelahan yang terjadi pada seseorang, tidak bisa dengan mudah kita anggap sebagai keinginan bermalas-malasan. Meski pada perilaku yang tampak: sama-sama tidak ingin melakukan apa-apa.

Lebih jauh lagi, kelelahan secara berlebih pada seseorang. Lantas membuatnya kesulitan menyelesaikan pekerjaannya, bisa disebut dengan sindrom burnout. Yakni merasa kehilangan energi baik secara psikis maupun fisik ketika melakukan sebuah kegiatan. Hal ini bisa dikarenakan adanya stres yang berkepanjangan yang belum terlesaikan dengan baik. Maupun suatu kondisi di mana tuntutan yang dipikul melebihi kemampuan yang sanggup ia lakukan.

Apa lagi di tengah akses kehidupan yang serba cepat seperti sekarang. Tanpa sadar, kita pun terangsang untuk bergerak cepat dan bisa se-multitasking mungkin. Waktu yang diberikan Tuhan seakan tidak pernah cukup. Yang pada akhirnya membuat kita ngos-ngosan. Kesulitan untuk menikmati setiap peristiwa yang terjadi.

Hidup seolah-olah hanya berjalan dari satu tuntutan ke tuntutan yang lain. Rutinitas yang satu ke rutinitas yang lain. Sebatas itu, tanpa menyisakan makna apa-apa. (Halah).

Tidak hanya kelelahan fisik dan psikis saja. Namun, secara emosional sindrom burnout juga bisa membuat tidak nyaman orang di sekitar khususnya orang terdekat dan keluarga. Misalnya, sebentar-sebentar mudah marah, sensitif, defensif, hingga sulit diajak ngomong karena kebanyakan ngelamun.

Mungkin, itulah yang dialami oleh teman saya. Ia merasa setiap hari terkungkung dalam beban kerja yang terasa semakin menekan. Kondisi ini diperparah, ketika ia merasa kecewa pada dirinya sendiri ketika kewalahan karena tidak dapat menyelesaikan tuntutan kerja secara terus menerus. Akhirnya, ia merasa tidak lagi berdaya. Merasa tidak pantas dan kehilangan motivasi pada pekerjaan tersebut. Lantas, satu-satunya jalan terbaik menurutnya, lebih baik resign saja.

Padahal, teman saya ini—bisa jadi—hanya sedang butuh istirahat. Bukan keluar dari pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, mengambil cuti, melepaskan sebentar beban kerja dan liburan, bukanlah sesuatu yang salah. Selain itu menetralisir sindrom burnout, hal ini untuk menjaga supaya diri kita tetap waras.

Meskipun berpindah profesi dengan tekanan stres yang lebih ringan, juga bisa jadi alternatif keputusan dalam jangka menengah atau panjang. Pasalnya, jika memutuskan berpindah profesi dengan terburu-buru dan mengutamakan emosi sesaat, belum tentu keputusan tersebut justru lebih baik.

Untuk mencegah sindrom burnout, kita juga bisa mempelajari keterampilan untuk mengatasi stres. Biasanya setiap orang memiliki cara berbeda untuk menetralisirnya. Oleh karena itu, tidak perlu ragu-ragu untuk mengkomunikasikannya kepada rekan kerja tentang kebutuhan kita, misalnya menghilang dari beban kerja dalam beberapa saat. Atau, tidak ada salahnya untuk belajar menolak pekerjaan jika memang sudah di luar kapasitas kita.

Iklan

Saya punya seorang teman, yang saya anggap memiliki manajemen stres yang baik. Dia betul-betul memahami tentang kebutuhan kesehatan mentalnya sendiri. Dia bisa dengan tegas dan tidak lagi mengindahkan istilah sungkan dalam kepalanya. Ketika dia merasa butuh tidak diganggu dan butuh men-charger energinya, dia sanggup tidak menanggapi sama sekali komunikasi yang masuk.

Saya rasa, tidak banyak orang-orang yang berani bersikap seperti dia. Apa lagi ketika sudah dilingkupi perasaan nggak enak, sungkan, takut yang nyariin nanti butuh, dan semacamnya. Padahal, sebetulnya kita butuh untuk ber-quality time dengan diri sendiri.

Memberikan perhatian, mengajak bicara, ataupun memberinya reward dengan menuruti keinginan hati kecil kita. Tidak lupa untuk memeluknya erat ketika diri kita merasa tidak mampu. Berterima kasih padanya yang sudah bekerja keras dan bertahan sejauh ini.

Seperti kata Kunto Aji, yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2019 oleh

Tags: burnoutkelelahan mentalkesehatan mentalresign pekerjaan
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran
Urban

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Ironi silaturahmi Lebaran bersama keluarga
Catatan

Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial

23 Maret 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO
Sehari-hari

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.