Coba perhatikan jalanan, baik di kota besar maupun perkampungan. Motor apa yang paling sering melintas dan tertangkap mata kalian? Saya yakin motor Scoopy jadi salah satunya. Entah keluaran lama atau baru, motor produksi Honda ini hampir selalu ada di mana-mana.
Mengutip berbagai sumber, Scoopy menjadi salah satu motor keluaran Honda yang paling laris di pasar, nomor dua setelah BeAT. Bahkan, disebut-sebut sebagai tulang punggung penjualan Astra Honda Motor sejak pertama kali meluncur pada 2010. Penjualannya diklaim bisa mencapai 1 juta unit per tahun, atau sekitar 20% dari total penjualan. Tak heran jika motor ini begitu mudah ditemui di jalanan.
Sebagai orang yang mementingkan tampilan kendaraan, rasanya saya memahami kenapa motor ini digemari banyak orang. Pertama, tampilannya yang mengusung desain retro ala Vespa dengan warna-warna begitu unik dan menarik. Di jalanan, kendaraan ini bisa mencuri perhatian. Kedua, Scoopy semacam punya track record yang panjang di pasar motor matic dengan gaya retro. Istilah marketing-nya, Scoopy sudah jadi top of mind di benak orang-orang. Itu mengapa, bagi orang awam otomotif, motor ini sempurna.
Akan tetepi, ada sisi kurang menyenangkan dari motor yang terlalau pasaran seperti Scoopy. Salah satunya, risiko tertukar saat parkir. Itulah yang dialami teman saya. Dia menggunakan Scoopy putih keluaran 2023, warna yang sangat umum. Saat parkir di tempat umum seperti mal atau pasar, sering kali dia kebingungan karena banyak Scoopy serupa terparkir. Bahkan, beberapa kali motornya hampir tertukar saking miripnya.
Itu baru satu sisi. Teman saya mengeluhkan hal lain setelah kurang lebih 3 tahun mengendari motor pasaran satu ini:
Kenyamanan motor Scoopy tak seharum namanya
Keluhan ini cukup umum. Tidak hanya teman saya, banyak netizen di media sosial juga mengungkapkan hal serupa: motor ini terasa kurang nyaman, terutama untuk pembonceng. Duduk di bangku belakang terasa kurang mantap dan bisa membuat tulang ekor serta punggung pegal, apalagi untuk perjalanan jauh. Bahkan, salah satu penulis Mojok pernah menceritakan, membonceng di Scoopy berpotensi besar untuk jengkang.
Masalah lain, Scoopy tidak dilengkapi engkol. Jadi, ketika motor mogok karena starter bermasalah, tidak ada alternatif selain mencari bantuan atau membawanya ke bengkel. Berbeda dengan motor lain yang masih menyediakan engkol sebagai jaga-jaga starter ngambek.
itu mengapa, motor Scoopy kurang cocok untuk pengguna yang tidak rutin servis, terutama dalam hal pengecekan aki. Jika aki bermasalah, risiko mogok di jalan jadi lebih besar.
Fitur keyless memang canggih, tapi tetap ada celah kekurangannya
Fitur keyless memang terlihat modern dan praktis, terutama bagi yang sering lupa menaruh kunci. Namun, fitur ini juga punya kelemahan. Pengguna harus selalu waspada terhadap kondisi baterai remote. Jika baterai melemah, motor bisa sulit dioperasikan.
Seperti teknologi pada umumnya, tidak ada yang benar-benar sempurna. Fitur ini memang membantu, tapi juga bisa merepotkan jika tidak diperhatikan dengan baik. Salah satu tulisan Mojok pernah membahasnya dengan apik dan lengkap dengan judul Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan.
Kelemahan lain datang dari faktor eksternal yakni citra pengendaranya. Tak jarang pengguna Scoopy diasosiasikan dengan perilaku berkendara yang kurang tertib. Misal, di beberapa daerah motor ini identik dengan anak muda yang gemar bonceng tiga atau aksi ugal-ugalan. Akibatnya, motor ini kadang mendapat label negatif di masyarakat.
Itulah beberapa sisi kurang menyenangkan dari Scoopy. Motor ini secara nama terdengar harum, tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Kalian para pengguna Scoopy, pernah mengalami hal serupa atau punya keluhan lain?
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














