Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kenyataannya, ‘Semesta Bekerja untukmu’ Bukan Sesuatu yang Romantis-Melankolis

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
16 Januari 2020
A A
semesta bekerja untukmu rumah kosong kobra ulat bulu kehancuran dunia mojok.co

semesta bekerja untukmu rumah kosong kobra ulat bulu kehancuran dunia mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kondisi kita yang tidak baik-baik saja adalah pertanda dunia yang tidak baik-baik saja. Lihatlah apa yang terjadi dengan dunia sekarang, masihkah kamu bisa menganggap “semesta bekerja untukmu” sebagai kalimat yang manis?

Semesta bekerja dan ia mendatangkan ular kobra ke pemukiman. Semesta bekerja dan kini ia mengganti ular kobra dengan ulat bulu. Iya, mulanya ini tentang teror ular kobra yang sudah lewat dan sekarang berganti dengan teror ulat bulu.

Waktu kobra pada bermunculan di sejumlah wilayah di Jawa, ahli reptil yang diwawancarai media mengatakan, memang dasarnya musim hujan tuh adalah saat telur kobra menetas. Terus sekarang musim hujan juga jadi alasan sebagai waktunya ulat bulu syut-syut-syut, merayap ke dinding-dinding rumah.

Pertemuan hewan-hewan ini dengan manusia melampaui perkara horor dan ketakutan. Misalnya, ada pembahasan bahwa wilayah-wilayah kemunculan kobra adalah lokasi yang dulu persawahan dan semak-semak habitat ular yang kemudian dirambah menjadi pemukiman.

Di sini, kobra kemudian yang jadi korban yang tak bisa disalahkan. Sudah tergusur, sekarang dianggap teror. Padahal dia cuma bingung karena kehilangan rumah. Nasib kobra cuma melanjutkan nasib harimau, gajah, badak, orang utan, ubur-ubur, badak. Mereka masuk pemukiman dan bikin manusia ketakutan karena salah manusia sendiri, sudah menjarah makanan dan rumah mereka. Bagi hewan-hewan itu, bukan semesta yang bekerja, tapi manusia.

Buat membetulkan cara pandang kita, Garda Satwa Indonesia sampai bikin postingan Facebook.

“Kepada media-media di Indonesia, stop memberitakan seolah hewan-hewan ini meneror hidup manusia.

“Tempat mereka memang di hutan, manusia yang ambil tempat tinggal mereka, merusak habitatnya, lalu manusia pula yang bertingkah seolah manusia korbannya dan hewan-hewan ini penjahatnya.

“Taman nasional banyak hancur dikeruk isinya, untuk tambang, diambil kayunya, setelah dirusak, ditinggalkan dan membuka lahan baru lagi tanpa perbaikan. Sekitar 100 juta hektar hutan Indonesia gundul, dan kalian masih menuding hewan-hewan ini penjahatnya?“Ayo pemerintah, jalankan UU konservasi. Rawat hutan Indonesia beserta isinya, itu tugas negara. Tak melulu mementingkan kesejahteraan manusia dan pembangunan ekonomi. Semua harus seimbang, tinggal ini sisa kekayaan kita untuk Indonesia di masa mendatang.”

Sungguh masalah yang mestinya bikin aww malu bangt.

Tapi bukan cuma itu (astaga, saking seringnya menuliskan kata ini di Mojok, saya sampai merasa diksi ini klise).

Cermati berita-berita kemunculan kobra dan ulat bulu, maka Anda akan menemukan pengakuan warga bahwa hewan-hewan ini berkembang biak di rumah kosong dalam satu pemukiman.

Pikiran saya sekarang melayang ke rumah-rumah kosong itu. Rumah tipe sederhana di kompleks murah, rumah gedongan yang senantiasa menyala lampunya karena tak berpenghuni, rumah-rumah dengan tulisan dijual/dikontrakkan yang tak kunjung dicopot plangnya selama berbulan-bulan.

Ternyata berkaraoke, bersenda gurau dengan teman dan keluarga, atau ngakak-ngakak saat melihat postingan lucu memang cuma pelarian. Semesta bekerja dan kenyataan yang disodorkan bukan sebuah dunia yang baik-baik saja. Kita hidup dalam skema ekonomi, sosial, dan politik yang rumit. Maksud saya, hampir mustahil menyalahkan orang yang berinvestasi pada rumah dan tanah bermodal uangnya yang tak seberapa. Itu satu-satunya cara bisa hidup dengan aman di usia tua, setelah puluhan tahun banting tulang.

Iklan

Tapi orang-orang kaya tetap punya dosa lebih besar. Mereka menikmati kekayaan untuk mengongkosi kesenangan tak penting dan tak masuk akal macam tiap bulan harus pelesir ke luar negeri atau makan makanan langka. Dan untuk mendapakan kekayaan itu, mereka mengeruk sumber daya alam dan mengeksploitasi tenaga kerja.

Setengah kekayaan yang ada di Indonesia dimiliki orang 1% penduduk. Di ujung sana ada kekayaan ekstrem, di ujung sini ada kemelaratan yang mencekik manusia dan hewan dan tumbuhan.

Analisis penyebab banjir Jakarta ini adalah contoh bagaimana semua orang memang punya kontribusi pada bencana, tapi orang kaya punya peran berkali lipat. Masuk akal mengapa banyak ajaran religius dan filsafat melarang orang menjadi terlalu kaya.

Masalah-masalah dunia memberi dampak sampai ke sisi paling pribadi kita. Lalu kita gundah. Lalu kita disodori kalimat itu:

“Biarkan semesta bekerja untukmu.”

Semesta menjawabnya dengan banjir, kebakaran, pencairan es, topan, gelombang udara panas, dan seterusnya, dan seterusnya.

BACA JUGA Melihat Semesta Bekerja seperti Lirik Lagu Kunto Aji atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2020 oleh

Tags: Investasikobrarumahsemesta bekerjaulat bulu
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO
Kilas

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.