Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kok Bisa Ada Mendoan Garing, Bakpia Kukus, dan Makanan yang Diceraikan dari Identitas Otentiknya?

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
30 Juli 2021
A A
Kok Bisa Ada Mendoan Garing, Bakpia Kukus, dan Makanan yang Diceraikan dari Identitasnya Otentiknya? mojok.co rendng berkuah kalio ayam geprek

Kok Bisa Ada Mendoan Garing, Bakpia Kukus, dan Makanan yang Diceraikan dari Identitasnya Otentiknya? mojok.co rendng berkuah kalio ayam geprek

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kayaknya polemik penyebutan bakpia kukus bakal panjang setelah ramai di medsos. Tenang, bakpia nggak sendirian.

Ini bukan pertama kalinya kita mendengar oleh-oleh khas daerah kena senggol sana-sini. Urusan oleh-oleh khas daerah yang tiba-tiba dinukil kue artis saja masih belum selesai, sekarang urusan kuliner ini makin nggak main-main. Belakangan di medsos, ramai pembahasan soal bakpia kukus yang singkatnya bisa dianggap sebagai “penistaan” sebab si bakpia dipisahkan dari identitas sebelumnya dan dapat identitas baru.

Saya akui, bakpia kukus memang rasanya enak. Nggak ada yang salah dengan cita rasa dan hal ini juga mungkin disetujui sebagian besar orang. Masalahnya,bakpia kukus ini memang nggak layak digolongkan sebagai bakpia dan tiba-tiba saja jadi oleh-oleh khas Jogja. Sebagai orang yang berdomisili di Jogja ketika penganan ini mulai ramai, saya sempat penasaran banget. Memangnya ada gitu cara bikin bakpia dengan dikukus tapi rasanya tetap bakpia? Yuyur, saya pun bela-belain beli dan nyobain. Dengan modal yang nggak murah saya dan beberapa kawan akhirnya beli beberapa rasa seperti cokelat, keju, dan rasa yang masih tertinggal itu. Hash.

Begitu dicoba, jeng jeng jeng…. Kami semua sepakat bahwa bakpia kukus ini kue bolu. Iya, kue bolu. Meski begitu, saya akui rasanya enak meski beberapa teman saya bilang, “Biasa aja, ah.” Dibanding membelinya, saya lebih suka bakpia yang biasa. Harganya juga lebih terjangkau dan jauh lebih mengenyangkan. Tapi, ya gimana, sebab bakpia kukus populer, kawan-kawan saya dri luar kota kerap ingin membelinya dan saya selalu temani. Meski hati kecil saya meletup-letup heran, saya nggak bisa apa-apa. Keresahan ini sebenarnya pernah mengendap dan difermentasikan dengan baik hingga akhirnya salah satu netizen berteriak di Twitter.

Ini enak tapi TIDAK PERNAH ADA SEJARAH CHIFFON CAKE DENGAN TOPPING COKLAT DISEBUT BAKPIA R U EFFIN NUTSS?!?? BAKPIA DI-OVEN, BUKAN DIKUKUSSSSAAARRGHHHHH https://t.co/QHvJlef9M7

— OG-Vaxxed (@ogiklo) July 28, 2021

Selain bakpia, sebenarnya saya juga merasakan keresahan yang sama pada makanan rendang. Yang saya tahu, rendang itu ya nggak berkuah, warnanya pekat, dan hampir nggak bisa dibedain mana daging mana lengkuas sakin butheknya. Tapi, coba lihat dengan wide eyes open, Bung. Orang yang bikin rendang berkuah lebih banyak di Jawa.

Gini gini, saya bukan orang Sumatera Utara, tapi saya mudeng lah bahwa rendang berkuah itu spesies yang beda lagi. Ia kerap disebut kalio karena kayak rendang yang belum jadi, rendang yang belum masak-masak amat. Hampir sama kayak bakpia kukus, rendang dan kalio itu berbeda cara masaknya. Rendang dimasak seharian sampai surut, sampai santannya kering. Sedangkan kalio dibiarkan berkuah gitu aja.

Makanan yang diceraikan dari identitas mereka sendiri itu cenderung menyedihkan. Ini bukan soal, “Lebay ah, tinggal makan aja cerewet amat.” Ini lebih ke pengukuhan identitas si makanan itu sendiri. Makanan khas dan oleh-oleh bukan perkara sepele, mereka kerap jadi representasi daerah dan bagian dari budaya yang ada. Lha soal rendang krispi aja ributnya nggak kelar-kelar kok. Apalagi kalau besok-besok Indomie goreng dibikin berbentuk fusili dan masaknya pakai saus carbonara apa klean masih mau menganggap itu Indomie? Alih-alih dibilang mi goreng dari Indonesia, bisa-bisa Indomie versi fusili dibilang meniru makanan khas Italia. Mamam tuh al dente.

Sudah terlalu sering makanan-makanan kayak bakpia dan rendang dipisahkan dari ciri khas mereka sendiri. Bakpia dipanggang bukan dikukus, rendang itu nggak berkuah. Mendoan juga bernasib sama. Mendoan adalah tempe goreng tepung setengah matang. Namanya aja mendoan, mendo-mendo dipangan. Dalam dialek ngapak itu artinya ‘masih belum matang, sudah dimakan’. Sungguh tega sekali orang yang mengaku jualan mendoan padahal mereka bikinnya tempe goreng tepung. Woy lah, bercanda ya, Bang?

Ada lagi nih makanan yang nggak kalah nelangsa. Ayam geprek yang sudah urbanisasi ke kota. Dengan sentuhan metropolitan, ayam geprek jadi ayam yang ditumplekin sambal di atasnya. Ya sesekali ditumbuk dikit lah biar kelihatan niat. Padahal, cobalah klean blusukan ke warung ayam geprek Bu Rum, Bu Made, Bu Nanik, Pak Topan, dan perhatikan dengan seksama bagaimana mereka menumbuk ayamnya dengan sambal. Ayam geprek adalah ayam yang benar-benar diulek dengan cabai dan bawang sampai bobrok.

Sebetulnya saya nggak pengin berlarut-larut menuntut sampai nantinya dikatain SJW kuliner. Saya cuma pengin menyelamatkan makanan-makanan yang otentik gitu lho. Biar orang-orang nggak memahami dengan ngawur. Soal rasa memang kadang urusan selera, tapi jangan ceraikan makanan-makanan dari identitasnya.

BACA JUGA Ayam Geprek, Sei, dan Makanan yang Kehilangan Jati Diri karena Sentuhan Metropolitan dan tulisan rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2021 oleh

Tags: ayam geprekbakpia kukusgastronomyKulineroleh-oleh Jogjaoleh-oleh khas Jogjarendang
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO
Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO
Kuliner

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.