Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Febri Diansyah Bikin Satire Napi Koruptor Jadi Pimpinan KPK, Kira-kira Siapa Kandidatnya?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 Agustus 2021
A A
pimpinan kpk
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mantan Jubir KPK, Febri Diansyah, mencoba berandai-andai kalau koruptor dijadikan Pimpinan KPK, siapa kandidatmu?

Tidak biasanya Febri Diansyah bersuara agak keras ketika akan mengkritik suatu pihak, tapi kali ini, karena sudah cukup geregatan barangkali, mantan Juru Bicara KPK ini akhirnya mengeluarkan jurus sindiran ke lembaga tempat ia dulu bekerja.

Iklan

“Ke depan perlu terobosan lebih berani. Bukan hanya menjadikan eks napi koruptor sebagai penyuluh antikorupsi, tapi menjadikan mereka Pimpinan KPK. Siapa kandidatmu?” kata Febri melalui akun Twitternya.

Sindiran ini bermula dari munculnya kabar KPK akan meminta tolong mantan koruptor sebagai penyuluh anti-korupsi. Meski pada akhirnya pihak KPK mengklarifikasi bahwa tak semua mantan korupsi otomatis bisa jadi penyuluh anti-korupsi.

Ada beberapa seleksi yang harus diikuti oleh mantan napi korupsi jika bersedia menjadi penyuluh anti-korupsi. Seleksi ini menurut KPK akan memakai berbagai aspek, salah satunya aspek psikologi.

Meski mendapat tekanan keras dari masyarakat soal ide yang sangat beyond ini, KPK tetap bergeming dengan argumentasi: semua pihak perlu dilibatkan dalam pemberantasan korupsi, bahkan termasuk koruptor itu sendiri. Hm, sebuah kredo yang sangat menggetarkan.

Dari ide tersebut, saya rasa, saya pun merasa perlu mengusulkan beberapa nama yang dirasa cukup punya kapasitas sebagai sosok penyuluh anti-korupsi. Menimbang dengan kasusnya terdahulu dan kemampuannya yang luar biasa. Bahkan tidak sekadar penyuluh, tapi mengamini kata Febri Diansyah, sekalian aja jadi pimpinan KPK.

Setya Novanto

Setya Novanto jelas harus berada di posisi pertama sebagai kandidat Pimpinan KPK, atau seminimal-minimalnya sebagai penyuluh anti-korupsi kalau blio nanti bebas.

Bukan apa-apa, Setya Novanto jelas merupakan praktisi korupsi paling yahud. Tidak hanya soal kampanye anti-korupsi, tapi juga berpotensi ikut serta membantu proses penyelidikan atau penyidikan.

Misalnya, salah satu hal yang kerap kali dijadikan alasan terduga koruptor adalah sakit. Nah, pada bagian ini, KPK tak perlu memakai jasa tenaga kesehatan atau dokter, cukup dengan memanggil Setya Novanto. Minta blio yang menilai, kira-kira ini penyakitnya rekayasa atau betulan.

Sebagai sosok paling niat dan nekat ketika memakai alasan yang sama (dulu), Setya Novanto pantas kiranya meledek koruptor lain yang berpura-pura sakit ketika akan disidang, “Halah, amatir!”

Tentu sambil bisikin ke para tersangka, bahwa ngapain repot-repot merekayasa kasus kalau di penjara bisa ena-ena karena dapat fasilitas mewah. Dengan informasi-informasi seperti itu, saya yakin bakal banyak tersangka korupsi yang rela masuk penjara ketimbang bayar pengacara mahal-mahal.

Djoko Tjandra

Kandidat terbaru untuk posisi penyuluh anti-korupsi atau sekalian kandidat Pimpinan KPK berikutnya jelas, Djoko Tjandra. Sebagai koruptor kelas kakap, Djoko Tjandra bisa dibilang seperti mafia dalam urusan suap-menyuap penegak hukum.

Terhitung ada dua Jenderal Polri dan satu pegawai Kejaksaan yang terbukti menerima suap dari Djoko Tjandra. Kongkalikong yang membuat Djoko Tjandra bisa melenggang kabur ke luar negeri, sebelum akhirnya harus diciduk ketika balik lagi ke Indonesia dengan tiga kasus besar: korupsi Bank Bali, penyuapan ke penegak hukum, dan pemalsuan dokumen.

Iklan

Keajaiban Djoko Tjandra bahkan tidak berhenti di sana. Dengan tiga kasus besar itu, Djoko Tjandra pun mendapat vonis hukuman yang relatif sangat ringan, yakni 4,5 tahun. Sampai akhirnya Djoko Tjandra minta banding dan hukumannya diperingan lagi jadi 3,5 tahun.

Kemampuan Djoko Tjandra dalam mempermainkan hukum di Indonesia ini perlu kiranya diapresiasi ke tempat tertinggi. Hal ini membuktikan bahwa Djoko sangat paham di titik mana saja penegak hukum di Indonesia sangat lemah untuk disuap.

Kolaborasi ini tentu saja bakal jadi duet maut, karena problem utama pemberantasan korupsi di negeri ini sebenarnya bukan terletak pada pejabat-pejabatnya, melainkan lebih ke aspek penegak hukumnya. Setidaknya, premis ini sudah dibuktikan dengan kelakuan Djoko Tjandra selama ini.

Cuma sayangnya, kalau KPK mau memakai jasa Djoko Tjandra, sepertinya mereka harus siap berebut dengan Kejaksaan yang kayak ngebet banget kasusnya ada di lembaga mereka. Maklum kasus Djoko ini belakangan terkesan kayak nggak tersentuh KPK, selain urusan supervisi di awal-awal doang.

Ya gimana, blio ini itung-itung aset negara jeh. Aset yang menunjukkan betapa ambruknya penegakan hukum kita.

Juliari Batubara

Tak perlu kalimat berbusa-busa untuk meyakinkan KPK agar mau merekrut sosok satu ini sebagai penyuluh anti-korupsi atau kandidat Pimpinan KPK masa depan. Yang terbaru blio bahkan mampu menghindari risiko tuntutan hukuman mati, dengan hanya perlu menjalani vonis 12 tahun penjara.

Kelihaian ini tentu bisa menjadi alat yang baik bagi KPK untuk menghadapi terduga korupsi yang lagi buron. Untuk menangani kaburnya Harun Masiku contohnya, cukup minta tolong Juliari untuk nasihatin ke Harun kayak gini misalnya…

“Ngapain sih kabur-kabur segala? Disidang juga cuma gitu-gitu doang. Vonisnya juga paling segitu-segitu doang. Kalau di penjara juga masih enak. Kamu nggak lihat video tayangan sel mewah Pak Setnov? Nggak punya tipi apa? Tenang, nanti di penjara ada kok.”

BACA JUGA Mendukung Langkah KPK Menggandeng Napi Koruptor dalam Program Penyuluhan Antikorupsi dan rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: Djoko TjandraFebri DiansyahHarun Masikujuliari batubarapimpinan KPKSetya Novanto
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Febri Diansyah Benar, Siapa Saja Berhak Dibela Secara Objektif, Meski Bandit Sekalipun MOJOK.CO
Esai

Febri Diansyah Benar, Siapa Saja Berhak Dibela Secara Objektif, Meski Bandit Sekalipun

29 September 2022
Ternyata Hanya Indomie yang Bisa Memahami Politik Rebus Bu Megawati
Esai

Ternyata Hanya Indomie yang Bisa Memahami Politik Rebus Bu Megawati

28 Maret 2022
Surat Balasan untuk Surat Terbuka Irjen Napoleon Bonaparte yang Aniaya Muhammad Kece MOJOK.CO
Pojokan

Surat Balasan untuk Surat Terbuka Irjen Napoleon Bonaparte yang Aniaya Muhammad Kece

20 September 2021
Pojokan

Membayangkan Sikap Kemenkumham kalau yang Terbakar Adalah Lapas Koruptor

11 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.