Menyebut Tempe Goreng Tepung sebagai Tempe Mendoan, Seburuk-buruknya Penghinaan! – Terminal Mojok

Menyebut Tempe Goreng Tepung sebagai Tempe Mendoan, Seburuk-buruknya Penghinaan!

Artikel

Saya kira hampir semua warga negara Indonesia pernah menikmati salah satu makanan khas NKRI yang disebut tempe, mau oseng tempe, tempe krispi, sampai tempe mendoan itu sudah familier. Makanan yang terbuat dari fermentasi kacang kedelai menggunakan jamur kapang ini isunya sudah berumur ratusan tahun dan berasal dari masyarakat Jawa. 

Bahkan pada awal kemunculannya, konon tempe hanya bisa dinikmati oleh kalangan ningrat atau anggota kerajaan, seperti yang tersurat di Serat Centhini. Kalau dulu ada ribut-ribut masalah duit antar anggota kerajaan, mungkin salah satunya akan berujar, “Heh.. gajiku ini buat beli kedelai aja nggak cukup ya jingan”.

Nah, pada era fourtwenty four point one ini, akhirnya tempe sudah bisa dinikmati oleh semua kalangan dikarenakan bergizi tinggi dan harganya yang terjangkau. Saking terjangkaunya, salah satu tetangga saya di Pakem, Sleman, sampai bilang ke istrinya, “Kapaaan bakul tempene mati! Tiap hari kok makan tempe terus.” Nggatheli tenan Pak’e.

Sekarang sudah ada berbagai macam olahan tempe, mulai dari kripik tempe, tempe goreng tepung, tempe bacem, jadah tempe, tempe mendoan, dan varian tempe yang lain. Namun, ada satu hal yang sebenarnya sangat mengganggu dan meresahkan, khususnya bagi saya dan para klan asli Karesidenan Banyumas. Awalnya mungkin levelnya hanya annoying namun lama-lama kok berubah jadi disgusting.

Hal tersebut adalah ketidaktahuan orang-orang dan kewatonan mereka yang menyebut tempe goreng tepung yang kering kriuk itu sebagai tempe mendoan. Nih tak kasih tahu ya. Tempe goreng dan mendoan itu dua hal yang beda ya jingan. Dari namanya saja sudah jelas bedanya, men-do-an. Mendo mendo dipangan. Alias dimakan setengah matang! Ha tempe digoreng kering mateng kok berani-beraninya disebut tempemendoan. Tak laporin ke Ivan Lanin atau Kak Iqbal Aji Daryono tahu rasa kalian!

Apalagi dilihat dari ukurannya. Tempe goreng tepung dan mendoan itu kalau dilihat dari ukurannya sungguh bagaikan langit dan bumi ya. Tempe mendoan yang asli itu ukurannya ya hampir selebar telapak tangan orang dewasa. Iya segitu itu besarnya. Lha kok wani-wanine tempe cuwilik menthik disebut sebagai mendoan. Nggatheli pol!

Selama lebih dari 16 tahun merantau keluar dari Karesidenan Banyumas, sudah tidak terhitung berapa kali saya menahan amarah terhadap para penjual dan pembeli yang menyebut tempe goreng tepung kriuk sebagai mendoan. Sudah berjuta kali saya makan di rumah makan yang di menunya ada tulisan mendoan, tapi pas datang ternyata tempe goreng tepung yang kering dan kriuk itu. Kecewa.

Ibaratnya sudah diumbulke njuk dibanting. Makanya sekarang saya ndak mau berekspektasi tinggi lah nyari mendoan di Jogja ini. Kalau bener-bener lagi kangen mendoan, solusinya ya sampai sekarang cuma satu. Telepon simbok di Banyumas, “Bu, putro waras, tempe mendoane telas. Nyuwun tulung dikirimi.” Biasanya habis itu langsung datang satu kardus tempe yang dibungkus daun dan kertas bekas ulangan. Tinggal digoreng secara mandiri. Senang.

Dan ternyata semakin ke sini saya melihat para pelaku bisnis kuliner itu malah semakin ugal-ugalan dan menjadi-jadi le waton alias ngawur. Suatu waktu saya menggulir menu gofud dan melihat satu menu yang terpampang nyata, “Tempe mendoan cokelat keju isi 3 pcs.” Harganya Rp12.000 kena promo jadi Rp9.600. Ya mungkin niatnya mau semacam inovasi gitu ya. Tapi, ya tolong lah agak beradab mbokan. Masa sambal kecap yang harusnya jadi pasangan tempe mendoan malah disubstitusi dengan cokelat keju?

Lagian kalau mau inovasi tolong yang agak masuk akal lah. Masa keju yang notabene asin ditabrakkan sama cokelat yang manis kayak saya ini? Bisa-bisa Anda dimarahin sama Chef Gordon Aaron Ramsey, Chef Juna, atau Chef Renata lho!

Saya jadi ingat sewaktu empat tahun sekolah di Prancis, betapa warga Prancis ini sangat ketat dalam hal makanan. Nggak ada itu nabrakin asin sama manis. Mencampur asin dan manis hukumnya hampir mirip sama memanggil temanmu dengan nama Bapaknya. Nyebahi. Sampai tiap kali ada pesta, baik di kampus maupun kampung, selalu didata dulu, siapa yang bawa makanan manis, siapa yang asin. Gitu. Meskipun katanya liberté, tetap ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

Nah untuk kasus Indonesia ini, saya rasa sudah saatnya pemerintah daerah Kabupaten Banyumas turun tangan. Sudah 16 tahun saya sebagai warga Karesidenan Banyumas memendam amarah. Tak terbayangkan juga itu perasaan warga Banyumas perantau yang lebih sepuh dari saya. Tentu lebih lama lagi mereka menjaga hati. Masa iya saya harus mati muda gara-gara darah tinggi karena terus-terusan mendengar dan melihat tempe goreng tepung kriuk disebut sebagai mendoan?

Pemerintah Banyumas harus hadir menyelesaikan problematika yang sudah berlarut-larut dan berkepanjangan ini. Jangan sampai generasi emas 2045 sudah tidak bisa merasakan dan menikmati tempe mendoan yang setengah matang, masih ada minyaknya, dan disajikan selagi hangat dengan sambal kecap itu…. Udah nggak bisa bahasa Banyumasan, nggak tahu mana yang benar-benar mendoan. Angel wes angel.

Dan bagi para warga, bertobatlah segera. Mungkin murka kami tak ada artinya bagi kalian. Tapi, kalau sampai Tuhan marah gara-gara kalian menyebut tempe goreng kering kriuk sebagai mendoan, kan nggak lucu to?

BACA JUGA Turunkan Harga Tempe Tahu atau Rezim Ini Tumbang! dan tulisan Bachtiar Mutaqin lainnya.

Baca Juga:  Nasi Goreng Paling Enak Tercipta dari Olahan Nasi Sisa Semalam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.