Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Memahami Logika Edhy Prabowo yang Dikritik Susi Pudjiastuti Soal Ekspor Benih Lobster

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
17 Desember 2019
A A
lobster
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Edhy Prabowo dikritik Susi Pudjiastuti soal rencana kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ingin legalkan ekspor benih lobster. Duh, duh.

Sial benar nasib Edhy Prabowo, Menteri Kelautan dan Perikanan, baru juga beberapa bulan menjabat sudah diserang sana-sini. Terutama mengenai wacana Edhy yang ingin membuka kembali keran ekspor benih lobster.

Iklan

Tak main-main, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sampai ikut-ikutan mengkritik rencana kebijakan Edhy via Twitter. Gara-gara Bu Susi yang bikin “twitwar” ini, netizen pun ramai-ramai mengkritik rencana kebijakan Edhy pula.

Paling tidak, sampai pada Senin-Selasa malam (16-17 Desember), tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo sempat masuk trending topic di Twitter.

Hadeh, dasar netizen tak tahu diuntung, padahal Edhy Prabowo ini sedang berupaya untuk melakukan terobosan spektakuler di awal-awal periode jadi Menteri Kelautan. Baru juga ditelaah kok udah diserang mulu sih, kapan kerjanya kalau gitu?

Apalagi, menurut Lord Edhy Prabowo, dengan terbitnya aturan soal ekspor benih lobster maka penyelundupan yang merugikan negara bakal nggak ada lagi.

Selama ini, benih lobster selundupan memang dijual ke Vietnam. Maklum, kebutuhan Vietnam akan benih lobster sangat besar. Hm, potensi pasar yang menjanjikan sih memang.

“Mana saja (negara tujuan ekspor), nanti sementara ini kan kita lihat dari pengalaman Vietnam yah. Selama ini yang terjadi kan nggak langsung ke Vietnam, dia lewat perantara penyelundup-penyelundup itu melalui negara lainnya yang terdekat dengan Indonesia,” kata Edhy.

Kebijakan ini sendiri sangat bertentangan dengan aturan Menteri Kelautan pada era Susi Pudjiastuti.

Saat itu Bu Susi melarang ekspor benih lobster karena bisa merusak alam lobster di perairan Indonesia. Oleh karena itu, Edhy sedang melakukan kajian apakah dimungkinkan benih lobster ini bebas dijual-belikan dengan aturan-aturan tertentu.

“Daripada dijual melalui perantara, kenapa nggak langsung? Dengan siapa nanti dijual apakah dengan koperasi atau ke siapa yang tahu. Kemudian langsung ke negara penerima benih daripada lewat perantara lagi, penyelundupan lagi. Kenapa kita nggak fokus pada si pemilik benih ini agar punya harga yang lebih besar?” kata Edhy di lain kesempatan.

Peraturan yang dulu dibikin Susi Pudjiastuti ini memang merepotkan orang-orang progresif seperti Edhy. Dalam aturan disebutkan kalau lobster hanya boleh dijual secara massal jika beratnya sudah di atas 200 gram.

Bahkan, Bu Susi sempat memperketat lagi dengan merivisi aturan ini. Bahwa lobster yang boleh dijual harus memiliki panjang karapas di atas 8 sentimeter dan bobot lebih dari 300 gram.

Meskipun ada aturan ini, pada praktiknya di lapangan, beberapa penyelundupan lobster pun marak. Setidaknya, sepanjang Januari sampai Oktober 2016, angka penyelundupan lobster yang digagalkan mencapai 800 ribu ekor dengan nilai Rp124,8 miliar.

Iklan

Itu angka yang baru digagalkan lho, belum dengan selundupan yang berhasil. Bisa sampai ratusan miliar itu kalau mau ditotal. Nah, coba kalau duit segitu bisa dilegalisasi dan pemerintah bisa dapat devisa atau pajak dari ekspor itu? Kan lumayan ya to?

Oleh karena itu, wajar kalau Edhy merasa tergiur dengan besaran angka untuk pemasukan negara jika penjualan benih lobster ini bisa dilegalkan olehnya. Ini kan logika ajaib yang sangat monumental.

Ketimbang menggalakkan aparat untuk menangkap para penyelundup, lebih baik para maling ini dikasih izin aja sekalian sama negara. Beres kan?

Jadi ketika Menteri Susi Pudjiastuti masih menjabat dulu harus pusing melihat laporan penyelundupan benih lobster, Pak Edhy nanti bisa bangga karena eranya akan bebas dari aksi penyelundupan benih lobster.

Hayaa iya dong, kan udah legal. Jadi nggak perlu diselundupin lagi dooong. Bijimana seeh?

Anu, Pak Edhy, nggak bikin aturan agar kapal nelayan asing bisa masuk secara bebas ke Indonesia sekalian aja nih?

Biar nanti bisa pamer kayak gini—misalnya, “Tuh, lihat, di era saya bahkan tidak ada pencurian ikan di perairan Indonesia. Hebat kan saya? Semua kapal asing yang masuk bukan mencuri, tapi emang kami izinkan dengan bebas. Hehe.”

Benar-benar logika yang mahadahsyat.

Di sisi lain, kenapa benih lobster perlu diizinkan untuk diekspor? Menurut Edhy, infrastruktur di Indonesia belum siap kalau mau melakukan budidaya lobster secara besar-besaran.

“Untuk membesarkan sendiri kan harus dibangun infrastrukturnya. Sambil menunggu ini (infrastrukturnya dibangun), kita kasih kuota (ekspor). Sampai waktu tertentu dia boleh ekspor,” kata Edhy.

Oke, oke, mungkin bakal banyak yang nyerang Pak Edhy. “Ya penyediaan infrastruktur itu kan memang tugas Menteri Kelautan dan Perikanan, Paaaak? Mau kabur dari tanggung jawab ya?”

Lho, lho, jangan salahkan Pak Edhy dulu. Sebagai calon menteri terbaik sepanjang masa di Indonesia, kerjaan blio kan sudah banyak.

Masak iya, satu periode jabatan blio cuma mau dipusingkan untuk bangun infrastruktur pengembangan benih lobster doang sih? Kapan dong kalau mau liburannya? Jalan-jalannya? Memangnya jadi menteri nggak boleh menikmati hidup?

Daripada pusing memikirkan infrastuktur, lebih enak kan langsung mengambil kebijakan yang langsung ada duitnya kan?

Soal lingkungan nanti jadi rusak kan nanti bisa dibicarakan lebih lanjut. Biar itu jadi tugas LSM-LSM peduli lingkungan aja sih. Pemerintah mah yang penting bisa dapat untung instan.

Di sisi lain, Pak Edhy lalu membandingkan rencana kebijakan ekspor benih lobster ini seperti ekspor nikel yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

“Kan banyak komoditas lain yang dilakukan seperti itu? Kayak nikel. Kan dilakukan seperti itu, awalnya boleh diekspor tapi pengusaha harus bikin refinery. Awalnya boleh diekspor tapi pengusaha harus bikin refinery. Ini (ekspor benih lobster) juga sama seperti itu, tapi masih dalam taraf kajian,” tambahnya.

Hal yang langsung kena gaspoool sama Bu Susi Pudjiastuti lewat Twitternya.

Nikel itu benda mati tidak bisa beranak pianak diambil akan habis. Lobster itu mahluk hidup bernyawa, berkembang biak/ beranak pianak. Kita jaga habitat& keberlanjutan bibit2nya di alam pasti Lobster itu akan tetap ada, banyak sepanjang masa untk kita ambil, makan & jual??????

— Susi Pudjiastuti (@susipudjiastuti) December 17, 2019


Yaelah, Bu. Justru karena lobster itu benda hidup, makanya ayo kita ambil sebanyak mungkin benihnya.

Biar apa?

Biar anak cucu kita nanti bisa dapat dongeng yang hebat berpuluh-puluh tahun mendatang. Lalu anak kita melihat gambar-gambar lobster terbaik tanah air itu dari buku-buku dongeng dan pelajaran. Karena lobster-lobster itu udah jadi hewan yang dilindungi karena jumlahnya yang mulai sedikit.

Luar biasa memang visi Pak Edhy. Kelangsungan stok dongeng masa depan Indonesia pun dipikirin lho sama beliau.

Salam Jalesveva Jayamahe Pak Edhy. Di lautan kita pernah jaya.

BACA JUGA Kebijakan ‘Tenggelamkan!’ Susi Pudjiastuti Dihapus atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2019 oleh

Tags: benih lobsteredhy prabowolobsterMenteriprabowoSusi Pudjiastuti
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

19 Juni 2026
Cuti haid: hak pekerja perempuan saat menstruasi tapi diabaikan perusahaan MOJOK.CO

Cuti Haid Jadi Hak Penting Pekerja Perempuan yang Disepelekan Perusahaan: Izinnya Ribet dengan Ancaman SP, Nyeri Mens Dicap Lebay

15 Juni 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.