Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Melepas Anak ke Pesantren

"Duh, anakku gimana ya? Bisa nyuci sendiri nggak ya di pesantren? Di-bully sama temen-temennya nggak ya? Aduh."

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
7 November 2021
A A
Ngelmu Pesantren lan Ngelmu Sekolahan Ora Iso Dibandingke, Kabeh Duwe Keutamaane Dewe-dewe MOJOK.CO

Ngelmu Pesantren lan Ngelmu Sekolahan Ora Iso Dibandingke, Kabeh Duwe Keutamaane Dewe-dewe MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam momen perpisahan orang tua dengan calon santri di pesantren, kamu akan lebih mudah menemukan orang tua yang menangis ketimbang anaknya.

Melepas anak ke pesantren tidak pernah mudah bagi kebanyakan orang tua. Ketimbang rasa khawatir si anak yang ditinggal orang tuanya, sebenarnya perasaan khawatir justru lebih kuat dari sisi orang tua.

Iklan

Saya memang punya pengalaman sebagai anak yang ditinggal di pesantren. Saya pikir, itu adalah salah satu momen mengerikan dalam hidup ini. Usia belum akil balig dan kamu dipaksa keadaan untuk hidup mandiri.

Pada mulanya, sebagai anak-anak yang belum bisa berpikir panjang, anak yang ditinggal di pesantren bisa saja cengengesan. Terutama kalau si anak punya perasaan jadi terbebas dari segala macam aturan orang tuanya di rumah.

“Waaah, akhirnya, aku bisa bebas dari omelan bapak-ibu. Aseeek.”

Namun, situasi tersebut akan berubah ketika menyadari kalau aturan di pondok pesantren ternyata lebih ketat ketimbang di rumah. Rasa kangen itu, sependek pengalaman saya yang waktu kecil dititipkan di pesantren, baru akan terasa empat hari sampai seminggu kemudian.

Rasa kangen ini muncul karena banyak hal. Kamu tak bisa makan sebebas yang kamu mau, teman yang kamu miliki ternyata tidak seasyik yang kamu pikir, kakak kelas yang rese ternyata ada banyak, sampai kegiatan sekolah-ngaji-sekolah-ngaji yang rasanya berlangsung tanpa henti.

Oke baiklah, hal-hal semacam itu memang bakal muncul dari sisi anak, tapi bagaimana dengan sisi bapak-ibunya?

Sejauh pengalaman saya mengantar keponakan, anak teman, sampai kemudian punya anak (yang pada akhirnya menyadari bahwa saya akan melepasnya ke pesantren suatu hari nanti), saya tahu betul betapa berat melepas anak ke pesantren.

Lebih berat lagi kalau orang tua yang melepas anaknya ke pesantren itu juga merupakan santri. Pengalamannya di masa lalu, yang pernah juga merasakan hidup sulit pada hari-hari pertama menjadi santri, menjadi bayangan yang menghantui orang tua pada bulan-bulan pertama memondokkan anaknya ke pesantren.

Menjadi orang tua yang melepas anak ke pesantren terasa semakin berat karena proses pendewasaan anak jadi lebih buru-buru dari biasanya—yang artinya anak jadi mandiri lebih dulu dari temen-temennya. Hal yang sebenarnya juga jadi momok bagi seluruh orang tua.

Soalnya ketika normalnya orang tua merasa ditinggal anak ketika si anak udah kuliah (lalu ngekos luar kota misalnya), keluarga yang punya tradisi memondokkan anaknya ke pesantren akan merasa “kehilangan” anak sejak si anak lulus SD (rata-rata orang tua memondokkan anaknya dari usia segitu).

Oke, memang betul, pada bulan-bulan pertama si anak bakalan nangis, kepengin pulang nggak betah, dan merengek ke orang tuanya. Hanya saja, ketika tahap itu terlewati dan si anak mulai beneran betah di pesantren, si anak bakal terbalik jadi nggak bisa betah lama-lama di rumahnya sendiri.

Si anak ini akan punya jiwa petualang. Hawanya kepengin merantau terus. Bahkan bakal sampai pada satu titik, si anak akan menganggap teman-teman pesantrennya lebih dekat dari keluarga. Ini poin yang sebenarnya juga jadi ketakutan berikutnya bagi banyak orang tua.

Iklan

Makanya, dalam momen perpisahan awal-awal begini, yang biasanya nggak kuat itu ibu dari si calon santri. Si ibu akan menyadari bahwa momen perpisahan itu ya benar-benar pisah beneran.

Si ibu menyadari, dalam beberapa tahun ke depan, si anak tidak akan lagi tergantung lagi pada dirinya. Dan bagi ibu, hal seperti itu cukup berat untuk diterima.

Si anak bisa aja petentang-petenteng santai. Ya karena si anak pada hari-hari pertama kerap kali tak menyadari, kesulitan model apa yang sebentar lagi bakal menyambutnya di pesantren.

Sedangkan si ibu, sudah tentu sangat paham apa yang akan dihadapi anaknya. Oleh karena itu, si ibu biasanya bakal lebih heboh ketimbang si anak yang justru kebingungan dengan sikap orang tuanya.

Si anak mbatin, “Ini bapak-ibuku kenapa sih? Lebay amat deh.”

Lalu dua atau tiga hari kemudian, gantian si anak yang bakal nangis lebay sampai pilek ke orang tuanya.

BACA JUGA Usiamu Baru 25 Tahun dan Kamu Mendadak Jadi Kiai dan tulisan soal dunia SANTRI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2021 oleh

Tags: akli baligdewasamandiriPesantrenpondoksantri
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.