• 1.2K
    Shares

MOJOK.CO – Liburan itu kebutuhan primer. Tapi jadi mewah karena masalah biaya dan sulitnya cuti kerja. Kasihan…

Sahabat Celengers yang sibuk bekerja hingga lupa berlibur tapi masih menyempatkan diri menonton sinetron dan drama Korea,

Di film-film impor kita sering disuguhi adegan seorang bos menyuruh anak buahnya berlibur karena melakukan serangkaian kesalahan. Kalau dipikir-pikir benar juga. Performa kita dalam bekerja seringkali melorot seperti tanpa sebab. Padahal bisa jadi karena psikis yang lelah.

“Gaess, ini sudah kesalahan yang ketiga minggu ini. Kamu ambil cuti trus pergi berlibur dulu deh ama pacar. Ke Bali atau Derawan nampaknya oke.”

Tentu saja kalimatnya akan jadi lain untuk kalian yang sudah berkeluarga. Biasanya jadi seperti ini,

“Hey Dude, kamu baik-baik saja dengan istri dan anak-anak? Aku saranin kalian berlibur dulu, apalagi minggu depan mulai libur anak sekolah kan? Urusan di kantor tinggal dulu, biar aku yang handle.”

Bagi yang sadar, liburan itu persoalan serius. Orang yang bekerja dalam tekanan apalagi, mereka sangat membutuhkan penyegaran dari rutinitas yang bersifat membunuh. Kecuali para bos menghendaki kalian bekerja sepanjang waktu, kalau perlu duduk sampai mengakar dan kokoh seperti beringin.

Bagaimana kita mengetahui seseorang membutuhkan berlibur?

Indikasi kelelahan bekerja melebihi porsi dan performa melorot karena kurang libur sebenarnya tergantung profesinya.

Seorang penulis terlihat semakin sering typo menuliskan kata per kata. Seorang sastrawan kalimatnya lebih menampakkan uber setoran daripada puitik dan menghujam kalbu. Seorang fesbuker lebih sering menulis soal politik daripada pasang foto mie instan di waktu malam.

Belum selesai. Masih banyak profesi yang perlu libur.

Seorang penyanyi akan menyanyi dengan nada C sementara musisinya mengiringi dengan G. Seorang penabuh drum mencelat stiknya sementara lagu slow yang diiringi bait pertama pun belum kelar. Seorang peneliti sama sekali tidak teliti dengan observasinya.

Dan seorang ketua PSSI, nah kalau itu coba tanya pak Edy Rahmayadi. Butuh liburan atau butuh dipecat!

Liburan atau bisa disebut juga piknik sayangnya belum jadi budaya orang Indonesia. Padahal sudah seharusnya menempatkan piknik sebaris dengan kebutuhan primer seperti makan, minum dan kuota internet. Serius! Soal murah-mahal, jauh-dekat itu semata kendala biaya.

Piknik juga bukan perkara urusan orang pintar apa tidak. Rasanya sangat menjengkelkan kalau kita menyaksikan orang mengejek lawan bicaranya yang tidak sejalan maupun jauh dengan cakrawala wawasannya dengan mengatakan 3 hal: tidurnya kurang malam, mainnya kurang jauh, dan kurang piknik!

Itu sungguh njancuki!

Apalagi kita tau orang yang mengatakan itu dalam kesehariannya jam 7 sore sudah siap-siap tidur, nonton sinetron di jam tayang utama pun sudah tidak berdaya. Pergi paling jauh tidak lebih dari jatah bensin setengki. Setiap ijin cuti untuk piknik pun digagalkan bosnya. Tapi untuk gaya omongan sudah seperti biasa libur akhir tahun di north pole.

Apakah kalian termasuk orang yang sering merendahkan orang lain dengan 3 hal tersebut sementara hambatan untuk berlibur justru bukan soal biaya?

Untuk para pekerja sektor formal, rasanya memang sudah lumrah menghadapi kendala yang umum terjadi di negeri ini: hak cuti sering dikangkangi boss. Misal, pegawai bank kesulitan mendapatkan cuti di setiap akhir bulan karena tengah mengejar target walaupun harus melakukan akrobat, pegawai retail tidak mudah mengajukan cuti di hari libur, dan pegawai pada umumnya selalu kesulitan mendapatkan ijin cuti di musim libur sekolah anaknya.

Sementara untuk para pekerja sektor informal, cuti hampir tidak dikenal. Boleh tidaknya ambil jeda hanya tergantung belas kasihan bosnya. Itu belum bicara cuti hamil ataupun cuti suami untuk mendampingi istri selama dan paska melahirkan. Jauh, masih teramat jauh.

“Ohh, kamu mau ambil cuti untuk liburan?”

“Iya, mohon ijinnya. Mumpung anak-anak juga libur sekolah, Boss,”

“Baiklah. Tapi jangan kaget kalo posisimu sudah digantikan orang lain, ya?!”, kata Si Boss dengan ramah tapi menyerupai kelaliman serupa Herman Daendels.

Jangankan menyiapkan biaya, mendatangi acara travel fair untuk mendapatkan tiket murah, dan memilih tempat untuk lokasi berlibur. Ijin pun bisa jadi tidak pernah ada. Begitu ijin cuti turun, anak sudah sekolah lagi dan istri tidak bisa mendapatkan cuti.

Akhirnya cuti sendiri. Lontang lantung, pergi memancing dan banyak merenung tentang kehidupan. Ya semacam filsuf. Ikan tidak terangkat tapi justru menemukan mutiara-mutiara kata yang bisa dituliskan di dinding media sosialnya.

“Cuti tidaklah penting, selama kita tidak tahu apa arti NKRI harga mati!”

Nah, ini sebenarnya jadi pelajaran penting juga untuk para pencari kerja. Gaji sebenarnya bukanlah hal terpenting dalam hidup. Maksudnya, gaji memang hal pokok tetapi bukan penentu. Ada hak-hak lain yang perlu kita ketahui dalam klausul perjanjian kerja. Dalam hal ini ijin cuti untuk berlibur. Banyak juga pilihan tempat kerja yang memberikan foreign trip incentive (FTI).

Sahabat Celengers yang sudah gregetan liburan tetapi selalu terkulai lemas kalau melongok rekening seperti malam tanpa bintang,

Tulisan ini memang bukan ditujukan untuk para pekerja yang banyak mendapat keleluasaan dalam menentukan waktu libur. Juga bukan untuk kelas pengusaha yang mampu membeli Old Traford Stadium untuk dirobohkan, untuk kemudian dirombak menjadi hutan kota dan disisakan secuil lapangan untuk kasti! Tetapi untuk jiwa-jiwa yang selalu ngeces kalau melihat unggahan foto liburan orang.

Banyak orang mengalami kendala biaya untuk bepergian ke tempat wisata yang diimpikan. Bisa saja orang mengatakan liburan itu yang penting kualitas, bukan tempatnya jauh dan mahal. Untuk orang yang mempunyai kebijaksanaan seperti itu coba saja memberikan saran terhadap orang yang dalam darahnya mengalir keinginan untuk umroh, naik haji atau wisata religi lain sejak mengenal kehidupan beragama.

“Umroh itu penting. Tetapi jauh lebih penting kualitas doa dimanapun kita bisa mendekat pada Tuhan. Karena Tuhan ada di hati kita, meraja di hati kita, bukan di Arab. ”

Dalam pembicaraan sufistik memang tidak keliru. Tetapi kalau kalian memaksakan pernyataan itu ke orang yang memelihara mimpi dan harapan sekian lama untuk secara fisik hadir di tempat bersejarah tersebut. Sebelum ayam berkokok di esok hari mulut kalian akan dikruwes-kruwes, atau malah mungkin kena sliding mulutnya. Ingat kisah Rara Jonggrang, membangun seribu candi dalam satu malam itu tidaklah mungkin. Sementara pemuda bernama Bandung hanya mewujudkan dalam imajinya.

Sekarang soal biaya. Logikanya, orang yang sanggup membeli motor seharga NMax, sanggup untuk berlibur kemanapun di negeri ini. Destinasi termahal sampai sejauh ini ke Raja Ampat. Jika kita menggunakan biro perjalanan untuk paket menginap 3 hari 4 malam, paling tidak akan memakan biaya 4-6 juta.

Murah? Iya, murah kalau kita bisa ber-apparate seperti Harry Potter, tau-tau muncul di Raja Ampat. Untuk darah lumpur dan bukan penyihir seperti kalian, jelas perlu memasukkan biaya tiket pesawat pergi-pulang. Di hari biasa sekitar 4 juta, di akhir tahun bisa melonjak 8-10 juta.

Delapan sampai 16 juta untuk satu orang, kalau pergi sekeluarga tinggal dikalikan saja. Bali jauh lebih murah, sebagai destinasi terfavorit di negeri ini kesiapan infrastrukturnya membuat segala sesuatunya jauh lebih murah. Anggaran untuk satu orang di Raja Ampat sudah cukup untuk membiayai satu keluarga. Pulang pun masih cukup uang untuk belanja oleh-oleh buat tetangga dan kolega.

Ke negeri tetangga seperti Singapore untuk sekedar punya pengalaman ke luar negeri pun bukan sesuatu yang mahal. Hanya perlu 1-2 juta tiket untuk pulang pergi. Masih lebih murah daripada pergi ke Toraja, Wakatobi, Derawan dan tempat indah lainnya. Ini persoalan biaya bukan soal nasionalisme.

Di luar negeri, orang lumrah menabung untuk dihabiskan saat liburan. Sementara kita, di negeri yang luar biasa indah ini menabung identik dengan membeli barang untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat gengsi, dari gadget hingga mobil. Liburan diidentikkan dengan membuang uang dan hanya menghasilkan kesenangan. Sementara membeli Mitsubhisi Expander atau Avanza masih bisa dijual kalau kita membutuhkan biaya atau ganti kendaraan.

Ada cara lain untuk pergi berlibur ke luar negeri tanpa harus menabung?

Ada, mulailah jadi aktivis. Setelah jadi aktivis, mulailah berpartai dan merintis jadi politikus. Nah setelah itu jadi anggota legislatif. Urusan selanjutnya akan lebih mudah, tinggal tunjuk negara yang diingankan untuk urusan kedinasan. Tanpa perlu menabung tanpa perlu memikirkan uang saku. Negara yang mengurus semuanya, enakh~

  • 1.2K
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles