Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kemenangan Mahathir Mohamad Menginspirasi Fahri Hamzah

Ikhwan Hastanto oleh Ikhwan Hastanto
14 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kemenangan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia membangkitkan motivasi sendiri pada Fahri Hamzah dan Fadli Zon atas kemungkinan berjayanya Prabowo di pemilu Indonesia 2019.

Kemenangan Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia dekade 1981-2003, di Pemilu Malaysia langsung menjadi perbincangan jagat global. Selain sudah berumur 92 tahun, Mahathir juga mampu meruntuhkan kekuasaan Barisan Nasional milik Najib Razak yang telah berkuasa lebih dari 60 tahun. Tidak hanya diperbincangkan, kemenangan ini juga menjadi inspirasi banyak pihak, tak terkecuali untuk duet wakil rakyat paling comel yang negara ini punya, Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Kemenangan Mahathir Mohamad ini, kata Fahri, bisa menjadi inspirasi Prabowo Subianto dalam memenangkan Pemilu 2019. Wakil Ketua DPR RI tersebut berujar bahwa kekuasaan yang nampak begitu kuat dan mengontrol saja bisa tumbang dalam waktu singkat. Apalagi, yang kekuasaannya belum terlalu kuat, terlihat centang perenang, dan galau (yang saya yakin dia maksudkan untuk menyindir pemerintahan Jokowi). Astaga, centang perenang lho! Betapa kaya akan kosakata dirimu, Pak.

Pernyataan senada juga diungkapkan sejawatnya, Fadli Zon. Namun, karena sama saja, lebih baik kita loncati. Mari mulai menghargai waktu.

Pertanyaan yang lebih menarik untuk dianalisis daripada “centang perenang” adalah: apakah benar keadaan yang terjadi di Malaysia bisa terjadi di Indonesia pada pemilu tahun depan?

Saya paham bahwa situasi di Malaysia dan Indonesia, semirip apa pun kejadiannya, tidak bisa serta-merta dijadikan perbandingan dalam satu level analisis. Tapi, jawaban dari kemungkinan kekalahan serupa dalam pemerintahan Jokowi bisa sedikit diselidiki dari situasi yang dialami Najib menjelang kekalahan dalam Pemilu; apakah Jokowi berada pada situasi yang sama?

Skandal Korupsi 1MDB

Alasan paling kentara dari tumbangnya rezim Najib adalah skandal korupsi yang menjeratnya. Menurut Adriana Elisabeth, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), masyarakat Malaysia sudah tidak mampu menolerir skandal korupsi 1MDB (Malaysia Development Benhad) yang melibatkan petahana tersebut. Mahathir sendiri menyatakan bahwa skandal inilah yang membuatnya gerah untuk maju sebagai oposisi di umur 92 tahun. Padahal, bisa jadi karena dia belum mandi.

Putri Najib Razak dan Rosmah Mansor, Azrene Ahmad, bahkan secara terang-terangan menentang orang tuanya dan mengajak masyarakat untuk memilih Mahathir Mohamad. Alasannya, Azrene sudah muak menyaksikan tindakan korupsi yang dilakukan kedua orang tuanya itu. Menurut penyelidik asal AS, skandal 1MDB telah mencuri dan mencuci uang negara hingga 4,5 miliar dolar atau setara 62 triliun rupiah, sedangkan 700 juta dolar masuk ke rekening pribadi Najib.

Dari sini kita bisa lihat bahwa untuk menumbangkan sebuah rezim, entah yang telah berkuasa 60 tahun atau yang elektabilitasnya sampai 60%, dibutuhkan sebuah catatan kriminal berat milik si calon. Inilah yang perlu dicari oleh Fahri dan Fadli (loh kok kalau namanya disandingkan begini jadi mirip anak kembar).

Sebaiknya, dari sekarang, mereka berdua harus mencari-cari tindakan kriminal berat Presiden Jokowi: entah korupsi, entah genosida, pokoknya harus dicari. Penumbangan rezim kemungkinan terjadi apabila masyarakat kehilangan kepercayaan atas kesalahan pemimpin di masa lalu.

Sayang, sampai saat ini, tindakan kriminal berat yang terjadi adalah korupsi e-KTP yang justru menimpa kompatriot mereka sendiri.

Undang-Undang Berita Palsu

Najib Razak kembali membuat blunder ketika mengesahkan Undang-Undang Melawan Berita Palsu, April lalu. UU ini diduga disahkan untuk menghindarkan Koalisi Barisan Nasional dari berita yang memojokkan pemerintah, terkhusus skandal 1MDB. Denda sebesar 123 ribu dolar dan penjara 6 tahun akan diberikan kepada orang yang menyebarkan berita yang dianggap palsu.

Iklan

Kecaman dari berbagai pihak terjadi. Salah satunya datang dari R. Sivarasa, seorang pengacara dan aktivis kemanusiaan asal Malaysia. Sembari mengecam, ia menyindir pemerintah yang mengaku menjamin “kebebasan berpendapat”, tapi tidak menjamin “kebebasan setelah berpendapat”.

Melihat Indonesia, apakah pemerintahan Jokowi melakukan opresi terhadap media yang mengkritisi pemerintah? Jelas tidak. Kalau iya, akun pribadi Fahri Hamzah dan Fadli Zon pasti sudah binasa. Selama bacot dua orang ini masih eksis, poin ini juga gugur.

Kebijakan Rasial

Pada April 2017, Najib mencanangkan program berjudul Bumiputera Economic Transformation Roadmap (BETR) 2.0. BETR adalah kebijakan pemerintah yang menggiring pengusaha pribumi (di Malaysia disebut “bumiputera”) untuk mendapatkan “bagian” lebih banyak. Tidak hanya pengembang, masyarakat juga merasakan hal serupa. Satu contoh: pengembang properti diperintahkan untuk memberikan diskon khusus kepada pembeli pribumi.

Hal ini membuat penduduk Malaysia beretnis Cina dan India memilih untuk meninggalkan pekerjaan birokrasi (juga sekolah dan universitas). Mereka juga memilih bekerja di institusi dan sektor swasta. Bahkan, banyak penduduk etnis Cina dan India kemudian meninggalkan Malaysia yang menyebabkan pelemahan pertumbuhan ekonomi. Tentu saja, kebijakan ini berimbas pada hilangnya suara Najib dari etnis di luar pribumi.

Pada bagian ini tentu Fahri dan Fadli perlu berpikir ekstra keras. Di bagian mananya, ya, Jokowi rasis? Untuk masyarakat Papua yang rentan tindakan rasis, Jokowi sudah menerapkan BBM satu harga. Untuk etnis Tionghoa, meminjam perspektif oposisi, mana mungkin, sih, Jokowi anti-China? Blio kan komunis. Lha, emang komunis berasal dari China? Ya, mana tau.

Boleh-boleh saja, sih, Fahri dan Fadli menjadikan kemenangan Mahathir sebagai inspirasi Prabowo memenangkan pemilu. Tapi, melihat tidak adanya kesamaan situasi yang dialami Jokowi dan Najib, mungkin keinginan dua punggawa DPR tersebut masih berpeluang menjadi centang perenang. Eh, bener gak cara penggunaannya, Om Fahri?

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2018 oleh

Tags: Fadli ZonFahri Hamzahjokowimahathir mohamadNajib Razakpemilu malaysiaprabowo
Ikhwan Hastanto

Ikhwan Hastanto

Artikel Terkait

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO
Kilas

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.